Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #21

Chapter 20 : Warisan Yang Tidak Pernah Mati

Pemandangan di bawah memperlihatkan hamparan hutan lebat yang membentang luas tanpa ujung yang jelas, gelap dan dalam, namun menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa bagi mereka. Tanpa jalur lain untuk mundur, Ren dan Damian mengambil keputusan dalam satu momen singkat, lalu menjatuhkan diri dari tepi tebing, membiarkan tubuh mereka terhempas bebas ke dalam rimbunnya pepohonan di bawah.

Angin menghantam tubuh mereka selama jatuh, namun dalam hitungan detik, ranting dan batang pohon mulai menyambut dengan benturan beruntun. Dahan-dahan patah di sepanjang lintasan, memperlambat laju jatuh mereka sedikit demi sedikit, meski setiap hantaman tetap terasa menyakitkan. Tubuh mereka terbanting berkali-kali sebelum akhirnya menghantam tanah dengan keras.

Dengan luka di sekujur tubuh dan darah yang masih mengalir dari kepalanya, Damian memaksakan diri untuk tetap sadar. Napasnya berat, terputus-putus, seolah setiap tarikan harus diperjuangkan. Pandangannya bergetar dan kabur setiap kali ia mencoba fokus. Dunia di sekelilingnya terasa berputar pelan, sementara denyut di kepalanya semakin kuat, akibat darah yang hilang terlalu banyak dalam waktu singkat.

Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun otot-ototnya terasa kaku dan berat, racun dari sengatan Imp masih menyebar di dalam tubuhnya. Setiap gerakan terasa tertahan, tidak sinkron, seperti tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri. Bahkan untuk mengangkat tangan saja terasa asing. Dengan susah payah, ia menundukkan pandangannya ke arah tubuhnya sendiri dengan napasnya yang sempat tersendat.

Di sisi kiri perutnya, luka robek terbuka jelas. Darah masih mengalir, membasahi pakaiannya dan merembes ke tanah di bawahnya. Setiap detak jantung seolah memperparah kondisi itu, memaksa darah keluar tanpa henti. Damian mendecak pelan, wajahnya menyeringai menahan rasa sakit yang mulai menumpuk dari berbagai arah. Tubuhnya bergetar dengan halus.

“...Sial,” gumamnya lirih,

Suaranya serak dan hampir tenggelam di antara suara dedaunan yang bergesekan pelan. Pandangannya bergerak perlahan, menyapu area di sekelilingnya yang tampak asing dan buram. Cahaya bulan hanya menembus sedikit dari sela-sela kanopi, menciptakan bayangan samar yang membuat segalanya terasa tidak pasti. Ia memaksa mengangkat tubuhnya, meski nyeri langsung menjalar dari perut hingga bahunya.

“Ren…” panggilnya pelan, hampir seperti bisikan yang dipaksakan keluar. Tidak ada jawaban. Giginya terkatup menahan rasa sakit saat ia mulai memaksa dirinya bergerak ke depan. Setiap langkah terasa seperti merobek luka yang belum sempat mengering, namun ia tetap maju. Ia tahu mereka jatuh berdekatan, seharusnya tidak jauh.

Daun-daun kering bergeser saat tubuhnya menyeret tanah, meninggalkan jejak samar di belakangnya. Kepalanya kembali terasa berat, pandangannya sempat menggelap sebelum ia memaksanya tetap terbuka. Beberapa meter di depan, sesuatu akhirnya tertangkap oleh penglihatannya. Sebuah sosok. Tubuh seseorang tergeletak di antara akar pohon besar, diam tanpa pergerakan. Untuk sesaat, jantung Damian seperti berhenti berdetak.

“...Ren,” ucapnya lagi, kali ini lebih jelas meski tetap lemah. Ia memaksakan diri mempercepat gerakannya, meski tubuhnya menolak. Ren terbaring miring, pedangnya masih tergenggam longgar di tangannya. Tubuhnya dipenuhi luka, lebih parah dari yang Damian bayangkan. Darah mengalir dari pelipisnya, membasahi sisi wajahnya hingga ke tanah di bawahnya. Damian menunduk di sampingnya, tangannya terangkat perlahan sebelum akhirnya menyentuh bahu Ren.

“Ren…” dia memanggil Ren dengan suaranya yang bergetar namun tidak mendapatkan respon dari Ren.

“Oi, bangun…” kali ini dia memanggil dengan lebih keras.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggeser tangannya ke leher Ren, mencari denyut nadi. Sejenak tidak ada apa-apa, hingga akhirnya… sebuah denyut halus terasa. Damian langsung menghela dengan lega.

“...Bangsat,” gumamnya pelan, antara kesal dan lega.

Tubuhnya akhirnya jatuh terduduk di samping Ren, tidak lagi mampu menahan dirinya. Kepalanya tertunduk, napasnya berantakan, sementara rasa sakit kembali menghantam dari segala arah. Untuk sementara… mereka masih hidup. Dan di bawah tebing itu, jauh dari kabut hitam yang mengamuk di atas, keheningan mulai mengambil alih. Sebuah jeda singkat, sebelum sesuatu yang lain perlahan mendekat.


