Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #23

Chapter 22: Roda Takdir Mulai Berputar

Sementara itu, di tenda tim Sigma, suasana terasa jauh lebih berat dibandingkan biasanya. Seluruh anggota tim telah berkumpul di dalam, ditambah kehadiran Rose yang berdiri tidak jauh dari mereka. Julia yang memanggil pertemuan itu berdiri di tengah ruangan, berusaha menjaga agar diskusi tetap terarah. Tidak ada suara berlebihan, hanya keheningan yang dipenuhi ketegangan. Setiap orang tampak memikirkan hal yang sama, meski tak satu pun mengucapkannya secara langsung.

Kieran, yang baru kembali ke Camp Academy pagi itu, berdiri dengan tubuh yang masih dibalut perban. Langkahnya sedikit kaku, namun ia tetap memaksakan diri untuk hadir. Tatapannya bergerak perlahan, mengamati ekspresi rekan-rekannya yang muram dan tidak biasa. Alisnya berkerut, jelas kebingungan dengan suasana yang ia temui. Ia belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi selama ia tidak berada di sana. Di sisi lain, Rose berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang tidak ia sembunyikan. Tatapannya tajam, sesekali mengarah ke lantai seolah menahan sesuatu yang ingin ia lontarkan. Keberadaannya justru membuat tekanan di dalam tenda semakin terasa.

Olivier berdiri di dekat meja, menatap peta lokasi ujian yang terbentang di hadapannya. Matanya bergerak perlahan mengikuti jalur-jalur yang tergambar, memperhatikan setiap detail dengan saksama. Ia tidak banyak berbicara, namun jelas sedang menganalisis situasi secara serius. Sikapnya tenang, tetapi fokusnya terasa tajam dan terukur. Sementara itu, Altheya berdiri sedikit terpisah dari yang lain. Tatapannya tidak pernah lepas dari arah hutan di kejauhan. Ia diam tanpa kata, seolah pikirannya tidak berada di dalam tenda itu. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang sulit ia abaikan. Seakan sebagian dari dirinya masih tertinggal di sana… bersama seseorang yang belum kembali.

“Si bego itu belum balik juga, Kak? Ngapain aja sih tuh anak… sok-sokan jadi pahlawan, padahal dia itu kriminal. Nggak cocok jadi pahlawan,” ujar Rose dengan nada kesal. Suaranya memecah keheningan di dalam tenda, terdengar lebih tajam dari sebelumnya. Tangannya masih terlipat erat, ekspresinya jelas menunjukkan amarah yang belum mereda. Namun di balik kata-katanya, terselip kegelisahan yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

“Rose, jaga ucapanmu,” tegur Julia dengan nada tegas. Tatapannya langsung mengarah pada adiknya, tidak memberi ruang untuk membantah. “Kakak sudah bilang berkali-kali… bicara yang sopan.” Suaranya tidak meninggi, tetapi cukup untuk menghentikan ketegangan agar tidak berkembang lebih jauh. Ia berdiri tegap, menjaga wibawa sebagai komandan tim, meski kelelahan tipis tampak di balik sikap tenangnya.

Rose mendengus pelan, jelas tidak puas dengan teguran itu. Ia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Julia. Tangannya masih terlipat kuat, seakan menahan emosi yang belum tersalurkan. Namun kali ini ia memilih diam. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, meski tidak lagi setenang sebelumnya.

“Komandan… belum ada kabar dari Ren?” tanya Olivier akhirnya. Suaranya tenang, namun jelas membawa beban yang sama seperti yang lain. Ia tidak mengalihkan pandangan dari peta di hadapannya, tetap berusaha mempertahankan fokus.

“Belum ada kabar dari Ren. Kita masih menunggu keputusan pihak Academy terkait masalah ini,” jawab Julia dengan tenang. Ia menjaga nada suaranya tetap stabil, meski jelas situasi yang mereka hadapi bukan hal kecil. “Ren termasuk kasus yang khusus.”

Keheningan kembali turun sesaat setelah ucapannya selesai. Namun suasana itu tidak bertahan lama.

“Mereka tidak akan berniat menyelamatkannya,” ucap Altheya dengan suara dingin. Tatapannya tetap mengarah ke luar tenda, tidak menoleh pada siapa pun di dalam ruangan. Nada bicaranya datar, namun cukup untuk membuat tensi meningkat kembali.

“Kalian para manusia hanya peduli pada diri sendiri. Kalian tidak akan mungkin berkorban demi orang lain,” lanjutnya tanpa emosi. Kata-katanya terdengar tajam, seolah sudah menjadi kesimpulan yang tidak bisa digoyahkan.

Olivier yang mendengar itu terdiam sejenak. Ia menatap Altheya dengan ekspresi tenang sebelum akhirnya berbicara.

“Altheya… bukankah itu terlalu berlebihan?” ucapnya pelan. “Saya kira kamu mulai membuka hatimu pada manusia.”

Altheya menutup matanya sekejap.

“Tidak akan. Dan tidak akan pernah,” jawabnya singkat.

