Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #15

Chapter 14: Tiga Hari di Hutan Utara (Bagian 2)

Rose membelalakkan matanya. Baru beberapa menit mereka memasuki hutan, namun tim mereka sudah langsung disergap saat baru saja melewati batas arena ujian. Situasi berubah begitu cepat hingga bahkan tidak memberi mereka waktu untuk menyusun langkah pertama. Tanpa ragu Ren langsung bergerak lebih dulu. Ia menerjang ke depan, tubuhnya melesat di antara semak dan akar pohon sebelum mengayunkan pedangnya ke arah fighter yang berdiri di garis depan. Tebasan itu datang cepat dan tajam, memaksa lawannya mengangkat pedang untuk menahan serangan mendadak tersebut.

Damian tanpa menunggu perintah langsung meluncur dari belakang seperti bayangan yang terlepas dari tubuhnya sendiri. Dengan langkah cepat ia menembus celah pertahanan lawan, memanfaatkan kekacauan sesaat yang diciptakan Ren. Dalam satu gerakan halus ia sudah berada di sisi formasi mereka, menyerang dua wizard yang berdiri di barisan belakang sebelum keduanya sempat menyelesaikan mantra pertama mereka.

Tanpa perlu berkomunikasi, hanya dengan melihat gerakan satu sama lain, Ren dan Damian langsung menyatu dalam ritme pertarungan yang sama. Koordinasi kompleks hasil berlatih ratusan kali bersama. Kecepatan dan kelincahan mereka membuat formasi lawan langsung kacau. Fighter yang seharusnya menjadi penahan garis depan dipaksa mundur oleh tekanan Ren, sementara Damian terus bergerak di sisi belakang, memotong ruang gerak dua wizard yang mencoba menyusun mantra. Tidak ada celah bagi tim itu untuk kembali membentuk strategi mereka.

Rose yang awalnya terlihat kebingungan akhirnya mulai memahami situasi. Ia menarik napas pendek dan segera bergerak ke posisi yang lebih tinggi di antara akar pohon besar yang mencuat dari tanah. Dengan gerakan cepat ia mengangkat snipernya dan membidik ke arah pertempuran, mencari celah yang aman untuk menembak tanpa mengenai rekannya sendiri. Di sisi lain, Altheya menjaga jarak di belakang mereka.

Di tengah kekacauan itu, sebuah panah melesat dari kejauhan. Ujungnya berkilau tipis saat membelah udara dan melaju lurus ke arah kepala Damian. Namun dia bahkan tidak menoleh. Senyum tipis tetap menghiasi wajahnya saat ia terus menekan kedua wizard di depannya, memaksa mereka mundur tanpa sempat menyelesaikan mantra mereka. Tepat sebelum panah itu mencapai sasarannya, sebuah bayangan muncul dari sisi lain. Bayangan itu bergerak cepat dan menebas panah tersebut hingga terbelah di udara. Ren memanggil Echonya, menciptakan bayangan dirinya yang bergerak di antara pertempuran. Echo itu berdiri di jalur panah sambil mengayunkan pedangnya, melindungi Damian tanpa mengurangi tekanan yang Ren berikan pada fighter di hadapannya.

Dengan formasi timnya yang sudah hancur, sang fighter akhirnya menyadari situasi yang mereka hadapi. Ia mengertakkan giginya dan segera memberi perintah kepada rekan-rekannya untuk mundur sebelum keadaan menjadi lebih buruk. Namun keputusan itu datang terlambat. Sesaat ia menoleh ke belakang untuk memastikan posisi timnya, perhatian yang terpecah itu memberi Ren celah yang tidak akan pernah ia sia-siakan. Dalam satu langkah cepat, Ren sudah berada tepat di depannya. Pedangnya bergerak turun dalam tebasan vertikal yang bersih. Bilah itu tidak melukai tubuh lawannya, namun menghantam tepat ke lencana ujian yang tergantung di dadanya. Benturan keras terdengar ketika lencana itu terbelah dan jatuh ke tanah dalam dua bagian. Cahaya kecil muncul dari artefak itu sebelum akhirnya padam, menandakan bahwa siswa tersebut resmi tereliminasi dari ujian.

Ren bahkan tidak berhenti untuk memastikan hasilnya. Begitu lencana itu hancur, ia langsung melangkah melewati tubuh fighter yang masih terpaku di tempatnya dan bergerak menuju garis belakang. Di sisi lain, Damian masih terus menekan dua wizard yang mulai kehilangan ketenangan mereka. Kedua siswi itu jelas tidak menyangka Ren akan menembus garis depan secepat itu. Ketika mereka akhirnya menyadari kehadirannya, semuanya sudah terlambat. Ren muncul di sisi mereka seperti bayangan yang menutup jalan mundur. Kedua wizard itu mencoba mengangkat tongkat mereka untuk merapal mantra, namun koordinasi mereka sudah sepenuhnya runtuh. Damian menyerang dari satu sisi sementara Ren menutup sisi lainnya, memaksa mereka terjebak di tengah tanpa ruang untuk melarikan diri.

