Sementara itu, waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Camp Academy menggelar rapat darurat yang dipimpin langsung oleh kepala Academy, George Akhsam. Pria itu duduk di ujung meja panjang dengan postur tegap, aura kepemimpinannya terasa kuat memenuhi ruangan. Rambut emasnya disisir rapi ke belakang, memantulkan cahaya pagi yang masuk melalui jendela besar. Sepasang mata emasnya tajam, menatap serius ke arah seluruh orang yang hadir di ruangan itu. Suasana di dalam ruangan terasa tegang, seolah setiap detik yang berlalu membawa tekanan yang semakin berat.
Di sampingnya berdiri Jordyn Arter, instruktur kelas pedang sekaligus penanggung jawab keamanan Academy. Tubuhnya tinggi seratus delapan puluh sentimeter dan berbadan kekar, memperlihatkan pengalaman tempur yang tidak perlu diragukan. Sebuah great sword besar tersandang di punggungnya, menjadi simbol kekuatan yang selalu siap digunakan kapan saja. Rambut coklatnya dipotong pendek dan rapi, kontras dengan sorot mata hitam pekat yang dingin dan fokus. Ia berdiri dengan sikap siaga, seperti seorang penjaga yang siap menghadapi ancaman kapan pun datang.
Di sisi lainnya, Loretta Nesslein turut hadir sebagai perwakilan dari divisi sihir. Wanita itu memiliki tinggi sekitar seratus enam puluh sembilan sentimeter dengan postur yang anggun dan terjaga. Kulitnya putih bersih, dipadukan dengan rambut panjang berwarna ungu yang terurai hingga menyentuh punggungnya. Helai rambut itu bergerak lembut mengikuti aliran udara di dalam ruangan, memberi kesan tenang yang kontras dengan situasi yang ada. Sepasang mata violetnya memancarkan kecerdasan sekaligus ketajaman analisis. Ia tidak banyak bicara, namun kehadirannya saja sudah cukup menunjukkan bahwa situasi ini berada pada tingkat yang serius.
Dan di antara mereka, hadir pula sang putri kekaisaran, Giana Von Oswald, sebagai perwakilan langsung dari keluarga kerajaan. Ia duduk dengan anggun di sisi meja rapat, mengenakan seragam Academy yang telah disesuaikan dengan simbol keluarga kekaisaran. Rambut birunya tertata rapi, jatuh lembut mengikuti garis bahunya. Sepasang mata biru safirnya tampak tenang, namun menyimpan ketegangan halus di balik ekspresi yang ia jaga dengan sempurna. Di sampingnya, Maxith Sternmark berdiri tegap, setia mengawal tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun dari sekeliling.
“Baik, pertama-tama saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Anda dalam rapat darurat ini, Yang Mulia,” ucap George membuka rapat dengan nada formal. Ia sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan, gesturnya tenang namun penuh etika. “Dan saya juga merasa lega melihat Anda dalam keadaan baik-baik saja.” Suaranya terdengar jelas, cukup untuk memenuhi ruangan tanpa perlu ditinggikan. Semua perhatian seketika tertuju pada percakapan itu.
Giana tidak langsung menjawab. Ia menatap George dengan ekspresi datar, namun sorot matanya tajam dan penuh tekanan. Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum akhirnya ia membuka suara.
“Kepala Academy… kenapa kejadian ini bisa terjadi?” tanyanya tenang. Ia sedikit memiringkan kepalanya, tanpa melepaskan tatapan dari George. “Bukankah keamanan Academy seharusnya sudah terjamin dengan baik?”
Mendengar pertanyaan dari sang putri yang sarat tekanan meski disampaikan dengan tenang, suasana di dalam ruangan seketika mengeras. Tidak ada nada tinggi, namun makna di balik kata-katanya begitu jelas, menyiratkan ketidakpuasan yang tidak bisa diabaikan. George dan Jordyn saling bertukar pandang sekilas, sebelum akhirnya keduanya menundukkan kepala. Sikap itu bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga pengakuan atas kelalaian yang tidak bisa mereka sangkal. Keheningan sesaat terasa menekan, seolah memberi ruang bagi rasa bersalah yang menggantung di udara.
“Mohon maaf, Yang Mulia. Kejadian ini berada di luar prediksi kami,” jawab George dengan suara tenang namun berat. Ia tetap menundukkan kepala sejenak sebelum kembali mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan dengan ekspresi serius. “Saya dapat menjamin bahwa Jordyn memiliki kompetensi penuh dalam menangani keamanan Academy. Namun kali ini… situasinya benar-benar melampaui perkiraan kami semua.” Nada bicaranya terukur, tidak tergesa, seolah setiap kata telah ia timbang dengan hati-hati. Ia tidak mencoba membela diri, hanya menyampaikan fakta dengan tanggung jawab yang ia pikul.
Jordyn kemudian melangkah maju mendekati meja, berhenti beberapa langkah di hadapan Giana sebelum menundukkan tubuhnya dalam hormat. Gerakannya tegas dan disiplin, mencerminkan latar belakang militernya yang kuat. Tatapannya tetap tajam, namun kini dibalut oleh kesadaran penuh atas kesalahan yang terjadi. Ia tidak membuang waktu dengan penjelasan panjang, langsung menyampaikan inti yang ingin ia sampaikan. “Mohon maaf, Yang Mulia,” ucapnya singkat, namun sarat tekanan. “Saya pastikan… hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”
Giana menatapnya dalam diam selama beberapa detik, ekspresinya tetap tenang tanpa perubahan yang berarti. Tidak ada pujian, tidak ada teguran tambahan, hanya penilaian yang tidak diucapkan secara langsung. Ia kemudian mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat halus agar Jordyn kembali ke posisinya. Tanpa banyak kata, Jordyn memahami maksud itu dengan jelas. Ia kembali menunduk singkat sebelum berbalik dan kembali ke kursinya, duduk dengan sikap tegap seperti sebelumnya.
