Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #24

Chapter 23 : Antara Dia dan Aku

Waktu berlalu tanpa terasa. Giana kini telah tiba lebih dahulu di lokasi pertemuan yang ia tentukan bersama Olivier. Ia berdiri diam di tengah area terbuka itu, menatap sekeliling dengan penuh perhatian. Langit sudah mendekati tengah hari, cahaya matahari jatuh di antara pepohonan, namun pikirannya sama sekali tidak seterang suasana di sekitarnya. Bayangan kejadian tadi malam terus kembali menghantuinya.

Ia teringat saat Ren melangkah mundur tanpa ragu dan meminta agar ia melepaskan genggaman yang sempat menahannya. Tatapan pria itu tetap tenang, tidak menunjukkan penyesalan, seolah keputusan tersebut sudah ia pikirkan jauh sebelumnya. Yang paling menyakitkan baginya adalah pilihan itu. Sekali lagi Ren memilih untuk menjauh darinya, seakan jarak adalah satu satunya cara untuk menyelesaikan semuanya.

“Ren…” bisiknya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin hutan. “Aku benar benar tidak mengerti. Sejauh itu kamu menjauh dariku. Kenapa?”

Tanpa ia sadari, jemarinya mengencang di sekitar tongkat yang ia pegang. Buku buku jarinya memucat, menahan emosi yang perlahan naik ke permukaan. Di dalam hutan itu, sisa sisa sihir necrotic masih terasa samar di udara, jejak pertempuran yang belum sepenuhnya menghilang. Namun bukan itu yang paling menarik perhatiannya. Yang ia rasakan jauh lebih kuat dari segala jejak sihir di sekitarnya adalah keberadaan Ren. Ia tidak tahu seberapa jauh jaraknya, tidak tahu dalam kondisi seperti apa ia berada, tetapi ia bisa merasakannya. Seolah sebagian dari dirinya terus tertarik ke arah yang sama. Di tengah bahaya dan ancaman yang belum jelas, satu hal tetap tidak berubah dalam hatinya. Ia datang bukan hanya untuk tugas. Ia datang karena tidak sanggup membiarkan Ren menghilang dari hidupnya lagi.

Giana merasakan beberapa kehadiran mendekat ke arahnya. Instingnya segera bereaksi, dan ia meningkatkan kewaspadaan tanpa menunjukkan gerakan berlebihan. Tangannya tetap memegang tongkat dengan stabil, namun sorot matanya berubah menjadi lebih tajam. Ia tidak ingin lengah, terutama di tempat seperti ini. Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu muncul di antara pepohonan. Julia berjalan di depan, memimpin Tim Sigma ditambah dengan Rose.

Saat menyadari siapa yang datang, tatapan Giana langsung mengarah pada Julia. Ekspresinya berubah halus, namun cukup jelas untuk menunjukkan ketidaksenangannya. Ia tidak menyembunyikan perasaan itu, meski tetap menjaga sikap sebagai seorang putri kekaisaran. Keberadaan Julia sebagai bagian dari Academy sekaligus perwakilan kekaisaran membuat situasi ini semakin kompleks. Di antara mereka, udara terasa sedikit mengeras.

“Selamat siang, Yang Mulia. Jadi, apakah kita bisa mendiskusikan rencana Anda lebih lanjut?” sapa Julia dengan nada formal. Ia berdiri tegap di hadapan Giana, menunjukkan sikap profesional tanpa mengurangi kewaspadaan.

“Selamat siang, Nona Brown,” jawab Giana dengan sopan. “Tentu saja, Nona Brown.” Nada bicaranya tetap terkendali, meski sorot matanya masih menyimpan ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.

Julia mengangguk singkat sebelum melanjutkan. “Baik, terima kasih. Namun sebelum itu…” Ia menoleh sekilas ke arah Olivier dan Rose. “Olivier, bisakah kamu bersama Rose mengawasi area sekitar? Pastikan tidak ada jejak iblis di wilayah ini.”

Olivier langsung memahami maksud perintah tersebut. Ia mengangguk tanpa ragu, ekspresinya kembali serius. Rose mengikuti gerakannya, tidak mengajukan bantahan apa pun. Keduanya segera bergerak ke arah berbeda, menyebar untuk mengamati lingkungan sekitar dengan waspada. Langkah mereka perlahan menjauh, menyisakan Julia dan Giana di area pertemuan itu, dengan ketegangan yang kembali terasa di antara dua pihak yang berbeda kepentingan.