Dua tebasan bergerak hampir bersamaan. Bilah pedang Ren menghantam lencana salah satu siswi dengan gerakan bersih, sementara Damian memotong lencana yang lain dengan ayunan cepat yang tidak memberi mereka kesempatan untuk bereaksi. Kedua artefak itu pecah seketika, memancarkan kilatan cahaya singkat sebelum kehilangan energinya. Dalam hitungan detik, dua peserta lagi resmi tereliminasi dari ujian.

Pertarungan itu berakhir jauh lebih cepat dari yang dibayangkan siapa pun. Waktu pun berlalu tanpa terasa. Matahari telah naik lebih tinggi di langit, dan ketika bayangan pepohonan mulai memendek, jam penunjuk waktu ujian menunjukkan bahwa hari sudah memasuki tengah hari. Setelah memastikan tidak ada peserta lain yang berada di sekitar mereka, keempatnya akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah naungan pohon besar.

“Seriusan deh… lu berdua beneran manusia kan? Apa-apaan sih tadi!?”

Rose mengeluh sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas akar pohon yang besar. Wajahnya terlihat kesal. Sejak mereka memasuki ujian ini, peluru di sniper miliknya hampir tidak berkurang sama sekali. Setiap kali ia mencoba membidik lawan, Ren atau Damian sudah lebih dulu menerjang dan menebas target mereka. Gerakan kedua orang itu terlalu cepat dan terlalu lincah, membuat Rose bahkan tidak punya ruang aman untuk menembak tanpa khawatir mengenai mereka. Di sisi lain, Altheya berdiri di dekat Ren sambil merapalkan spell cure wounds. Cahaya lembut dari sihirnya menutupi luka tipis di pipi Ren yang sempat tergores selama pertempuran tadi.

“Yah… lu aja yang cupu.”

Damian menjawab santai sambil menyeringai, nada suaranya penuh ejekan seperti biasa.

“Lu berdua yang kayak orang gila!” balas Rose tanpa ragu, menatap Damian dengan kesal.

Sementara Rose masih berdebat dengan Damian, Altheya menatap wajah Ren dengan tatapan penuh kekhawatiran. Sejak awal pertempuran, Ren dan Damianlah yang paling banyak bergerak di garis depan. Keduanya terus maju tanpa ragu, menerobos formasi lawan dan memaksa pertarungan terjadi di jarak dekat. Sementara dirinya dan Rose lebih sering berada di belakang, hanya sesekali membantu dengan sihir atau tembakan ketika ada celah. Hal itu membuat Altheya merasa sedikit kesal pada dirinya sendiri, bahkan ada rasa frustasi yang perlahan muncul di dalam dadanya.

“Kamu nggak apa-apa, Ren? Dari tadi cuma kamu dan si binatang itu yang terus-terusan bertarung. Kamu terlalu ceroboh dan juga terlalu nekat.”

Ren menoleh ke arahnya. Tatapannya tetap tenang dan lembut, seolah ingin meyakinkan bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja. Ia mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat santai.

“Kami berdua di garis depan, Altheya. Sudah wajar kalau kami yang harus menjaga kalian.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang tetap ringan.

“Dan kamu nggak perlu khawatir. Tugas kamu membantu kami saat terluka atau memberi dukungan dari jarak jauh sudah lebih dari cukup. Kalau kamu nggak ada, anggaran potion kita bisa langsung membengkak.”Nada santainya membuat suasana sedikit mencair, meskipun Altheya masih menatapnya dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya puas.

“Ini orang percuma diomongin, Altheya. Gobloknya nggak ketolong,” cibir Rose kesal sambil melirik ke arah Ren.

“Wih-wih… kuping panjang ini memang nggak tahu terima kasih ya,” sahut Damian dengan nada mengejek. “Harusnya lu bersyukur sudah gue bantuin, malah bilang gue binatang.”

Altheya langsung menoleh tajam ke arahnya. Ujung tongkat sihirnya terangkat sedikit, dan aura sihir tipis mulai berkumpul di sekelilingnya.

“Kalau kamu terus bicara seperti itu,” katanya dingin, “aku tidak keberatan meledakan kepalamu.”

Damian hanya menyeringai lebar, sama sekali tidak terlihat takut.

“Lihat tuh, Kapten. Baru juga istirahat sebentar sudah mau nyerang teman sendiri.”

Rose mendengus kesal melihat mereka.

“Lu berdua bisa ngga sih akrab dikit, gue pusing lama-lama dengerin lu berdua.”

Ren yang duduk bersandar di batang pohon hanya menghela napas pelan. Namun di balik sikap santainya, tatapan peraknya tetap mengamati hutan di sekitar mereka. Meskipun suasana di antara mereka terasa lebih ringan, ia tahu betul bahwa istirahat seperti ini tidak akan berlangsung lama. Di hutan utara Zale, selama lencana ujian masih tergantung di dada mereka, siapa pun bisa muncul kapan saja untuk mencoba menghancurkannya.