****

Sinar matahari sore menghiasi kota Oswald, ibu kota kekaisaran, dengan cahaya hangat yang perlahan meredup. Langit terbentang luas dalam gradasi warna oranye keemasan, bercampur lembut dengan semburat merah di ufuk barat. Awan-awan tipis menggantung tenang, tersapu cahaya senja hingga tampak seperti goresan halus di atas kanvas langit. Bangunan-bangunan tinggi dengan arsitektur megah memantulkan sinar terakhir hari itu, menciptakan kilau lembut di setiap sudut kota. Jalanan yang sebelumnya ramai mulai melambat, namun kehidupan belum benar-benar berhenti. Bayangan memanjang di atas batu-batu jalan, mengikuti langkah para penduduk yang masih beraktivitas.

Angin sore berhembus ringan, membawa udara yang lebih sejuk dibandingkan siang hari. Daun-daun di sepanjang jalan bergetar pelan, menambah suasana tenang yang menyelimuti kota. Untuk sesaat, Oswald terlihat damai, seolah terlepas dari segala konflik yang mungkin terjadi di luar pandangan. Langit itu… bagaikan sebuah lukisan yang hidup, indah namun sementara, menandai bahwa hari akan segera berganti menjadi malam.

Ren masih mengenakan pakaian mercenary-nya, sebuah armor kulit berwarna hitam yang membalut tubuhnya dengan pedangnya tergantung di pinggang Ia berdiri di sebuah taman di ibu kota kekaisaran, menyilangkan tangan di depan dada. Angin sore berhembus pelan, menggerakkan helai rambut hitamnya dan dedaunan di sekitar taman. Suara kota terdengar samar dari kejauhan, cukup jauh untuk tidak mengganggu keheningan di sekitarnya. Ia tidak bergerak, hanya berdiri diam, membiarkan waktu berjalan tanpa benar-benar ia rasakan.

Di hadapannya, Giana berdiri tidak jauh, menikmati waktu berdua mereka di taman itu dengan ketenangan yang sederhana. Ia menatap langit senja, senyuman lembut terukir di wajahnya, seolah dunia di sekitarnya tidak memiliki beban sedikit pun. Cahaya keemasan dari langit memantul di mata biru Saphirnya, membuat ekspresinya terlihat hangat dan hidup. Pemandangan itu bukan hal yang asing bagi Ren. Setiap detailnya terasa seperti sesuatu yang pernah ia lihat, pernah ia rasakan, dan pernah ia miliki. Cara Giana tersenyum, cara ia menatap langit tanpa khawatir, bahkan cara angin menggerakkan rambutnya… semuanya terasa sama seperti dulu.

Kenangan yang perlahan naik ke permukaan, membawa Ren kembali pada masa di mana semuanya masih sederhana. Masa di mana mereka berdiri berdampingan sebagai sahabat bukan sebagai musuh, melainkan sebagai dua orang yang hanya menikmati waktu bersama tanpa beban. Sebelum semuanya berubah. Sebelum ia menjadi disebut pengkhianat oleh kekaisaran. Dan di tengah keheningan itu, Ren hanya bisa berdiri diam, menatap sosok di hadapannya… seperti seseorang yang melihat sesuatu yang sudah lama hilang, namun tidak pernah benar-benar ia lepaskan.

Sebuah suara halus seorang gadis kembali terlintas di kepalanya. Suara yang familiar, sama seperti yang pernah memperingatkannya di hutan utara. Lembut, namun terasa dekat, seolah tidak pernah benar-benar pergi darinya.

“Ini momen yang indah ya… gadis itu terlihat sangat bahagia saat bersama kamu.”

Ren menutup matanya sejenak, menarik napas perlahan sebelum kembali membukanya. Tatapannya jatuh pada Giana yang berdiri di hadapannya, senyumnya masih sama seperti yang ia ingat. Cerah, tulus, tanpa beban sedikit pun. Saat gadis itu memanggil namanya dengan nada ceria, sesuatu di dalam dirinya terasa menghangat… sekaligus menyakitkan.

Tatapannya melembut, namun ada bayangan yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Iya…” jawabnya pelan, suaranya rendah dan tertahan. “Sayangnya aku terlambat menyadarinya.”

Ia terdiam sejenak, matanya tidak pernah lepas dari sosok di depannya.

“Senyuman itu… sekarang sudah hilang,” lanjutnya lirih. “Dan aku… orang yang merampasnya.”

Angin sore kembali berhembus pelan, membawa keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Waktu seakan melambat di antara mereka, membiarkan setiap detik terasa lebih panjang dari seharusnya. Ren tetap berdiri di tempatnya, tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok di hadapannya. Beberapa saat kemudian, suara gadis itu kembali terdengar di dalam kepalanya. Lembut, namun cukup jelas untuk menembus pikirannya.

"Kamu masih nggak bisa memaafkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi?”

Ren terdiam. Rahangnya mengeras sedikit, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan begitu saja.

“Nggak akan pernah… dan nggak akan bisa,” jawabnya pelan dengan suaranya yang datar.

“Nyawa Professor Theresa dan Dr. Connor hilang begitu saja gara-gara aku… dan juga…”

Kalimatnya menggantung. Tatapannya kembali terangkat, jatuh pada Giana yang masih tersenyum di bawah langit senja itu. Untuk sesaat, ekspresinya melemah, sesuatu di dalam dirinya retak perlahan.

Lihat selengkapnya