Suara tebasan dan lolongan para Hellhound memenuhi suasana hutan malam itu, saling bertumpuk di antara kabut hitam yang terus bergerak seperti makhluk hidup. Dua orang berdiri di tengahnya, menghadapi kawanan yang tidak kunjung terlihat reda, seolah jumlah mereka tidak pernah berkurang sedikit pun. Setiap kali satu tubuh jatuh, dua lagi muncul dari balik kegelapan.
Ren mengangkat pedangnya tanpa ragu. Dalam satu ayunan cepat, ia menebas Hellhound yang menerjang ke arahnya dari depan, menghantam tepat di kepalanya. Tubuh makhluk itu terbelah dan jatuh ke tanah, darah hitamnya langsung menguap sebelum sempat menyentuh rerumputan. Namun bahkan saat itu, tidak ada jeda. Dua Hellhound lain langsung menggantikan posisi yang sama, menerjang dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan.
“Ini nggak ada habisnya…” gumam Damian dari belakangnya, sambil memutar tubuh dan menahan serangan yang datang dari blind spot. Pedangnya beradu dengan cakar makhluk itu, memercikkan percikan api kecil di tengah gelapnya malam. Ia menggeser langkahnya, menjaga jarak dengan Ren agar tidak saling mengganggu pergerakan.
Ren tidak menjawab. Matanya bergerak cepat, membaca arah serangan yang datang bertubi-tubi dari segala sisi. Kabut hitam di sekitar mereka semakin pekat, membuat jarak pandang hanya beberapa meter saja. Setiap gerakan harus dilakukan berdasarkan insting, bukan penglihatan penuh. Dari atas pepohonan, satu Hellhound melompat turun tanpa suara. Ren segera memiringkan tubuhnya, menghindari gigi yang nyaris merobek bahunya, lalu membalas dengan tebasan cepat ke arah perut makhluk itu. Tubuhnya jatuh menghantam tanah, tapi sebelum sempat benar-benar diam, geraman lain sudah terdengar dari belakang.
Damian menahan serangan yang hampir mengenai punggung Ren dengan mengangkat pedangnya tepat waktu. Benturan keras terdengar, membuat lengannya sedikit bergetar. Ia mendecak pelan.
“Kalau terus kayak gini, gawat Kapten.”
Ren akhirnya sedikit menoleh, hanya sekilas dengan tatapan yang tajam.
“Makanya kita jangan berhenti.”
Kabut di depan mereka bergetar. Suara langkah semakin banyak, semakin dekat. Bukan lagi lima, bukan lagi puluhan. Sesuatu di dalam kegelapan itu terus bergerak, terus bertambah, seperti lautan yang tidak memiliki batas. Dan di tengah semua itu, dua orang tetap berdiri, menahan gelombang pertama dari sesuatu yang belum menunjukkan ujungnya. Tiba-tiba, udara di sekitar mereka berdesis. Sebuah duri hitam melesat cepat, membelah kabut dan mengarah lurus ke arah kepala Ren.
Dalam sepersekian detik, ia memiringkan tubuhnya, membiarkan serangan itu melintas hanya beberapa inci dari wajahnya. Damian di sisi lain mengangkat pedangnya, menangkis duri kedua yang datang dari arah berbeda, benturannya memercikkan suara tajam di udara. Keduanya langsung mengangkat pandangan. Dari balik kabut, bayangan baru mulai muncul. Bukan berjalan di tanah, tapi melayang di udara. Sayap-sayap gelap mengepak pelan, mengoyak kabut di sekeliling mereka. Sekelompok iblis turun perlahan, mengitari area pertempuran seperti pemangsa yang baru saja menemukan mangsa yang terjebak. Imp dengan Tubuh kecil, kurus, dengan kulit berwarna merah darah dan mata tajam yang bersinar licik.
Mereka bergerak cepat di udara, ekor panjang mereka melengkung seperti sengat kalajengking, meneteskan racun yang bahkan dari jarak ini sudah bisa terasa aromanya yang menusuk. Dan Spike Devil dengan tubuh mereka lebih besar berwarna putih, sayapnya lebar, dengan kepala menyerupai burung pemangsa. Di tangan mereka, tombak panjang tergenggam erat, ujungnya berkilau samar, siap menembus apa pun yang berada di jalurnya, mereka tidak menyerang langsung, mereka mengelilingi Ren dan Damian dan membatasi pergerakan mereka.
“Oh bagus… makin lengkap aja,” ujar Damian dengan nada kesal, matanya bergerak cepat menghitung jumlah mereka. Satu langkah ia geser mendekati Ren, menjaga formasi tanpa perlu diperintah.
Ren menghela napas pelan, tapi genggaman pada pedangnya semakin erat.
“Jangan lengah. Yang di udara lebih berbahaya.”
Seolah menjawab, salah satu Imp menukik turun tiba-tiba. Gerakannya cepat, hampir tidak terlihat. Ekor beracunnya mengarah ke leher Damian, menusuk dengan presisi mematikan. Namun sebelum mengenai target, Ren sudah bergerak. Tebasannya memotong lintasan Imp itu di udara, membelah tubuh kecilnya menjadi dua bagian yang langsung jatuh tanpa suara.
