Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #18

Chapter 17 : Malam yang berubah arah

Waktu berlalu dalam suasana canggung hingga giliran jaga mereka akhirnya berakhir. Tidak ada percakapan lagi di antara mereka, hanya keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Altheya perlahan mematikan sihir Light yang menerangi sekitar perkemahan, membuat area itu kembali tenggelam dalam gelapnya malam hutan. Tanpa berkata apa-apa, Altheya berbalik dan berjalan menuju tendanya. Langkahnya terlihat tenang, namun pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang belum sempat ia cerna sepenuhnya. Sosoknya menghilang di balik tirai tenda dengan cepat, seolah ingin segera mengakhiri percakapan canggung yang masih tertinggal di udara malam.

Sementara itu Damian hanya berdiri diam beberapa saat di tempatnya. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya dengan ekspresi tidak nyaman, masih memikirkan kebohongan yang baru saja ia lontarkan sebelumnya. Pada akhirnya ia hanya menghela napas panjang sebelum berjalan menuju tendanya sendiri dengan langkah yang terasa sedikit canggung. Ren yang memperhatikan kecanggungan di antara mereka berdua hanya mengernyit pelan. Ia tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi selama mereka berjaga, tetapi suasana aneh itu cukup jelas terlihat bahkan dari kejauhan. Dengan gerakan santai, Ren mengeluarkan sebuah lentera sihir kecil dari tasnya.

Cahaya redup dari lentera itu menyala perlahan, cukup untuk menerangi area di sekitar tempat ia dan Rose berjaga. Ren menatap ke arah tenda Damian sejenak sebelum mendengus pelan.

“Si idiot itu pasti salah ngomong lagi,” gerutunya dalam hati.

Rose yang masih menguap berjalan mendekat lalu duduk di sebelah Ren dengan santai. Senapan miliknya sudah berada di pangkuannya, siap digunakan jika sesuatu tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan. Meski begitu, matanya masih terlihat setengah tertutup karena kantuk yang belum benar-benar hilang.

“Bangun, Rose. Ini giliran kita yang jaga,” tegur Ren sambil melirik ke arahnya.

“Hmmm… iya, iya. Berisik amat. Gue bangun kok,” balas Rose sambil tetap mengucek matanya yang masih berat.

Ren hanya menghela napas pelan melihat tingkah rekannya itu. Mereka berempat sudah bertarung hampir sepanjang hari, bukan hanya melawan siswa lain dalam ujian, tetapi juga menghadapi kemunculan Hellhound yang seharusnya tidak ada di tempat ini. Dalam situasi seperti itu, tidak aneh jika Rose kelelahan. Namun Ren tahu mereka tidak berada dalam posisi yang aman untuk benar-benar lengah. Malam di hutan itu masih menyimpan terlalu banyak kemungkinan buruk.

Sementara Ren yang sudah mengidap insomnia berat dalam empat tahun lalu sudah mulai terbiasa untuk tidur hanya sebentar, meskipun tubuhnya jelas kelelahan tapi dia masih bisa menjaga dirinya tetap sadar.

“Gue nggak nyangka kalau lu punya hubungan sama Tuan Putri. Jadi semua ini cuma pertengkaran kekasih?” tanya Rose dengan ekspresi masih setengah mengantuk, matanya bahkan belum benar-benar terbuka sepenuhnya.

“Dari mana lu dengar soal hal itu?” tanya Ren sambil melirik ke arahnya dengan alis sedikit terangkat.

Rose mengangkat tangannya pelan dan menunjuk ke arah salah satu tenda. “Noh, si rambut putih yang bilang.”

Ren terdiam sejenak tanpa langsung menjawab. Ia menatap cahaya redup dari lentera sihir di tangannya sambil menghela napas pelan. Di dalam kepalanya, ia sudah bisa menebak dengan sangat jelas siapa penyebab munculnya rumor itu.

“Si idiot itu emang mulutnya ember,” gerutunya dalam hati, mengutuk Damian yang dengan santainya menyebarkan cerita tentang dirinya tanpa izin.

Melihat Ren yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya, Rose mendengus kesal. Ia menyandarkan senapannya di bahu sambil menatap ke arah hutan gelap di depan mereka, berusaha mengusir kantuk yang masih menempel di matanya.

“Temenin gue ngobrol kek. Gue bisa ketiduran nih,” cibirnya dengan nada malas.

