Sementara itu, di sisi lain hutan, Ren dan Damian melangkah berdampingan semakin jauh ke dalam area yang dipenuhi bayangan pepohonan. Tujuan mereka jelas, menemukan magic circle serta dalang di balik seluruh kejadian ini. Namun semakin dalam mereka bergerak, semakin pekat pula energi necrotic yang memenuhi udara hutan utara tersebut. Aura itu terasa menekan, seolah setiap langkah membawa mereka lebih dekat ke pusat sumbernya. Kawanan iblis yang berkeliaran juga semakin sering muncul, memaksa mereka tetap waspada setiap saat.
Mereka tidak pernah benar benar membelakangi satu sama lain. Punggung mereka saling terlindungi, gerakan mereka terkoordinasi tanpa perlu banyak kata. Di tengah situasi yang terus berada di ambang bahaya, keduanya bergerak seperti satu kesatuan, bertahan di antara garis tipis kehidupan dan kematian yang seolah selalu mengintai di depan mata.
“Gue rasa ini benar-benar ide gila, Kapten!” ujar Damian dengan nada kesal sambil menebas imp yang melesat ke arahnya.
“Emang gila,” balas Ren singkat sambil mengayunkan senjatanya, menebas hellhound yang menerjang dari sisi lain. “Kan udah gue bilang, bego.”
Serangan iblis semakin meningkat, datang dari berbagai arah tanpa jeda. Namun Ren menyadari sesuatu sejak beberapa saat terakhir. Indranya terasa lebih tajam dari biasanya. Ia bisa merasakan aliran energi necrotic dengan lebih jelas, seolah sumbernya sedang memanggil mereka semakin dekat. Setiap iblis yang mereka hadapi terasa terhubung dengan satu titik yang sama. Dan arah itu sama dengan tujuan mereka. Semakin mereka melangkah, udara di sekitar terasa semakin berat. Tekanan di dalam hutan meningkat, membuat napas terasa lebih sulit dan suasana semakin mencekam. Ren menatap lurus ke depan, ekspresinya berubah lebih serius. Ia yakin, sumber energi ini berada di depan mereka.
“Ren, nunduk!”
Teriakan Damian membelah udara tepat saat bayangan hitam melesat turun dari atas pepohonan. Tanpa menunggu sepersekian detik pun, Ren langsung merendahkan tubuhnya. Gerakannya refleks, hampir instingtif. Pada saat yang sama, tebasan Damian mengiris udara dengan kekuatan penuh, menghantam Spike Devil yang sedang menerjang dengan kecepatan tinggi. Benturan itu memicu semburan darah gelap dan suara jeritan melengking yang menggema di antara batang pohon. Namun kali ini berbeda.Spike Devil itu tidak datang sendirian. Saat tubuhnya tersayat, dua iblis lain muncul dari sisi kiri dan kanan, bergerak serempak, seolah sudah menunggu momen itu. Energi necrotic di sekitar mereka berdenyut lebih kuat, berputar seperti pusaran tak terlihat yang mengikat kawanan tersebut dalam satu kehendak.
Satu menerjang ke arah Damian. Satu lagi mengincar Ren.
“Seriusan mereka mulai pinter…” gumam Damian sambil mengangkat pedangnya untuk menahan serangan pertama.
Ren tidak menjawab. Fokusnya sepenuhnya pada iblis yang meluncur ke arahnya dengan tongkat berduri terangkat tinggi. Udara terasa semakin berat. Energi necrotic di sekelilingnya seperti menekan dari segala arah, bukan lagi sekadar aura liar, tetapi sesuatu yang terarah. Ia bisa merasakannya sekarang. Iblis-iblis ini tidak bergerak acak. Mereka terdorong. Dipandu. Ditarik oleh satu sumber yang sama. Saat tongkat itu hampir menyentuh dadanya, Ren memutar tubuhnya dalam satu gerakan tajam. Ia memanfaatkan momentum langkahnya untuk berbalik sepenuhnya dan, tanpa ragu, melancarkan tebasan dari bawah ke atas yang membelah serangan sekaligus tubuh iblis itu dalam satu garis bersih.
Gerakannya cepat, presisi, dan tanpa jeda. Namun sebelum potongan tubuhnya sempat menyentuh tanah, jeritan lain terdengar dari dalam hutan, lebih dalam dan lebih gelap, bukan lagi suara liar melainkan seperti sebuah panggilan. Seketika setelahnya, tanah di bawah mereka bergetar halus. Energi necrotic di sekitar area itu tiba tiba bergerak, tidak lagi menyebar sembarangan, tetapi mengalir ke satu arah seperti arus yang ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Daun daun kering berputar tanpa angin, dan kabut hitam tipis mulai merayap di antara pepohonan, mempersempit jarak pandang. Ren kembali berdiri sejajar dengan Damian, napasnya stabil namun sorot matanya berubah sepenuhnya, lebih tajam dan lebih serius.