“Tuan putri itu belum muncul juga?” ujar Damian santai sambil meregangkan tubuhnya.

“Waktu ujian ini tiga hari, Damian. Wajar kalau dia belum datang,” jawab Ren tenang. “Menunggu momen yang tepat juga bagian dari strategi.”

“Setidaknya yang mulia masih bisa mikir strategi,” cibir Rose kesal. “Nggak langsung nyemplung ke medan perang kayak dua orang tolol ini.”

Damian mendengus kecil mendengar itu, sementara Ren tidak menanggapi. Tatapannya justru mengarah jauh ke dalam hutan, menelusuri barisan pepohonan yang berdiri rapat di kejauhan. Angin siang berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun tinggi di atas kepala mereka, namun entah kenapa suasana di dalam hutan terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya. Sejak pertama kali mereka memasuki tempat ini, Ren terus merasakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sebuah firasat buruk yang samar. Perasaan itu seperti bayangan yang menempel di belakang kesadarannya.

Perlahan Ren memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan aliran energi di sekitar mereka. Di balik suara angin yang menggesek dedaunan dan langkah kecil hewan hutan yang bersembunyi di balik semak, ia merasakan sesuatu yang sangat tipis dan hampir tidak terasa. Sebuah aura gelap yang samar mulai merayap di antara pepohonan hutan itu. Begitu halus hingga hampir tidak mungkin dikenali oleh orang biasa, namun bagi Ren, sensasi itu terasa terlalu familiar untuk diabaikan.

“Energi ini… Necrotic?” gumamnya dalam hati. “Kenapa bisa ada di sini? Bukankah hutan utara ini seharusnya area yang aman…?”

Alis Ren sedikit berkerut. Ia kembali membuka matanya perlahan, namun pikirannya masih memutar sensasi energi tadi. Necrotic adalah salah satu bentuk sihir kegelapan yang dilarang keras oleh kekaisaran. Sihir itu berdiri di sisi yang berlawanan dengan sihir Radiant, energi suci yang biasanya digunakan oleh para healer dan paladin. Namun ketika seseorang jatuh ke dalam kegelapan, bahkan pengguna sihir suci pun bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Para pengguna Necrotic biasanya adalah necromancer, penyihir yang memanipulasi kematian dan energi mayat. Ada juga paladin atau healer yang tersesat, mereka yang dulunya melindungi kehidupan namun kemudian berbalik memeluk kegelapan. Selain itu, kelompok pemuja iblis juga sering menggunakan energi tersebut dalam ritual mereka.

Ren pernah melihatnya secara langsung. Saat masih menjadi mercenary, ia dan timnya Thistle pernah beberapa kali terlibat konflik dengan pengguna sihir seperti itu. Pertempuran-pertempuran itu meninggalkan kesan yang tidak mudah dilupakan. Aura sihir kegelapan memiliki sensasi yang sangat khas. Dingin. Berat. Dan terasa seperti sesuatu yang perlahan menggerogoti kehidupan di sekitarnya. Ren tidak mungkin salah mengenalinya. Tatapannya kembali mengarah ke dalam hutan yang sunyi. Bayangan pepohonan tampak lebih gelap dari sebelumnya, seolah menelan cahaya matahari yang jatuh di antara celah-celah daun. Jika benar ada pengguna sihir Necrotic di dalam hutan ini, maka ujian bertahan hidup yang seharusnya hanya menjadi latihan bagi para siswa Legion Academy mungkin telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

“Kapten.”

Suara Damian tiba-tiba terdengar lebih serius dari biasanya. Senyum santainya sudah menghilang, digantikan oleh tatapan tajam yang mengarah pada Ren, seolah memastikan sesuatu yang sama-sama mereka rasakan. Ren menoleh pelan ke arahnya, dan dari sorot mata mereka berdua terlihat jelas bahwa pemahaman itu tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.

“Iya… nggak salah lagi,” jawab Ren tenang. “Mereka ada di sini.”

Jawaban itu keluar dari mulutnya tanpa sedikit pun keraguan. Sementara itu, di sisi lain, Rose dan Altheya hanya saling melirik dengan bingung. Keduanya memiringkan kepala, jelas tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang di depan mereka.

“Apa maksud kalian mereka?” tanya Rose sambil mengerutkan kening.

Altheya juga menatap Ren dengan serius, mencoba membaca ekspresi di wajahnya yang tiba-tiba berubah lebih tegang dari sebelumnya.

“Ren… sebenarnya ada apa?”

Ren tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali mengarah ke dalam hutan yang kini terasa jauh lebih sunyi. Angin berhembus pelan di antara pepohonan tinggi, membawa aroma tanah lembap yang bercampur dengan sesuatu yang terasa… tidak alami.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Ren membuka mulutnya.

“Kita dalam bahaya.”

Kalimat itu diucapkan pelan, namun cukup untuk membuat suasana di sekitar mereka berubah.

Lihat selengkapnya