Tanpa terasa waktu berlalu, dan hari ujian akhirnya tiba. Hutan utara Kepulauan Zale yang biasanya sunyi kini dipenuhi oleh ratusan siswa Legion Academy. Kabut pagi masih menggantung di antara pepohonan tinggi, membuat bagian dalam hutan tampak jauh lebih gelap dari biasanya. Di tepi batas hutan, para siswa kelas dua tampak sibuk memeriksa perlengkapan. Beberapa mempersiapkan artefak sihir, sementara yang lain memastikan senjata latihan mereka berada dalam kondisi siap. Hari ini bukan sekadar ujian biasa. Ini adalah ujian bertahan hidup. Para peserta harus memasuki hutan itu dan bertahan selama waktu yang telah ditentukan. Selama tiga hari ke depan, mereka bukan hanya harus menghadapi bahaya dari lingkungan hutan, tetapi juga serangan dari sesama peserta.
Ren berdiri di antara kerumunan siswa. Tatapannya bergerak perlahan, mengamati keadaan di sekelilingnya. Di berbagai sudut lapangan, para siswa telah berkumpul bersama tim mereka masing-masing. Beberapa terlihat berbicara serius, menyusun strategi terakhir sebelum memasuki hutan. Namun perhatian mereka tidak sepenuhnya tertuju pada tim mereka. Tatapan tajam berkali-kali mengarah pada satu orang.
Ren Flarehart.
Dengan segala rumor yang beredar tentang dirinya di Academy, bukan hal aneh jika ia menjadi target pertama para peserta ujian. Ren sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu. Apalagi setelah tantangan terbuka yang diberikan oleh Giana von Oswald beberapa hari lalu menyebar ke seluruh penjuru Academy. Nama Ren Flarehart kembali menjadi pusat perhatian. Banyak siswa bahkan secara terang terangan menawarkan diri untuk berpihak dengan tim Giana, berharap bisa membantu sang putri pertama Kekaisaran Oswald “mengatasi” masalah bernama Ren Flarehart.
Ren hanya menghela napas pelan mengingat hal itu. Keributan seperti ini bukan sesuatu yang baru baginya. Di tengah hiruk pikuk persiapan itu, seseorang mendekatinya dari belakang dengan langkah santai.
“Wah wah…”
Damian berhenti di sampingnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara senyum khasnya masih melekat di wajah. Tatapannya menyapu kerumunan siswa di sekitar mereka sebelum kembali pada Ren.
“Sepertinya setengah Academy datang ke sini cuma buat lihat lu tumbang.”
Ren tidak terlihat terganggu. Ia bahkan tidak menoleh.
“Bukannya sudah jelas,” jawabnya datar.
“Kita memang musuh semua orang.”
Belum sempat Damian membalas, dua sosok lain berjalan mendekati mereka tanpa ragu. Rose Brown dan Altheya Ishana. Keduanya berhenti tepat di samping Ren dan Damian, seolah memang sudah seharusnya berada di sana. Beberapa siswa di sekitar langsung mulai berbisik-bisik melihat pemandangan itu. Rose menatap sekeliling dengan wajah tidak nyaman. Tatapan para siswa lain terasa terlalu jelas. Sebagian penuh rasa ingin tahu, sebagian lagi jelas menunjukkan permusuhan. Ia mendecak pelan.
“Gue masih bisa mundur nggak sih?” gumamnya sambil melipat tangan di dada. “Kayaknya ini di luar perkiraan lu deh, Ren.”
Ren akhirnya melirik ke arahnya sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Sudah terlambat.”
Ia mengangkat bahu ringan.
“Lu sudah jadi orang gila seperti kita.”
Rose langsung menatapnya kesal.
“Awas aja kalau kita sampai kalah,” gerutunya. “Gue bogem kepala batu lu.”
Damian tertawa kecil mendengar ancaman itu. Sementara Altheya yang berdiri di sisi lain hanya mengamati keadaan dengan tenang. Tatapannya perlahan bergerak menyapu kerumunan siswa di sekitar mereka. Jumlah orang yang memperhatikan mereka jauh lebih banyak dari yang ia bayangkan. Beberapa bahkan tidak berusaha menyembunyikan niat bermusuhan mereka. Namun anehnya Altheya tidak merasakan ketakutan. Justru ada perasaan tidak nyaman yang muncul di dalam dadanya. Sebuah firasat samar yang tidak bisa ia jelaskan dengan baik.
Perasaan itu seolah ingin menghentikan Ren. Menghentikannya sebelum ia bertemu dengan Giana. Ia lalu menoleh pada Ren.
“Sepertinya… kita benar benar akan menjadi pusat perhatian hari ini.”
Ren akhirnya menoleh ke arah hutan di depan mereka. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan gelap. Tempat ujian bertahan hidup itu menunggu.
“Memang itu tujuannya.”
Nada suaranya tetap tenang.
“Kita semua sudah dianggap musuh kekaisaran.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Maaf kalian harus terlibat dalam semua ini.”
