Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #17

Chapter 16: Kebohongan yang mengubah segalanya

Suara gaduh tiba-tiba pecah di sekitar perkemahan kecil milik tim Ren. Tembakan senapan, benturan logam, dan langkah kaki yang berlari tergesa di antara pepohonan langsung memecah ketenangan hutan yang mulai menggelap. Ren yang sedang merapikan tali tenda langsung berhenti. Altheya juga menoleh ke arah hutan.

Beberapa detik yang lalu tempat itu masih sunyi, sekarang rasanya seperti medan pertempuran kecil. Ren berdiri perlahan, tangannya secara refleks sudah berada di gagang pedangnya.

“Si idiot itu…” gerutunya.

Altheya melirik ke arahnya. “Apa sebaiknya kita bantu?”

Ren menatap ke arah hutan sejenak. Suara pertempuran masih terdengar samar di antara pepohonan. Jika mereka menunggu terlalu lama, Damian dan Rose bisa saja benar-benar dalam masalah. Namun jika mereka bergerak sembarangan, musuh bisa saja menemukan lokasi perkemahan mereka. Ren akhirnya menghela napas pendek.

“Ya.”

Altheya mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua mulai bergerak, berjalan berdampingan menuju arah asal suara tembakan yang menggema dari dalam hutan. Pepohonan yang rapat membuat pandangan mereka terbatas, namun suara benturan logam dan geraman binatang buas semakin jelas terdengar seiring langkah mereka mendekat.

Tidak butuh waktu lama sampai mereka menemukan sumber keributan itu. Di sebuah celah pepohonan yang sedikit terbuka, pertempuran sengit sedang berlangsung di tengah tanah hutan yang dipenuhi daun kering dan ranting patah.

Rose terlihat mundur perlahan sambil menjaga jarak dari sekumpulan Hellhound yang mencoba mengepungnya. Senapan di tangannya sesekali meletus, mengirimkan peluru ke arah makhluk-makhluk itu untuk menahan mereka agar tidak terlalu dekat. Wajahnya terlihat tegang, namun ia tetap menjaga posisinya dengan hati-hati di belakang Damian.

Di depan Rose, Damian berdiri seperti tembok yang tidak bisa ditembus. Pedangnya bergerak cepat, menebas setiap Hellhound yang mencoba menerkam mereka. Tubuhnya bergerak lincah di antara cakar dan taring yang menyambar, seolah ia sudah terlalu sering menghadapi makhluk semacam itu.

Jumlah Hellhound yang mengelilingi mereka sekitar dua puluh ekor. Namun hampir setengah dari mereka sudah tergeletak di tanah hutan, tubuh mereka berserakan dengan luka tebasan dan bekas peluru yang masih mengepulkan asap tipis. Ren mengamati pemandangan itu sejenak dari balik pepohonan, matanya menyapu seluruh area pertempuran dengan tenang. Ia seperti sedang menilai situasi sebelum bertindak.

“Seperti biasa,” gumamnya pelan.

Altheya melirik ke arahnya dengan sedikit bingung.

“Seperti biasa?”

Ren menghela napas pendek sambil mencabut pedangnya dari sarungnya.

“Si idiot itu ditinggal sebentar, pasti langsung bikin keributan.”

Meninggalkan Altheya yang memiringkan kepalanya dengan bingung, Ren langsung berlari ke depan. Tubuhnya melesat melewati pepohonan dan dalam satu gerakan ia melompat ke garis depan pertempuran. Pedangnya berayun cepat, menebas seekor Hellhound yang sedang melompat untuk menggigit Damian, membuat makhluk itu terpental dan menggeram kesakitan sebelum jatuh ke tanah.

“Tepat waktu! Lu emang bagus soal timing, bro!” seru Damian tanpa menoleh.

“Bacot! Lu cari mati?” balas Ren tajam. “Kita nggak bawa silver, idiot!”

Senjata yang digunakan Ren dan Damian hanyalah pedang biasa, senjata standar yang mereka bawa selama ujian. Terhadap makhluk seperti Hellhound, senjata semacam itu jauh dari kata ideal. Magical weapon atau senjata yang ditempa dengan bahan silver jauh lebih efektif untuk melawan ras iblis seperti Hellhound.

Tanpa senjata semacam itu, luka yang mereka buat jauh lebih lambat mematikan, membuat pertarungan menjadi jauh lebih berbahaya daripada seharusnya.

 "Jujur sih, gue benci firasat buruk lu bro, lu suka bawa death flag ke kita." Anehnya Damian tidak merasa hal ini merupakan situasi berbahaya dan masih bisa bercanda dengan sahabatnya tersebut, Ren justru kesal dengan sikap santai sahabatnya itu. "Udah diem tebas aja di depan lu goblok!!"

“Jujur sih, gue benci firasat buruk lu, bro. Tiap lu ngomong begitu, rasanya kayak bawa death flag buat kita.”

Anehnya Damian sama sekali tidak terlihat panik. Di tengah kepungan Hellhound yang terus menggeram dan mencoba menerkam, ia masih sempat bercanda seperti biasanya. Pedangnya tetap bergerak cepat menangkis dan menebas, namun ekspresinya jauh dari kata tegang. Ren justru semakin kesal melihat sikap santai sahabatnya itu. Ia menangkis cakar seekor Hellhound lalu menendangnya menjauh sebelum kembali memposisikan pedangnya di depan.