“Yang Mulia tidak perlu terlalu tegang,” ucap Altheya lebih dulu, memecah suasana yang sempat membeku. Nada suaranya tetap dingin, namun kali ini tidak sekeras sebelumnya. “Ren mempercayai Komandan. Kami berada di pihaknya.”

Giana tidak langsung merespons. Tatapannya bergerak perlahan antara Altheya dan Julia, mempertimbangkan setiap kata yang baru saja diucapkan. Meskipun ia telah berulang kali mengawasi Ren melalui Scrying Eyes miliknya, ia tidak pernah melihat tanda yang jelas bahwa Ren benar-benar menaruh kepercayaan penuh pada komandan timnya. Keraguan itu masih bertahan di dalam benaknya.

Melihat ketidakpastian tersebut, Julia kembali angkat bicara. “Saya mengenal Professor Theresa,” ujarnya tenang. “Bukan sekadar kenal.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih serius. “Beberapa tahun lalu saya pernah ditugaskan untuk mengawalnya dalam penelitian. Hubungan kami cukup dekat.” Sorot matanya tetap stabil saat ia melanjutkan, “Saya bersumpah, meskipun saat ini saya ditugaskan sebagai pengawas Ren, saya tidak memiliki niat apa pun untuk membahayakan nyawanya maupun Damian.”

Giana memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Julia. Nada bicaranya terdengar konsisten, tanpa keraguan atau kebohongan yang bisa ia rasakan. Namun, justru karena terlalu rapi dan terstruktur, penjelasan itu terasa hampir terlalu sempurna untuk situasi seperti ini. Meski demikian, untuk saat ini ia tidak memiliki banyak pilihan selain menerima kerja sama tersebut.

“Baiklah,” ucap Giana akhirnya. “Untuk sementara, saya setuju kita bekerja sama. Namun saya akan tetap mengawasi Anda.” Tatapannya kemudian ke dalam hutan dimana Olivier dan Rose berjalan. “Bagaimana dengan yang lain?”

“Saya bisa menjamin Altheya dan Rose,” jawab Julia dengan tegas. “Namun untuk Olivier, saya belum bisa sepenuhnya terbuka. Kakaknya merupakan anggota Royal Paladin, dan untuk saat ini saya belum bisa mempercayainya sepenuhnya.”

Mendengar penjelasan itu, Giana mengangguk perlahan. Ia memahami alasan kehati-hatian tersebut.

“Baik,” katanya. “Namun saya sarankan kalian tidak terlalu dekat dengannya. Terutama Anda, Nona Ishana.”

Nada suaranya tetap formal, tetapi ketidak-sukaannya terhadap Altheya tersampaikan dengan jelas. Ucapan itu membuat suasana sedikit mengeras. Altheya menatapnya sekilas, rahangnya mengencang, namun ia tidak langsung membalas. Ketegangan halus kembali terbentuk di antara keduanya.

“Saya memang tahu bahwa Anda dan Ren pernah berteman di masa lalu,” ucap Altheya dengan nada terkontrol. “Namun bukankah Anda terlalu jauh dengan meminta saya menjauhinya, padahal ia adalah rekan satu tim saya?”

Pertanyaannya terdengar tenang, tetapi mengandung penolakan yang jelas. Tatapannya tidak menghindar dari Giana, menunjukkan bahwa ia tidak berniat mundur begitu saja. Mendengar itu, Giana tersenyum tipis. Namun senyuman tersebut bukanlah senyum hangat. Ada nada mengejek yang samar di dalamnya, cukup untuk membuat suasana kembali memanas.

“Rekan tim?” balas Giana pelan. “Bukankah saya sudah mengatakan sebelumnya bahwa kalian tidak pantas berada di sisinya?” Ia melanjutkan dengan nada yang lebih tajam dari sebelumnya. “Kalian tidak memahami apa pun tentangnya. Tentang siapa yang Ren sebenarnya anggap sebagai seorang rekan. Tentang tempat pulangnya yang telah dirampas oleh kekaisaran. Dan juga…”

Ia terdiam sejenak. Hening itu terasa lebih berat dari kata-kata apa pun. Sorot matanya berubah. Ejekan yang tadi terlihat perlahan menghilang, digantikan oleh kesedihan yang sulit ia sembunyikan. Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, ekspresinya tidak lagi sepenuhnya terkendali. Luka lama yang selama ini ia tahan kembali muncul ke permukaan.