Belum sempat mereka bernapas, tiga Imp lain langsung menggantikan. Di saat yang sama, Spike Devil mulai menyerang dari atas. Tombak mereka dilempar dengan kekuatan penuh, menghujani area di sekitar Ren dan Damian seperti hujan kematian. Tanah retak saat ujung tombak menghantam, beberapa menancap begitu dalam hingga getarannya terasa sampai ke kaki mereka. Damian memutar tubuhnya, menangkis satu, menghindari dua lainnya, namun tekanan serangan itu jelas berbeda dari sebelumnya.
“Hellhound di bawah, iblis di atas… seriusan ini ujian atau eksekusi?” geramnya.
Ren tidak menjawab. Matanya terangkat sedikit, menatap ke arah hutan yang lebih dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik kegelapan itu.
“Damian, kita harus gerak. Kalau terus begini kita makin terpojok.”
“Lu emang suka cari mati ya, Kapten.”
Tidak ada bantahan. Hanya langkah yang langsung bergerak.
Keduanya berlari menembus kedalam hutan tanpa ragu, menerobos celah sempit di antara kawanan Hellhound yang terus menerjang dari berbagai arah. Tanah hutan yang lembap terguncang oleh langkah mereka, bercampur dengan suara lolongan dan kepakan sayap yang semakin dekat. Imp menukik dari atas, Spike Devil melempar tombak dari kejauhan, sementara Hellhound di bawah terus mencoba menjatuhkan mereka dengan serangan brutal tanpa henti.
Ren menebas satu Hellhound di jalurnya tanpa melambat. Damian di belakangnya menghantam Imp yang mencoba menyergap dari sisi kanan, tubuh kecil itu terpental sebelum sempat menyentuh targetnya. Mereka tidak berhenti. Tidak bisa berhenti, namun semakin jauh mereka melangkah, tekanan itu tidak berkurang. Justru semakin berat. Gigitan mulai meninggalkan luka terbuka di lengan dan bahu mereka. Sengatan racun dari Imp mulai merambat pelan di dalam tubuh, membuat otot terasa kaku dan gerakan sedikit melambat. Tombak dari Spike Devil beberapa kali nyaris menembus pertahanan, bahkan satu di antaranya sempat menggores sisi tubuh Damian, meninggalkan luka yang cukup dalam hingga darah mengalir tanpa bisa langsung dihentikan. Napas mereka mulai tidak teratur, langkah mulai terasa berat, Tapi mereka tetap bergerak.
“Di kiri!” teriak Damian tiba-tiba.
Ren langsung memutar tubuhnya, menghindari dua Imp yang datang bersamaan. Pedangnya bergerak cepat, memotong satu di udara, tapi yang lain berhasil mendekat cukup jauh hingga ekornya menggores sisi lehernya. Rasa panas langsung menjalar, seperti api kecil yang menyebar di bawah kulit. Ren mendecak lidahnya namun dia tidak berhenti.
“Kapten… ini nggak ada ujungnya…” suara Damian terdengar lebih berat dari sebelumnya.
Ren tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam pedang lebih erat, ia mencoba berkonsetrasi dan memangil echonya namun dia tidak menemukan respon. dia sudah tidak memiliki tenaga yang cukup tersisa untuk itu. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, Ren benar-benar menyadari kondisi mereka dan mereka berdua sudah sampai pada batasnya.
“Terus jalan, kalau kita berhenti kita berdua mati!!” ucapnya akhirnya, suaranya lebih tegas.
Di belakangnya, Damian tersenyum tipis meski napasnya berat. Langkah mereka tidak berhenti, meski tubuh mulai melemah, meski luka terus bertambah, dan meski kabut di depan terasa seperti menelan mereka perlahan. Setiap gerakan kini terasa lebih lambat, lebih berat, seolah tubuh mereka dipaksa terus berjalan di luar batasnya. Hingga akhirnya, langkah itu terhenti. Di depan mereka, tanah hutan tiba-tiba berakhir pada sebuah tebing curam. Tidak ada jalur lanjutan, tidak ada celah untuk berputar. Hanya jurang terbuka dengan kedalaman yang membuat pandangan sejenak ragu untuk menatap terlalu lama. Angin dari bawah berhembus naik, membawa udara yang berbeda, lebih dingin, namun tidak seberat yang mereka rasakan di atas.
Ren berdiri di tepi, menatap ke bawah dengan mata menyipit. Di kejauhan, di dasar tebing, terlihat hamparan hutan yang luas, terbentang gelap namun lebih tenang, seolah tidak tersentuh oleh kabut hitam yang kini mengepung mereka. Pepohonan di sana tampak utuh, tidak terdistorsi oleh aura Necrotic yang sejak tadi menekan dari segala arah. Dan benar saja, Kabut itu berhenti di batas tepi tebing. Ia menggantung di atas, berputar seperti dinding hidup yang tidak berani turun lebih jauh. Tidak ada jejaknya di bawah sana. Tidak ada tekanan yang sama. Seolah dua dunia yang berbeda dipisahkan oleh satu garis tak terlihat.
Damian melangkah mendekat, menatap ke bawah beberapa detik sebelum melirik ke belakang. Suara geraman mulai kembali terdengar, semakin dekat, semakin jelas.
“...Kayanya itu jalan keluar kita.”