Tatapannya kembali pada mereka.
“Tapi saya butuh bantuan kalian untuk menyadarkan tuan putri egois itu.”
Ada sedikit perasaan kesal yang berusaha Ren sembunyikan, namun tanpa ia sadari, emosi itu tetap bocor keluar. Bukan kebencian. Bukan juga kemarahan. Hanya kekesalan yang selama ini ia pendam, sesuatu yang tidak pernah benar benar bisa ia sampaikan kepada siapa pun. Altheya melihat tatapan itu. Dan tanpa Ren sadari, dadanya terasa sedikit sakit. Mendengar perasaan Ren yang tanpa sengaja terungkap membuat kecurigaannya kembali muncul.
Hubungan masa lalu antara Ren dan Giana. Pikiran itu mulai berputar lagi di kepalanya, di satu sisi, ia penasaran. Ia ingin mengenal Ren lebih jauh. Ia bahkan mulai tertarik pada cowok itu. Namun di saat yang sama, entah kenapa ia juga takut mengetahui jawabannya. Takut jika Ren pernah meninggalkan sesuatu yang berharga bagi dirinya. Dan lebih takut lagi jika sesuatu yang berharga itu suatu hari kembali kepadanya. Tanpa ia sadari, tangan Altheya mencengkeram tongkat sihirnya lebih erat. Ia menundukkan kepala sedikit. Dan dalam hati, ia berdoa kepada Selune. Semoga firasatnya salah.
Mendadak kerumunan siswa di sekitar mereka mulai terbelah. Seorang siswi berjalan maju dengan beberapa pengawal di belakangnya. Tanpa perlu diperintah, para siswa di sekitarnya secara alami memberi jalan, membiarkannya melangkah melewati kerumunan dengan anggun. Bisik-bisik langsung terdengar di mana mana. Tidak ada yang tidak mengenal sosok itu.
Giana von Oswald.
Sang putri pertama Kekaisaran Oswald. Gaun Academy yang ia kenakan bergerak ringan mengikuti langkahnya. Wajahnya terlihat tenang, namun aura yang ia bawa membuat suasana di sekitarnya terasa menegang. Ia berhenti beberapa langkah di depan Ren.
“Saya puji Anda tidak lari kali ini, Tuan Flarehart.”
Nada suaranya terdengar tenang, namun siapa pun yang memperhatikan dengan baik bisa merasakan tajamnya kalimat itu. Di sisi kirinya berdiri Olivier, yang mengawasi situasi dengan sikap tenang namun waspada. Sementara di sisi kanan, Maxith berdiri dengan postur tegap, tatapannya tajam menyapu sekeliling seolah siap menghadapi apa pun yang terjadi. Ekspresi Giana penuh keyakinan. Namun di balik ketenangan itu, permusuhan terhadap Ren terlihat jelas. Ren dapat melihatnya dengan sangat jelas. Di balik tatapan itu ada kemarahan yang belum padam. Tatapan itu seolah berkata tanpa perlu diucapkan.
Aku Marah,
Dengarkan aku.
Atau aku akan terus menekanmu sampai kamu menyerah.
Namun Ren tetap berdiri dengan sikap santai. Tatapannya tidak berubah. Tenang seperti biasanya. Ia tidak terbawa oleh tekanan yang terpancar dari tatapan Giana. Ia sudah terlalu sering menghadapi tatapan seperti itu di masa lalu. Berkali-kali. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ren juga tidak berniat menghindarinya. Ia juga tidak berniat mengikuti keinginan Giana kali ini. Angin pagi berhembus pelan melewati lapangan. Kabut dari hutan utara masih menggantung di antara pepohonan gelap. Di tengah kerumunan ratusan siswa yang menonton dengan napas tertahan. Ren dan Giana kembali berdiri saling berhadapan. Seperti dua garis takdir yang akhirnya kembali bersilangan.
“Tentu saja, Yang Mulia. Jujur saja… saya tidak menginginkan hal ini.”
Ren menjawab dengan nada tenang Giana tidak langsung menanggapi. Tatapannya perlahan bergerak menelusuri anggota tim Ren satu per satu. Tatapan itu berhenti sejenak pada Rose. Lalu bergeser kepada Altheya. Kemudian akhirnya pada Damian. Ada sedikit ejekan di sudut bibirnya ketika ia kembali memandang Ren.
“Jadi ini jawaban Anda?”
Nada suaranya terdengar dingin.
“Apa tidak cukup bagi Anda menipu orang lain dan menghasut mereka menjadi kaki tangan Anda?”
Giana kemudian menoleh kembali kepada Altheya, tatapannya berubah jauh lebih serius.
“Nona Altheya,” katanya dengan nada yang lebih tajam, “bukankah saya sudah memperingatkan Anda?”
Ia menatap gadis elf itu tanpa berkedip.
“Tidak akan ada hal baik jika Anda terlibat dengan pengkhianat ini.”
Tatapannya sekilas melirik Ren sebelum kembali pada Altheya.