“Jujur saja… saya merasa agak kecewa dengan kejadian ini,” ucap Giana dengan suara tenang, namun jelas mengandung tekanan yang tidak ringan. Ia tidak meninggikan nada bicaranya, namun setiap kata yang keluar terasa tegas dan terukur. Tatapannya tetap lurus ke depan, tidak goyah sedikit pun menghadapi kepala Academy dan para instruktur.
“Ini adalah ujian penting bagi para siswa dan siswi di Academy ini, demi masa depan mereka di dalam kekaisaran.” Ia berhenti sejenak, memberi jeda yang justru membuat suasana semakin menegang.
“Namun yang terjadi justru sebaliknya,” lanjutnya pelan. “Nyawa para siswa dan siswi di sini terancam oleh pihak luar.” Sorot matanya mengeras sedikit, meski ekspresinya tetap terkendali. Tidak ada emosi berlebih yang ia tunjukkan, namun kekecewaan itu terasa jelas di balik ketenangan yang ia pertahankan. Ruangan kembali terdiam, tidak ada yang berani memotong ucapannya.
“Saya harap pihak Academy sudah menyiapkan langkah antisipasi untuk hal seperti ini,” tutupnya tegas. Ia menyandarkan punggungnya dengan perlahan, tetap menjaga posturnya yang anggun. Tidak ada tambahan kata, namun pesan yang ia sampaikan sudah lebih dari cukup untuk dipahami semua orang di ruangan itu.
“Tentu, Yang Mulia. Kami telah menerima laporan terkait kejadian ini,” jawab George dengan nada yang tetap tenang. Ia sedikit menegakkan posturnya, berusaha menunjukkan kendali atas situasi yang sedang dibahas.
“Kami tidak akan membiarkan situasi ini berlarut tanpa tindakan.” Ucapannya singkat, namun cukup untuk menunjukkan keseriusan yang ia maksud.
“Jordyn akan segera mengerahkan para instruktur senior dari divisi pedang untuk memasuki area hutan,” lanjutnya dengan suara lebih tegas. Ia melirik sekilas ke arah pria di sampingnya, seolah memastikan kesiapan yang dimaksud benar-benar ada. “Fokus utama mereka adalah mengevakuasi para siswa yang masih berada di dalam dan memastikan jalur aman untuk keluar.”
“Dan Nyonya Loretta akan mendukung dari sisi sihir bersama para instruktur dari divisi magic,” tambahnya tanpa jeda panjang. “Mereka akan membantu dalam pelacakan, perlindungan, serta penanganan ancaman yang tidak bisa diatasi secara fisik.” Ia kemudian mengakhiri penjelasannya dengan napas yang lebih terkontrol. Semua rencana telah disusun, kini hanya tinggal pelaksanaannya.
Giana memejamkan matanya sejenak, menarik napas perlahan sebelum kembali membukanya. Tatapannya beralih menyapu seluruh ruangan, berhenti pada masing-masing orang yang hadir tanpa terburu-buru. Ia tidak langsung berbicara, seolah memberi waktu bagi suasana untuk benar-benar diam. Lalu, tanpa perubahan nada yang berarti, ia akhirnya mengajukan pertanyaan.
“Semua siswa… termasuk Ren Flarehart dan Damian Seraphim?” ucapnya pelan.
Begitu dua nama itu disebutkan, ruangan seketika terdiam. Keheningan yang tercipta terasa berbeda, lebih berat, seolah setiap orang menyadari makna di balik pertanyaan tersebut. Nama itu bukan sekadar daftar siswa, melainkan dua individu dengan status yang tidak pernah benar-benar diterima sepenuhnya. Dua orang yang di cap sebagai kriminal dan pengkhianat kekaisaran dan juga belum benar-benar dibebaskan dari masa lalu mereka. Jordyn dan Loretta saling bertukar pandang singkat. Tidak ada kata yang keluar, namun ekspresi di wajah mereka cukup jelas untuk dibaca. Ketidaksetujuan tersirat halus tanpa ada kata yang terucap. Sementara itu, George tidak langsung merespon. Ia terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang mempertimbangkan sesuatu dengan serius.
“Mohon maaf, Yang Mulia… meskipun mereka berdua terdaftar sebagai siswa Academy, saya meragukan keterlibatan mereka tidak ada dalam insiden ini,” ucap Jordyn akhirnya.
Suaranya tegas tanpa ragu, mencerminkan keyakinan yang sudah ia pegang sejak awal. Tatapannya lurus ke depan, tidak berusaha menghindari tekanan dari sang putri. Baginya, situasi ini terlalu janggal untuk dianggap sebagai kebetulan semata. Nama Ren dan Damian membawa terlalu banyak bayangan masa lalu yang sulit diabaikan.
“Saya setuju,” sambung Loretta tanpa menunggu lama.
Nada bicaranya lebih halus, namun isi ucapannya tidak kalah tajam.
“Terlebih lagi… keduanya belum kembali ke camp sejak ujian dimulai.”