Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #19

Chapter 18 : Nama yang hilang dalam kabut

Suasana hutan tiba-tiba berubah. Udara yang sebelumnya hanya dipenuhi sisa panas pertarungan kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Kabut hitam perlahan muncul dari balik pepohonan, merayap rendah di atas tanah sebelum akhirnya menyelimuti area pertempuran. Warnanya pekat, nyaris seperti tinta yang tumpah di antara bayangan malam, menelan cahaya redup di sekitarnya sedikit demi sedikit.

Dalam hitungan detik, napas terasa lebih sulit ditarik. Dada terasa sesak, seolah udara di sekitar mereka menolak untuk dihirup sepenuhnya. Kabut itu tidak hanya menghalangi pandangan, tetapi juga membawa tekanan aneh yang merambat pelan ke dalam tubuh. Sensasinya dingin, namun di saat yang sama terasa menekan kesadaran.

Bukan sekadar kabut biasa. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang tidak seharusnya berada di dalam hutan ini, apalagi di tengah ujian yang seharusnya terkontrol. Insting mereka langsung bereaksi, memperingatkan bahaya yang tidak terlihat namun terasa begitu nyata. Semua orang menghentikan gerakan mereka hampir bersamaan. Pedang yang sempat beradu terhenti di tengah ayunan, sihir yang hampir dilepaskan pun tertahan begitu saja. Bahkan suara langkah dan gesekan tanah yang sebelumnya memenuhi hutan kini menghilang. Keheningan yang tersisa justru terasa lebih berat daripada kebisingan sebelumnya.

Insting mereka berbicara lebih cepat daripada logika. Tatapan masing-masing mulai menyapu kegelapan di sekitar mereka, mencari sumber dari perubahan yang terjadi. Tidak ada yang berani bergerak sembarangan. Mereka semua tahu satu hal yang sama. Dalam sekejap, lima pasang mata menyala dari balik kabut hitam, menatap tajam ke arah mereka. Cahaya merahnya berpendar samar di antara kegelapan, cukup untuk membuat bulu kuduk meremang. Tidak ada suara langkah yang jelas, namun kehadiran mereka terasa begitu dekat. Tekanan di udara langsung berubah menjadi ancaman yang nyata.

Maxith yang menyadari hal itu langsung bereaksi. Tanpa ragu, ia meninggalkan pertarungannya dengan Damian dan bergerak cepat menuju Giana. Tubuh besarnya berpindah posisi dalam sekejap, berdiri di depan sang putri dengan sikap defensif. Pedang besar di tangannya terangkat, siap menghadapi apa pun yang muncul dari kabut.

Dari balik bayangan, lima ekor Hellhound akhirnya memperlihatkan diri mereka. Tubuh mereka besar dengan otot yang menegang, mata merah menyala, dan napas panas yang mengepul dari mulut mereka. Aura Necrotic yang menyelimuti tubuh mereka terasa pekat, jauh lebih kuat dari yang seharusnya muncul dalam ujian seperti ini.

Tanpa memberi waktu untuk berpikir, mereka langsung bergerak. Kelima Hellhound itu menerjang dari berbagai arah, menyerang secara bersamaan tanpa pola yang jelas. Target mereka langsung tertuju pada Ren, Giana, Olivier, dan Maxith yang berada di garis depan, memaksa keempatnya bereaksi dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Ini ada apa!? Pihak Academy nggak bilang soal hal ini!?” teriak Maxith dengan nada kasar. Perisainya menghantam kepala Hellhound yang menerjang Giana, benturannya keras hingga terdengar retakan tulang. Namun makhluk itu tidak mundur, rahangnya tetap menggigit sisi perisai, air liur hitam menetes dan mendesis saat menyentuh tanah. Tekanannya begitu kuat sampai lengan Maxith bergetar menahannya.

“Yang Mulia, kita harus mundur, sekarang!” potong Olivier tajam. Pedangnya menebas seekor Hellhound yang melompat dari samping, membelah kulitnya dan menyemburkan darah hitam yang beruap di udara. Tapi makhluk itu tetap bergerak, seolah rasa sakit tidak berarti apa pun. Api biru di Rune Blade miliknya menyala lebih liar saat ia dipaksa menahan serangan dari dua arah sekaligus.

“Tuan Silas, Nona Serena, bisa dengar suara saya!?” Giana menyalakan sending stone di tangannya. Cahaya sihir berpendar, mencoba menembus kabut yang semakin pekat dan berdenyut aneh di sekitar mereka. Tidak ada jawaban. Hanya desisan samar dari dalam kabut, seperti sesuatu yang bergerak di luar jangkauan penglihatan.

Satu Hellhound tiba-tiba muncul dari sisi buta dan menerjang tanpa suara. Taringnya nyaris mencapai leher Giana sebelum Maxith menghantamnya dengan bahu, membanting makhluk itu ke tanah dengan kekuatan penuh. Tanah retak saat tubuh besar itu menghantam, tapi bahkan dalam posisi terjatuh, makhluk itu masih meronta dan mencoba menggigit apa pun yang berada dalam jangkauannya. Kabut hitam di sekitar mereka semakin menebal. Bau busuk yang menusuk mulai memenuhi udara, bercampur dengan aroma darah dan panas sihir yang terbakar. Suara geraman rendah terdengar dari berbagai arah, tidak lagi hanya lima. Sesuatu di dalam kabut bergerak, lebih banyak dari yang bisa mereka lihat.