“Udah diem! Tebas aja yang di depan lu, goblok!” Rose memperhatikan dua orang sahabat itu dari belakang sambil sesekali membantu menembak dari jarak aman. Senapannya kembali meletus, peluru melesat melewati bahu Ren dan Damian sebelum menghantam salah satu Hellhound yang mencoba memutar untuk menyerang dari samping.

Namun ekspresi Rose terlihat kesal. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin dua orang itu masih sempat berdebat di tengah pertarungan seperti ini. Di depan mereka ada sekumpulan iblis yang siap mencabik siapa saja yang lengah, tapi Ren dan Damian justru terdengar seperti sedang bertengkar di halaman rumah.

Sementara itu, beberapa langkah di belakangnya, Altheya berdiri dengan tenang sambil memperhatikan pergerakan mereka berdua dengan seksama. Tangannya terangkat perlahan, lingkaran sihir kecil muncul di ujung jarinya sebelum api suci menyala.

Sacred Flame meluncur ke depan, membakar Hellhound yang mencoba mendekat dari sisi lain. Api keemasan itu menyapu tanah hutan dan memaksa beberapa makhluk iblis tersebut mundur sambil menggeram kesakitan, memberi ruang bagi Ren dan Damian untuk terus bertarung di garis depan. Pertarungan itu tidak berlangsung terlalu lama setelahnya.

Satu per satu Hellhound akhirnya tumbang di tanah hutan yang kini dipenuhi bekas luka pertempuran. Akhirnya, Hellhound terakhir pun berhasil dijatuhkan. Dengan santai Damian mencabut pedangnya dari tubuh makhluk itu, sementara Ren menunduk dan memperhatikan bangkai-bangkai Hellhound di sekitar mereka dengan kening berkerut.

Hellhound seharusnya sudah tidak ada sejak invasi iblis lima ratus tahun yang lalu. Itu merupakan pengetahuan umum di seluruh kekaisaran. Namun Ren tahu kenyataan tidak sesederhana itu. Ada kelompok ajaran sesat yang masih bersembunyi di bayang-bayang kekaisaran, kelompok yang menyembah iblis dan mampu memanggil makhluk seperti Hellhound ke dunia ini. Selama kariernya sebagai mercenary, Ren pernah beberapa kali berhadapan dengan mereka.

“Mereka di sini.”

Nada suara Damian berubah serius saat ia mendekati Ren. Ren menutup matanya sejenak, seolah mencoba menenangkan pikirannya. Dalam sekejap, kenangan lama kembali menyerbu kepalanya tanah yang menjadi tandus, bau mayat bercampur darah yang menyengat, serta jeritan kesakitan para korban yang pernah ia temui ketika berhadapan dengan kelompok itu.

“Dredveil.”

Satu kata itu keluar pelan dari mulut Ren. Namun kata tersebut cukup untuk membangkitkan kembali bayangan masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam, kenangan tentang tempat-tempat yang dipenuhi kematian, tanah yang tercemar, dan penderitaan yang tidak pernah benar-benar bisa ia lupakan.

“Apa-apaan sih ini!? Academy sebenarnya ngapain aja?” seru Rose dengan kesal.

“Ini kan ujian, kenapa malah muncul iblis!? Bukannya iblis sudah musnah lima ratus tahun yang lalu!”

Keluhannya terdengar keras, nadanya bercampur antara kemarahan dan kegelisahan yang tidak mampu ia sembunyikan. Di sisi lain, Altheya berdiri diam memperhatikan tumpukan bangkai Hellhound yang berserakan di tanah hutan. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi tangannya tampak sedikit gemetar. Dari tubuh-tubuh makhluk itu masih merembes aura necrotic yang pekat energi gelap yang membuat bulu kuduknya merinding.

“Kita sebaiknya kembali ke camp. Pada malam hari para iblis biasanya bergerak jauh lebih buas dibanding siang hari. Akan berbahaya bagi tim kalau kita terus bergerak dalam gelap,” ujar Ren dengan tenang.

Ia menatap bangkai Hellhound di tanah sejenak sebelum melanjutkan.

“Perlengkapan kita juga tidak dilapisi silver. Sihir Radiant milik Altheya saja tidak akan cukup untuk memastikan kita semua bisa keluar dari situasi seperti ini.”

Setelah mengatakan itu, Ren menyarungkan kembali pedangnya. Keputusan sudah ia ambil.

“Mundur. Kita kembali ke camp.”

Mereka pun mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Langkah mereka pelan dan waspada, mata masing-masing terus menyapu kegelapan hutan yang perlahan ditelan malam.

“Terus gimana selanjutnya, Kapten? Masih mau lanjut?” tanya Damian dengan santai sambil berjalan di samping Ren.

“Kita mundur,” jawab Ren tanpa ragu.

“Setelah bermalam, besok pagi kita keluar dari ujian ini. Ini sudah bukan sekadar ujian atau konflik antar siswa. Biar pihak Academy yang menangani sisanya.”

Altheya yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka akhirnya angkat bicara.

“Kamu pikir… Yang Mulia akan berpikir hal yang sama?”

Lihat selengkapnya