Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #13

Chapter 12 : Jalan yang sama (Bagian 2)

Rose memperhatikan peta di atas meja beberapa saat sebelum akhirnya menunjuk satu titik kosong di formasi Imperial Knight.

“Rencana lu memang terdengar bodoh,” gumamnya dengan nada setengah kesal. “Tapi karena ini rencana lu, gue bahkan nggak tahu harus protes dari mana.”

Ia menggeser jarinya sedikit di peta, lalu menatap Ren.

“Tapi ada satu hal yang kelewat, Ren. Olivier Galliard.”

Ruangan menjadi sedikit lebih hening.

“Kapten lu dari Tim Sigma itu,” lanjut Rose. “Dia sudah gabung sama Imperial Knight buat ujian ini. Gue sempat dengar rumor itu.”

Ia melirik Julia.

“Lu dapat laporan itu juga, Ka?”

Julia mengangguk pelan.

“Benar, Ren,” katanya serius. “Dengan Olivier bergabung, jumlah mereka menjadi lima orang. Artinya lima lawan empat.”

Ia menatap peta di atas meja, lalu kembali menatap Ren.

“Dengan tim dadakan seperti ini, kemungkinan kita kalah jauh lebih besar.”

Ren tidak langsung menjawab.

Ia melipat tangannya di dada dan menutup mata sejenak, mencerna informasi baru itu. Keputusan Olivier untuk bergabung dengan Imperial Knight sebenarnya cukup masuk akal. Setelah Olivier secara terbuka menantangnya dalam ujian kali ini, Olivier jelas tidak akan melewatkan kesempatan itu. Di sudut ruangan, Damian yang memperhatikan sahabatnya hanya menyeringai kecil. Ia sudah bisa menebak jawaban Ren bahkan sebelum cowok itu membuka mulut.

“Tapi kemungkinan itu tidak nol,” ujarnya dingin.

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Dan bukan berarti kita akan mati kalau gagal di sini.”

Udara di ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.

Nada suara Ren terlalu tenang untuk seseorang yang sedang membicarakan pertarungan. Ia melanjutkan tanpa mengubah ekspresi.

“Kalau harus jatuh berkali kali, tubuh remuk, atau tulang patah, tidak masalah.”

Tatapannya menajam.

“Selama kita menang.”

Ia mengetuk peta sekali dengan jarinya.

“Kalau menghancurkan tubuhmu sendiri bisa menghabisi musuhmu, maka saya akan melompat lebih dulu.”

Rose membeku beberapa detik sebelum akhirnya berteriak keras.

“Lu gila!”

Ia menunjuk Ren dengan wajah tidak percaya.

“Itu namanya bunuh diri!”

Ren bahkan tidak berkedip.

“Gagal berarti mati, Rose,” jawabnya datar.

“Itu saja.”

Julia terdiam mendengar kalimat itu. Berbeda dengan Rose, ia justru mengerti maksud di balik kata kata Ren. Bagi Ren, pertarungan bukanlah simulasi seperti yang diajarkan di Academy. Ia adalah seorang mercenary yang telah melewati cukup banyak medan tempur untuk mengetahui satu kebenaran sederhana. Satu kesalahan kecil bisa berarti kematian. Setiap misi selalu memiliki kemungkinan gagal. Dan kegagalan di dunia itu sering kali berarti tidak ada kesempatan kedua.

Para siswa di Legion Academy masih ditempa sebelum benar benar terjun ke medan perang. Mereka belajar melalui duel latihan, simulasi taktik, dan ujian yang selalu memiliki sistem pengaman. Ren tidak pernah memiliki kemewahan itu. Bagi dirinya, setiap pertarungan selalu nyata. Selalu hidup dan mati.

Julia sudah mempelajari rekaman pertandingan Delta 4 melawan Tim Sigma dengan sangat teliti. Ia memperhatikan setiap gerakan Ren, setiap kuda-kuda yang ia ambil, setiap ayunan pedangnya. Semuanya jelas. Ren bertarung dengan niat membunuh. Bukan sekadar mengalahkan lawan. Niat itu terlalu berbahaya bagi seorang siswa Academy.

Untung saja Legion Academy menggunakan kalung sihir yang mampu menghentikan serangan fatal dengan memindahkan peserta yang kalah sebelum pukulan mematikan benar benar terjadi. Tanpa perlindungan itu, Emilio kemungkinan besar sudah mati di tempat. Dan bukan hanya Emilio.

Sharian.

Tharex.

Ashby.

Bahkan adik Rose adik Julia sendiri.

Semua dari mereka pernah berada dalam jarak satu ayunan sabit kematian ketika menghadapi Ren. Julia menyadari sesuatu saat itu. Bagi siswa lain, ujian ini hanyalah sebuah pertandingan. Namun bagi Ren… Ini merupakan pertarungan hidup dan mati.

“Justru itu yang seru.”

Damian memotong pembicaraan dengan senyum lebar. Senyum itu tidak ramah, lebih mirip ekspresi seseorang yang benar-benar menikmati kekacauan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu melipat tangan di belakang kepala dengan santai.

