Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #16

Chapter 15: Tiga Hari di Hutan Utara (Bagian 3)

Langit di atas Kepulauan Zale perlahan mulai berubah warna. Cahaya matahari yang sebelumnya terang kini berangsur menjadi jingga keemasan, menandakan sore hari mulai mendekat. Sinar hangat itu menembus celah-celah kanopi pepohonan hutan utara, memantulkan bayangan panjang di antara batang-batang pohon yang berdiri rapat. Ren memimpin timnya menelusuri jalur sempit di antara semak dan akar pohon yang mencuat dari tanah. Langkah mereka tidak terlalu cepat, namun juga tidak lambat. Ia sengaja memilih jalur yang lebih sunyi, sebisa mungkin menghindari kontak dengan peserta ujian lainnya.

Sejak percakapan mereka sebelumnya, suasana di antara mereka berempat berubah secara halus namun jelas terasa. Rose dan Altheya menyadari perubahan itu. Kedua orang yang biasanya terlihat tenang bahkan sedikit ceroboh dalam menghadapi situasi ujian sekarang bergerak jauh lebih hati-hati. Tatapan Ren terus menyapu hutan di depan mereka, sementara Damian berjalan sedikit di belakang dengan sikap yang sama waspadanya. Keduanya hampir tidak berbicara, namun gerakan mereka menunjukkan kewaspadaan yang tidak pernah mereka tunjukkan sebelumnya. Seolah-olah mereka berdua sedang memastikan bahwa keempatnya benar-benar aman di dalam hutan itu.

“Ren… ada sesuatu yang salah?” tanya Altheya pelan.

Ren menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya beralih ke arah Damian. Tanpa perlu banyak kata, keduanya saling memahami maksud satu sama lain. Damian mengangguk singkat sebelum segera berpindah posisi, bergerak menjauh beberapa langkah untuk berpatroli di sekitar mereka. Baru setelah memastikan area di sekitar mereka tetap diawasi, Ren kembali berbicara.

“Firasat saya tidak enak,” ujarnya pelan. “Ada sesuatu di tempat ini… sesuatu yang harus kita hindari apa pun yang terjadi.”

Rose yang berjalan di belakang mereka menatap Ren dengan ekspresi bingung. Perubahan sikapnya terasa terlalu mendadak.

“Apaan sih?” keluhnya. “Emangnya ada yang lebih buruk dari diincar langsung sama semua siswa di sini?”

Ren menoleh ke arahnya dengan tatapan tenang.

“Kalau hanya siswa atau bahkan instruktur, itu bukan masalah besar,” jawabnya. “Kalau pun kita kalah, itu tetap bagian dari ujian. Saya masih bisa memikirkan cara untuk menghadapi tantangan dari yang mulia.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Yang jadi masalah… adalah energi sihir di sekitar tempat ini.”

Altheya sedikit mengernyit mendengar itu. Ia memejamkan matanya perlahan, mencoba memusatkan pikirannya untuk merasakan aliran energi magis di dalam hutan. Beberapa saat kemudian, tubuhnya menegang. Pelipisnya mulai mengeluarkan keringat dingin, dan bulu kuduk di lengannya merinding tanpa alasan yang jelas.

“Apa ini…?” gumamnya lirih. “Aku tidak pernah merasakan sihir sekotor ini…”

Ren langsung menoleh ke arahnya.

“Jangan dirasakan,” potongnya tegas dengan tatapan serius.

“Energi Necrotic sangat sensitif terhadap energi Radiant.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada lebih rendah.

“Terlebih lagi… kamu seorang healer, Altheya.”

“Necrotic? Tunggu… bukannya jenis sihir itu dilarang di Kekaisaran?” tanya Rose sambil mengerutkan kening.

“Memang ilegal,” jawab Ren dengan tenang. “Tapi bukan berarti sepenuhnya musnah. Gue pernah menghadapinya waktu masih jadi mercenary, jadi gue cukup mengenali auranya.”

Altheya terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan itu. Ia mengangkat tangannya dan meletakkan jari di dagunya, berpikir sambil menatap Ren dengan saksama.