“Yang Mulia, genjatan senjata sementara. Pertandingan kita bisa diselesaikan lain hari. Keselamatan Anda prioritas di sini!” teriak Ren dengan nada tegas di tengah kekacauan. Suaranya nyaris tenggelam oleh geraman Hellhound di sekeliling mereka. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung bergerak dan menebas satu makhluk yang menerjang ke arahnya. Pedangnya membelah tubuh Hellhound itu menjadi dua, darah hitamnya menyembur ke tanah dan langsung menguap di udara.

Di belakangnya, Damian tanpa ragu memutar posisi. Ia membelakangi Ren dan mengunci area belakang mereka, menahan Hellhound yang mencoba menyerang dari blind spot. Pedangnya bergerak cepat, setiap tebasan penuh tenaga, memaksa makhluk itu mundur beberapa langkah. Tanpa perlu bicara, keduanya langsung membentuk formasi bertahan seperti sudah terbiasa bekerja bersama di medan perang.

“……” Giana terdiam seketika melihat pemandangan di sekitarnya. Matanya bergerak cepat, mencoba memahami situasi yang berubah dalam hitungan detik. Ini pertama kalinya ia melihat pertempuran sebrutal ini, apalagi melawan makhluk yang tidak menunjukkan rasa takut atau rasa sakit sama sekali. Sending stone di tangannya masih menyala, namun tidak ada jawaban dari Silas maupun Serena.

Heningnya komunikasi itu justru membuat situasi terasa lebih buruk.

“Altheya, Spirits Guardian!!” seru Ren tanpa menoleh, tetap fokus menahan serangan dari depan.

Mendengar perintah itu, Altheya segera merapalkan sihirnya. Cahaya lembut muncul dari tangannya, lalu menyebar membentuk medan pelindung di sekitar mereka. Spirits Guardian terbentuk sempurna, menciptakan batas sihir yang menahan tekanan kabut dan makhluk di luar. Bagi Hellhound dan entitas Necrotic lainnya, medan itu terasa menyakitkan, seolah keberadaan mereka sendiri ditolak oleh sihir tersebut. Namun bagi sekutu itu merupakan tempat yang aman.

Rose yang melihat situasi itu langsung berlari tanpa ragu. Ia menerobos medan pertempuran kecil yang masih tersisa di sekitar mereka, menghindari sisa serangan Hellhound yang belum sepenuhnya berhenti. Dengan napas terengah, ia akhirnya berhasil masuk ke dalam batas Spirits Guardian milik Altheya. Begitu melewati batas sihir itu, tekanan di udara sedikit berkurang, meski suasana tetap terasa menyesakkan.

Damian dan Ren tanpa banyak bicara langsung mengambil potion dari kantong mereka. Keduanya menenggak cairan itu cepat, mencoba memulihkan luka dan stamina yang mulai terkuras. Napas mereka masih berat, tapi gerakan tubuh perlahan kembali stabil. Di dalam medan pelindung itu, mereka akhirnya berkumpul kembali, ketujuh orang berdiri dalam satu titik yang sama di tengah kabut hitam yang terus menekan dari luar.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari balik kabut, geraman baru mulai terdengar. Satu per satu siluet Hellhound kembali muncul, lalu bertambah menjadi lebih banyak dalam hitungan detik. Mereka tidak menyerang sekaligus, tetapi terus berdatangan tanpa henti, seolah tidak ada akhir dari jumlah mereka. Setiap langkah yang mendekat membuat tekanan di dalam Spirits Guardian terasa semakin berat, meskipun sihir itu masih bertahan.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari balik kabut, geraman baru mulai terdengar, semakin dekat dan semakin banyak. Satu per satu siluet Hellhound kembali muncul, lalu bertambah menjadi puluhan dalam hitungan detik. Mereka tidak menyerang sekaligus, hanya terus berdatangan tanpa henti, seolah kabut itu sendiri melahirkan mereka tanpa akhir.

Batas dari satu kali rapalan Spirits Guardian adalah lima belas menit setiap durasi. Altheya sendiri belum sempat beristirahat dengan benar sejak pertarungan dimulai, membuat cadangan energi sihir radiannya sudah jauh berkurang. Cahaya pelindung di sekitar mereka masih stabil, namun denyutnya mulai tidak sekuat sebelumnya, seperti api yang perlahan kehabisan bahan bakar.

“Gawat… kita terkepung. Nggak ada jalan keluar dari sini.” Ren mengamati sekeliling dengan tajam, matanya menangkap kelelahan yang mulai terlihat di kedua sisi. Baik timnya maupun kelompok Royal Knight yang dipimpin Giana, semuanya mulai kehilangan stamina. Napas yang berat, gerakan yang melambat, dan tekanan mental yang terus meningkat membuat situasi semakin tidak menguntungkan.

Tatapan Ren berubah lebih serius. Ini bukan lagi pertarungan yang bisa dimenangkan dengan kekuatan saja. Waktu mereka semakin sempit, dan setiap detik yang lewat hanya memperburuk situasi. Tekanan dari luar Spirits Guardian terus meningkat, seolah kabut itu sendiri sedang menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan mereka.

Lihat selengkapnya