“Situasi paling enak itu justru waktu lu hampir kalah,” lanjutnya ringan. “Saat lu sudah terpojok… semua jalan keluar kelihatan tertutup… dan semua orang yakin lu bakal tumbang.”

Matanya menyipit sedikit.

“Terus tiba-tiba lu menang.”

Senyum di wajahnya berubah menjadi lebih liar.

“Rasanya jauh lebih manis.”

Rose menatap Damian dengan ekspresi tidak percaya. Ia sempat membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang langsung keluar. Beberapa detik kemudian ia hanya menunjuk pria itu dengan kesal.

“Serius deh… lu juga sama gilanya.”

Damian hanya mengangkat bahu santai, seolah itu pujian. Di sisi lain meja, Altheya tidak ikut menyela. Sejak tadi ia hanya memperhatikan Ren dengan tenang. Tatapannya lembut mencoba memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rencana pertempuran di atas meja itu.

Akhirnya ia berbicara.

“Hidupmu benar-benar keras ya, Ren.”

Suaranya tidak bernada kasihan. Tidak ada simpati berlebihan di dalamnya. Hanya sebuah pengakuan yang jujur. Ren tidak menanggapi. Ia tetap menatap peta di depannya. Altheya melanjutkan dengan tenang.

“Aku tidak akan mengatakan banyak hal tentang itu.”

Ia menggeleng pelan.

“Karena aku tahu tidak ada kata kata penghibur dari aku yang benar benar bisa sampai kepadamu.”

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Ren sedikit mengangkat pandangannya. Altheya sudah menatapnya. Namun kali ini senyum kecil muncul di wajahnya.

“Tapi ada satu hal yang bisa aku katakan.”

Ia berhenti sejenak.

“Aku percaya padamu.”

Ruangan kembali sunyi. Rose mendecak pelan, sementara Damian hanya tertawa kecil seperti seseorang yang sudah melihat adegan serupa berkali-kali dalam hidupnya. Ren sendiri tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Altheya beberapa detik… lalu kembali mengalihkan pandangannya ke peta.

“Kepercayaan tidak akan membantu kita menang,” katanya akhirnya dengan nada datar.

Setelah jeda singkat, ia menambahkan,

“…tapi itu tidak buruk untuk dimiliki.”

Damian langsung menyeringai lebar.

“Wah wah… mulai lagi nih si lady killer,” godanya. “Ingat loh Ren, sudah berapa wanita yang lu bikin patah hati.”

Ren melemparkan tatapan jengkel ke arahnya.

“Diam lu. Siapa juga lady killer, bego.”

Damian hanya tertawa kecil. Suasana ruangan yang sebelumnya tegang perlahan mencair oleh godaan itu. Bahkan Rose sempat menghela napas panjang pasrah menghadapi dua orang ini, namun perlahan percakapan mereka tidak sekelam beberapa menit yang lalu. Namun Damian jelas belum selesai. Ia menyipitkan mata sambil menatap Altheya dari atas sampai bawah dengan ekspresi menilai.

“Kalau dipikir-pikir,” katanya santai, “si kuping panjang ini juga lumayan cantik, Ren.”

Ia menoleh pada Ren dengan senyum nakal.

“Lu embat aja sana. Satu tim masa nggak pernah lu ajak kencan.”

Kalimat itu langsung membuat suasana kembali membeku. Altheya yang tadi terlihat tenang mendadak memerah. Pipinya berubah warna semerah tomat matang, entah karena malu atau karena marah dan ia melotot ke arah Damian.

“Kuping panjang!? Dari tadi kata katamu kasar sekali. Dasar binatang!”

Suaranya naik satu oktaf, dengan tatapan yang menyala tajam.

Damian malah tertawa semakin keras.

“Wah galak juga.”

Rose menepuk pelipisnya sambil menghela napas panjang.

“Ya ampun… satu ruangan isinya orang gila semua.”

Di tengah keributan kecil itu, Ren hanya menghela napas panjang sambil memperhatikan Damian dan Altheya yang masih berdebat. Tanpa sadar, sebuah memori lama terlintas di benaknya. Memori tentang tiga orang gadis yang sering bertengkar satu sama lain di hadapannya. Suara mereka yang saling membalas ejekan… Damian yang biasanya menjadi sasaran kemarahan mereka… dan dirinya yang hanya bisa berdiri di tengah semua kekacauan itu.

Sudut bibir Ren sedikit terangkat sebuah senyum kecil yang hampir tidak terlihat. Namun senyum itu tidak bertahan lama. Kesadaran perlahan kembali. Itu hanya kenangan lama. Sesuatu yang sudah berlalu… dan tidak akan pernah kembali.

“Ren?”

Suara Rose menariknya kembali ke ruangan itu. Ia menatap Ren dengan sedikit khawatir, jelas menyadari perubahan singkat pada ekspresinya. Ren berkedip pelan, lalu mengalihkan pandangannya.

“Nggak ada apa-apa.”

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, seolah benar benar santai.

“Oh iya,” lanjutnya, seakan percakapan sebelumnya tidak pernah terjadi.

Lihat selengkapnya