“Ini nggak lucu,” ucap Ren pelan.
Damian mengangkat pedangnya dan menyeka darah gelap dari bilahnya. “Beneran,” jawabnya singkat.
Ren mengangguk kecil. Ia kini bisa merasakan sumbernya dengan jelas, dan setiap langkah yang mendekat membuat tanah bergetar lebih kuat. Dari balik kabut yang semakin tebal, sebuah bayangan raksasa perlahan muncul, bergerak berat namun pasti, seolah menekan ruang di sekitarnya. Sosok itu memiliki tubuh kekar setinggi hampir empat setengah meter, dengan bulu berwarna merah darah dan aura necrotic yang jauh lebih pekat dibandingkan iblis iblis sebelumnya. Kawanan imp, hellhound, dan spike devil yang tersisa perlahan mundur, membentuk ruang kosong di sekelilingnya. Makhluk itu berhenti di tengah medan perang.
Seekor Barlgura. Monster iblis berukuran besar yang menyerupai gorila raksasa dengan dominasi jelas atas kelompoknya, memancarkan tekanan yang membuat udara terasa semakin berat. Tanpa peringatan, ia menegakkan tubuhnya dan memukul dada kekarnya dengan kedua tangan, menghasilkan dentuman keras yang menggema hingga ke sekeliling hutan. Raungan panjangnya memekakkan telinga, dan kawanan iblis di belakangnya merespons dengan suara serempak, seolah tunduk pada satu komando. Ren menyipitkan mata, tubuhnya tetap rendah dalam posisi siap bertarung. Ini bukan lagi sekadar kawanan liar, melainkan formasi yang terorganisir. Dan kehadiran Barlgura itu menandakan satu hal jelas, mereka baru saja memasuki wilayah yang dijaga.
“Oi, oi, ini nggak lucu. Barlgura yang bener aja, butuh satu tim khusus buat ngadepinnya,” ujar Damian dengan nada kesal, meski genggaman tangannya pada pedang tidak melemah sedikit pun.
Kehadiran dari mahluk itu saja sudah cukup untuk membuat situasi terasa berbeda. Dalam perselisihan melawan Dreadveil di Green Forest sebelumnya, Ren bersama seluruh anggota Thistle pernah berhadapan dengan monster yang sama. Saat itu, mereka berlima harus bekerja sama dengan koordinasi penuh, saling menutup celah dan berbagi tekanan serangan untuk akhirnya berhasil menjatuhkannya. Itu bukan pertarungan satu lawan satu, melainkan pertempuran tim yang hampir membuat mereka kehilangan nyawa.
Dan sekarang, yang tersisa bersamanya hanyalah Damian. Dengan kondisi keduanya yang sudah terluka, kelelahan akibat bertarung sejak kemarin tanpa jeda, serta gelombang iblis yang terus menyerang tanpa henti, ditambah tekanan energi necrotic yang menekan dari segala arah, menghadapi Barlgura dalam keadaan seperti ini hampir mustahil untuk berakhir dengan selamat. Kabut di sekitar mereka semakin tebal, menutup jarak pandang hingga batas siluet saja yang tersisa. Barlgura itu menundukkan kepala perlahan, seolah sedang mengamati mangsanya dengan tenang. Aura necrotic yang mengelilingi tubuhnya berdenyut stabil, tidak liar seperti iblis lainnya, melainkan terkendali dan terarah. Itu bukan sekadar monster berukuran besar.
Barlgura adalah salah satu makhluk yang mampu memimpin kawanan iblis sesuai perintah. Dengan kehadirannya, serangan yang sebelumnya terpecah kini berubah menjadi terorganisir rapi. Imp, Hellhound, dan Spike Devil tidak lagi menyerang sembarangan. Mereka bergerak dalam pola, membentuk tekanan dari berbagai sisi seolah mengikuti strategi yang sama. Ren menarik napas pelan. Matanya tetap terkunci pada makhluk di depannya, tidak menunjukkan kepanikan, hanya perhitungan yang cepat.
“Mundur…” gumamnya rendah. “Apa pun yang terjadi, jangan lihat ke belakang.”
Damian mengangguk tanpa membantah. Ia memahami nada suara itu bukan sebagai tanda ketakutan, melainkan keputusan taktis dari Ren. Dalam hitungan detik, keduanya berbalik serempak dan segera meninggalkan area tersebut, bergerak cepat menembus kabut yang semakin pekat. Di belakang mereka, raungan Barlgura kembali menggema, keras dan mengguncang pepohonan di sekitarnya. Tidak lama kemudian, kawanan iblis mulai bergerak. Namun kali ini, mereka tidak menyerang secara acak. Mereka mengepung dari segala arah, membentuk lingkaran yang perlahan menyempit.
“Brengsek, otak mereka jadi encer gara gara gorila sialan itu!” geram Damian sambil menebas sebuah imp yang melesat dari sisi kiri.