Ren meliriknya sekilas sebelum kembali mengamati area sekitar perkemahan. “Lu penasaran banget soal hal itu? Nggak ada topik lain apa?” tanyanya datar.

Rose menoleh ke arahnya dengan tatapan setengah sebal, matanya kini sedikit lebih terbuka.

“Gue penasaran, apa lagi yang lu sembunyiin dari gue dan kakak gue.”

Rose kemudian menatap Ren lebih dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang selama ini sengaja ia sembunyikan. Ekspresi wajahnya masih terlihat kesal, tetapi di balik itu ada rasa penasaran yang jelas tidak bisa ia abaikan begitu saja.

“Lu bisa nggak sih berhenti nutupin hal-hal penting?” keluhnya. “Pertama, lu nggak bilang kalau lu bisa pakai Echo. Sekarang ternyata masalah lu sama Tuan Putri cuma pertengkaran antara kekasih. Lu bikin kakak gue makin pusing, tau nggak.”

Ren hanya menghela napas panjang mendengar ocehan itu. Bukannya Ren tidak ingin menceritakan semuanya. Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu ada hal-hal yang masih belum siap ia ungkapkan kepada siapa pun. Terutama masalah yang menyangkut dirinya dan Giana, sesuatu yang baginya terlalu rumit untuk dijelaskan kepada orang yang tidak terlibat langsung di dalamnya.

“Gue bukan pacarnya, Rose. Lu salah paham,” jawab Ren dengan nada datar. Matanya tetap mengarah ke kegelapan hutan di depan mereka, seolah lebih tertarik memperhatikan bayangan pepohonan daripada melanjutkan pembicaraan itu. “Gue sama Yang Mulia cuma kenalan lama. Itu aja.”

Rose langsung mendengus pelan mendengar jawaban itu. Ia menoleh ke arah Ren dengan tatapan yang jelas tidak percaya, alisnya sedikit terangkat seolah baru saja mendengar alasan yang terlalu mudah ditebak.

“Lu masih aja ngelak bilang kenalan lama,” cibirnya. “Udah jelas itu nggak mungkin, bego. Lu mungkin bisa bilang begitu ke orang lain, tapi maaf… ke gue nggak bisa.”

“Kalau soal itu gue nggak bohong. Memang benar dulu kita pernah temenan… cuma sekarang situasinya sudah beda,” ujar Ren dengan nada datar.

Ia kemudian melirik ke arah Rose sebelum mengangkat tangan dan menunjuk dengan jari telunjuknya ke lehernya sendiri. Di sana terlihat jelas sebuah tanda Rune yang terukir samar di kulitnya. Tanda yang tidak mungkin disalahartikan oleh siapa pun yang pernah melihatnya.

Rose yang melihat itu langsung terdiam. Ia tentu tahu apa arti tanda tersebut. Rune itu adalah tanda tahanan rumah sekaligus cap yang menandai seseorang sebagai pengkhianat kekaisaran.

“Dia itu putri pertama kekaisaran,” lanjut Ren pelan. “Sedangkan gue… kriminal.”

Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah hutan yang gelap.

“Gue nggak mau dia ikut dipandang jelek cuma gara-gara bergaul sama gue.”

Rose kemudian mengangkat kepalanya ke arah langit malam. Bintang-bintang yang tersebar di atas mereka berkilauan di antara celah dedaunan hutan. Perlahan rasa kantuk yang tadi membebani matanya mulai menghilang seiring percakapannya dengan Ren.

“Kayaknya nggak sesimpel itu deh,” gumamnya sambil tetap menatap langit. “Gue curiga ada sesuatu yang lebih dari itu. Kalau nggak… nggak mungkin juga kan lu sampai ditantang duel kayak gini.”

“Yah, nggak bisa dibilang salah juga,” jawab Ren dengan santai.

“Emang situasinya lebih rumit. Tapi beneran kok, gue nggak punya hubungan spesial sama dia. Kita cuma temenan… nggak lebih.”

Ren menjawab tanpa sekalipun menoleh ke arahnya. Pandangannya tetap tertuju pada kegelapan hutan di depan mereka, seolah pembicaraan itu tidak terlalu penting baginya. Rose yang mendengar jawaban itu langsung melirik ke arah Ren dengan ekspresi tidak percaya. Bagi dirinya, penjelasan Ren terdengar tidak masuk akal. Terlebih lagi melihat bagaimana Ren masih bersikeras menganggap Giana hanya sebagai sahabat, tidak lebih dari itu.

Lihat selengkapnya