“Penyerangan Kuil Suci Selune… aliran sesat yang sempat bergerak beberapa tahun lalu,” gumamnya pelan. “Jadi di sanalah kamu bertemu dengan Nyonya Myrynda.”

Ren mengangguk kecil.

“Sihir atau aura Necrotic merupakan energi kegelapan yang biasanya digunakan oleh iblis,” jelasnya. “Tapi paladin atau healer yang tersesat juga bisa memakainya. Begitu juga dengan kelompok aliran sesat yang menyembah iblis.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih serius.

“Itulah sebabnya sihir ini dilarang keras di Kekaisaran. Energi Necrotic bukan cuma berbahaya bagi kehidupan di sekitarnya… tapi juga bisa membuka jalan bagi kedatangan makhluk dari dunia iblis.”

Rose langsung menatapnya dengan ekspresi terkejut.

“Tunggu… bukannya para iblis sudah musnah dalam perang lima ratus tahun yang lalu?” tanyanya. “Kalau begitu kenapa mereka bisa muncul di sini?”

“Mereka nggak benar-benar musnah lima ratus tahun lalu,” jawab Ren. “Masih ada sisa-sisa pengikut mereka yang berkeliaran di dunia ini.”

Ia menghela napas pelan sebelum melanjutkan.

“Gue juga nggak tahu gimana mereka bisa masuk ke wilayah Academy militer milik Kekaisaran. Tapi yang jelas… kita harus mundur dari ujian ini.”

Tak lama kemudian Damian kembali ke arah mereka dengan ekspresi yang terlihat agak bermasalah. Melihat itu, firasat buruk Ren langsung semakin kuat.

“Gimana?” tanya Ren.

“Untuk bagian depan aman,” jawab Damian. “Tapi ada beberapa siswa yang jelas-jelas nggak peka. Mereka masih lanjut ujian dan berkeliaran di sekitar sini.”

Mendengar itu, Ren langsung mengerutkan kening. Pikirannya mulai bekerja cepat, mencoba memikirkan kemungkinan terbaik.

“Kelihatannya pihak Academy belum menyadarinya,” gumamnya.

Ia lalu menoleh ke arah Rose.

“Rose, bisa nggak lu laporin ini ke komandan?”

Namun Rose langsung menggeleng dengan wajah yang sama bermasalahnya.

“Sayangnya nggak bisa,” jawabnya. “Selama ujian berlangsung gue dilarang menghubungi kakak gue.”

Ia menghela napas pendek sebelum melanjutkan.

“Sesuai peraturan, semua peserta dilarang menghubungi instruktur atau komandan dari Academy. Gue juga termasuk.”

Suasana di antara mereka seketika menjadi jauh lebih berat.

“Lu yakin nggak mikir yang aneh-aneh, Ren?” tanya Rose sambil mengangkat alis. “Kalau emang ada penyusup, pihak Academy pasti langsung sadar, kan?”

Pertanyaan Rose sebenarnya cukup masuk akal. Ren sendiri juga berharap firasatnya kali ini salah, namun entah kenapa, ada sesuatu yang terasa aneh di dalam dadanya. Sebuah getaran halus yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Sensasi itu muncul begitu saja, seperti sesuatu di dalam dirinya yang mencoba memperingatkannya. Ren menatap ke arah hutan yang mulai diselimuti bayangan senja.

“Gue harap lu bener.”

Ren menghela napas pelan sebelum kembali berbicara.

“Untuk sekarang, sebaiknya kita cari tempat buat istirahat. Hari sudah mau malam.”

Damian, Rose, dan Altheya saling melirik sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. Tanpa membuang waktu, mereka kembali melanjutkan perjalanan menelusuri hutan yang mulai diselimuti cahaya senja. Setelah berjalan beberapa saat, mereka akhirnya menemukan sebuah area yang cukup landai di tengah hutan. Beberapa pohon besar berdiri rapat di sekelilingnya, cukup tinggi dan rimbun untuk menutupi keberadaan mereka dari jarak jauh.