“Juga keluarga yang akhirnya ia miliki… yang direbut darinya dengan kejam, tepat di depan matanya sendiri.”

Kata-kata itu jatuh perlahan di antara mereka, meninggalkan keheningan yang berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi sekadar ketegangan, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Altheya terdiam. Untuk sesaat, ia tidak langsung membalas. Sorot matanya melembut, meski ia tetap berdiri tegak. Di antara mereka, nama Ren kini terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.

“Bagi saya, Ren bukan sekadar teman,” ucap Giana dengan suara yang lebih lembut namun penuh penekanan. “Ia adalah orang yang paling saya sayangi di dunia ini… selain orang tua saya, serta Tante Theresa dan Paman Connor.”

Ia kemudian menarik ponselnya dari balik seragam Academy. Gerakannya tidak terburu-buru, seolah ia ingin memastikan setiap orang melihat apa yang akan ia tunjukkan. Layar perangkat itu menyala, menampilkan sebuah foto yang menjadi bukti paling kuat yang ia miliki. Di layar tersebut terlihat sebuah foto selfie mereka berdua di sebuah taman hiburan. Giana mengenakan gaun putih polos, sederhana namun elegan. Ia memakai kacamata hitam berbentuk kotak yang menutupi mata biru safirnya, jelas sebagai penyamaran untuk menghindari perhatian publik. Wajahnya tersenyum lebar, pipinya merona, dan kebahagiaan terpancar tanpa bisa disembunyikan.

Di sampingnya, Ren berdiri dengan kemeja hitam yang dibiarkan terbuka di atas kaus putih polos. Ia mengenakan kacamata putih berbentuk bulat dengan lensa bening yang memperlihatkan mata peraknya yang tenang dan seindah cahaya rembulan. Ren tersenyum dengan tipis, namun jelas tulus. Senyum yang berbeda dari ekspresi dinginnya saat ini… senyum yang tidak pernah lagi ia tunjukkan setelah insiden empat tahun lalu. Foto tersebut diambil di taman hiburan di Kota Trisha, ibu kota kekaisaran, saat mereka menghabiskan waktu bersama di sela kesibukan Ren sebagai seorang mercenary.

“Ren bukan hanya teman saya,” lanjut Giana dengan suaranya yang kini lebih tegas. “Ia adalah tunangan saya. Jadi, tolong jauhkan niat kalian dari tunangan saya.”

Senyum di wajahnya berubah menjadi senyum kemenangan yang tenang. Ia menatap Altheya dan Julia dengan tatapan penuh keyakinan, seolah tidak ada yang bisa membantah bukti di tangannya. Baginya, hubungan itu bukan sekadar kata-kata, melainkan kenyataan yang telah ia jaga selama ini. Julia terdiam, matanya melebar sesaat sebelum ia kembali mengendalikan ekspresinya. Keterkejutan itu sulit disembunyikan, meski ia berusaha mempertahankan ketenangannya sebagai komandan. Di sisi lain, wajah Altheya memucat perlahan. Tatapannya terpaku pada layar ponsel itu, seolah gambar di dalamnya baru saja menembus pertahanannya. Napasnya terasa tertahan di dada, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan ini dimulai, ia benar-benar kehilangan kata-kata. Tidak ada bantahan yang keluar, tidak ada respons yang bisa ia ucapkan. Hanya hening yang menggantung di antara mereka.

Foto itu kini bukan sekadar gambar. Ia berubah menjadi bukti yang nyata, sekaligus simbol hubungan yang tidak bisa diabaikan. Di saat yang sama, ia juga menjadi sumber konflik baru yang perlahan menggeser keseimbangan emosi di tempat itu. Melihat reaksi keduanya, Giana kembali berbicara dengan semakin menekankan hubungan mereka berdua.

“Dia tidak pernah mengatakannya, bukan?” ucapnya pelan. “Tentu saja tidak. Dia tidak akan berani.” Tatapannya melembut sejenak. “Saya tahu dia peduli pada keselamatan saya. Ia sengaja menjauh agar nama saya tidak tercoreng oleh rumor yang tidak perlu.”

Ia menggeleng perlahan.

“Tapi saya tidak peduli dengan rumor.” Nada suaranya kini lebih hangat dengan penuh keyakinan. “Bagi saya, Ren adalah orang yang menyadarkan bahwa saya bukan sekadar pajangan di istana. Bukan simbol kekaisaran yang hanya berdiri tanpa suara.”

Sorot matanya berubah, memancarkan tekad yang kuat.

Lihat selengkapnya