Nada itu tidak meninggi, namun ketegasannya tidak memberi ruang untuk dibantah. Mendengar hal tersebut, Rose mengerutkan alisnya, merasa ada sesuatu yang janggal dalam jawaban Altheya. Ia memandang ke arah gadis itu dengan tatapan menyelidik.

“Kalau Ren?” tanya Rose akhirnya, nadanya lebih rendah dari sebelumnya.

Pertanyaan itu membuat Altheya terdiam. Ia menghembuskan napas perlahan, lalu mengalihkan pandangannya ke luar tenda. Pintu tenda yang terbuka memperlihatkan hamparan hutan utara di kejauhan, pepohonan yang berdiri sunyi di bawah cahaya pagi. Tatapannya melembut, meski hanya sedikit.

“Dia berbeda,” jawabnya singkat.

Tidak ada penjelasan tambahan. Namun bagi yang mengenalnya, satu kalimat itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa Ren tidak pernah ia tempatkan dalam kategori yang sama dengan yang lain.

“Hei-hei… bukannya ini terlalu tegang? Sebenarnya apa saja yang terjadi padanya?” tanya Kieran, akhirnya angkat suara setelah sejak tadi hanya mendengarkan tanpa memahami konteks pembicaraan.

Olivier menghela napas pelan sebelum menjawab. Ia mulai menjelaskan satu per satu kejadian yang mereka alami, mulai dari konflik antara Ren dan sang putri kekaisaran, bergabungnya Olivier bersama Royal Knights di ujian ini, hingga keputusan Ren untuk menjadikan dirinya sebagai umpan agar yang lain bisa kembali dengan selamat.

Kieran terdiam sesaat, memproses informasi yang baru saja ia dengar. Lalu ia mengerutkan alisnya dengan ekspresi tak percaya.

“Tunggu… tunggu!? Ren kenal dengan si putri!? Dan tadi kamu bilang apa, Kapten? Dia jadi umpan!? Ini Ren, loh! Kalian yakin tidak sedang bercanda?” tanyanya dengan nada terkejut, matanya membesar menuntut kepastian.

Mendengar reaksi itu, Olivier menggeleng pelan. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap Julia sejenak untuk melihat responsnya. Julia berdiri tenang di tempatnya, mempertahankan poker face yang nyaris sempurna. Ekspresinya tidak menunjukkan emosi apa pun, namun jelas ia sedang mempertimbangkan situasi dengan sangat hati-hati. Ia tidak bisa membocorkan informasi terkait Ren sembarangan. Terlebih lagi, ia belum sepenuhnya bisa mempercayai Olivier sepenuhnya. Suasana kembali hening. Kali ini bukan karena ketegangan, melainkan karena semua orang mulai menyadari bahwa situasi yang mereka hadapi jauh lebih besar daripada yang mereka kira.

Tak lama sending stone milik Olivier menyala, itu merupakan sending stone yang sebelumnya di berikan kepada Giana untuk komunikasi antar tim selama ujian ini. Olivier mengeritkan alisnya sebelumnya, melihat kearah sekitar dan menjawab palnggilan tersebut.

“Ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia?”

“Selamat pagi, Tuan Galliard. Saya ingin sekali lagi meminta bantuan Anda.”

Suara Giana terdengar jelas di dalam ruangan melalui sihir komunikasi. Nada bicaranya tenang, namun membawa kesan serius yang langsung terasa oleh semua yang mendengarnya. Seketika, Julia menoleh dengan ekspresi terkejut, tidak menyangka pesan itu akan datang secepat ini. Suasana tenda yang sebelumnya tegang kini berubah menjadi lebih waspada. Olivier melirik Julia sejenak, menunggu konfirmasi sebelum merespons lebih jauh. Tatapannya tidak mendesak, hanya memastikan bahwa keputusan berada di tangan pemimpin tim. Julia memahami isyarat itu dengan baik. Setelah beberapa detik pertimbangan singkat, ia mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan.

“Bisa dijelaskan lebih lanjut, Yang Mulia?” ujar Olivier dengan nada hati-hati. Ia menjaga sikapnya tetap formal, namun jelas ingin memahami situasi secara menyeluruh.

“Rapat dengan pihak Academy tidak berjalan lancar,” jawab Giana melalui sihir komunikasi. “Respon mereka terhadap masalah ini kurang baik dan terkesan lamban. Mereka bahkan menaruh curiga jika Ren terlibat dengan pelaku dari insiden ini, namun saya masih memiliki urusan yang harus diselesaikan dengan Ren Flarehart apapun yang terjadi, tetapi pergerakan saya sebagai putri pertama kekaisaran saat ini tidak bisa sepenuhnya bebas dalam situasi seperti ini.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Bisakah Anda membantu saya?”

Mendengar itu, Altheya melirik ke arah Olivier sekilas sebelum akhirnya menyela tanpa basa-basi.

“Sepertinya mereka akan membiarkan Ren dan Damian mati begitu saja… bahkan setelah dia menyelamatkan Anda, ya, Yang Mulia?” ucapnya dengan nada dingin dan penuh sindiran.

Lihat selengkapnya