Tempat itu cukup baik untuk bermalam. Mereka segera mulai menyiapkan kemah, Damian dan Rose mengambil tugas berkeliling area sekitar, mengintai keadaan hutan sekaligus memasang beberapa jebakan sederhana dan alarm darurat untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang mendekat di malam hari. Sementara itu, Ren dan Altheya mulai mendirikan tenda di tengah area tersebut, memanfaatkan ruang sempit di antara akar-akar pohon besar sebagai tempat berlindung.

“Kalau firasat kamu benar… apa pertandingan kamu dengan Kapten Olivier dan Yang Mulia masih akan dilanjutkan?”

Di tengah kesibukan mereka mendirikan tenda, Altheya tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu.

Tangannya tetap bekerja, merapikan kain tenda sambil mengikat tali pada batang pohon terdekat. Namun suaranya terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya.

“Kalau situasinya memang seburuk itu… dan Academy sampai mengeluarkan peringatan bahaya.”

Ren yang sedang menancapkan paku tenda ke tanah menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Altheya. Namun gadis elf itu sendiri tidak menatap balik. Matanya tetap fokus pada pekerjaannya, seolah-olah pertanyaan itu hanya sekadar percakapan biasa di tengah aktivitas mereka.

“Tentu saja kita mundur,” jawab Ren. “Dibanding perselisihan pribadi antara saya dengan Kapten Olivier atau Yang Mulia, keselamatan tim jauh lebih penting.”

Altheya mengangguk kecil, namun ekspresinya masih terlihat berpikir.

“Aku pikir Kapten Olivier mungkin bisa menerima alasan seperti itu,” ujarnya. “Meskipun dia keras kepala, aku yakin dia masih bisa berpikir logis kalau menyangkut keselamatan anggota timnya.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Tapi…”

Altheya ikut menghentikan pekerjaannya. Kali ini ia benar-benar menatap Ren yang sejak tadi memperhatikannya.

“Aku rasa Yang Mulia tidak akan mundur, Ren.”

Angin sore berhembus pelan melewati tempat itu. Ren memejamkan matanya sejenak, merasakan lembutnya hembusan angin yang menyentuh wajahnya.

“Ya… saya juga sependapat,” ujarnya akhirnya. “Beliau bukan tipe orang yang suka mendengarkan perkataan orang lain.”

Beberapa saat berlalu tanpa kelanjutan percakapan. Ren kembali melanjutkan pekerjaannya, menancapkan paku tenda ke tanah. Namun Altheya masih tetap menatapnya. Ada keraguan kecil di dalam hatinya. Ia sebenarnya tahu bahwa mungkin ia tidak seharusnya bertanya lebih jauh tentang hubungan antara Ren dan Putri Giana. Namun rasa penasaran itu terlalu kuat untuk diabaikan.

“Kamu… bukan sekadar kenalan lama dengannya, ya, Ren?”

Ren tidak menjawab. Tangannya tetap bekerja, seolah berharap Altheya akan berhenti sampai di situ, namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Apa kamu punya hubungan khusus dengan Yang Mulia?”

Mendengar pertanyaan itu, tangan Ren tiba-tiba terpeleset. Palu yang ia pegang menghantam jarinya sendiri dengan suara keras. Altheya sedikit terkejut melihatnya. Namun sesaat kemudian ekspresinya berubah, seolah ia baru saja menyadari sesuatu. Di saat yang sama, ia juga merasakan sensasi aneh di dadanya. Sebuah rasa perih yang samar, sebuah perasaan yang sama yang dia rasakan saat berada di Moonless cafe beberapa hari yang lalu.

“Jadi begitu ya… Yang Mu—”

“Kami cuma teman lama.”

Ren memotong perkataannya dengan cepat.

“Nggak lebih dari itu.”

Ia kembali menancapkan paku tenda sebelum melanjutkan.

“Dulu saya mengenal beliau lewat mendiang ibu angkat saya.”

Altheya sedikit memiringkan kepalanya.

“Ibu angkatmu?”

“Professor Theresa,” jawab Ren. “Beliau adalah guru sihir pertama Yang Mulia. Mendiang Kaisar Alexander sendiri yang meminta beliau untuk mengajari Putri Giana.”

Ren berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

Lihat selengkapnya