Keheningan setelah evakuasi terasa janggal. Bukan ketenangan yang menenangkan, melainkan sunyi yang menegang, seolah dunia masih menahan napasnya sendiri. Di luar sana, pertarungan belum benar-benar berakhir. Tekanan itu masih terasa samar, seperti gema jauh yang belum sepenuhnya menghilang dari udara. Ren terbaring dengan mata terpejam, napasnya perlahan kembali stabil, meski tubuhnya masih menyimpan sisa rasa sakit yang berdenyut pelan. Damian terbaring tidak jauh darinya, dalam kondisi serupa, sementara reka-rekan mereka berjaga dalam kewaspadaan penuh.
Di tengah kesadarannya yang samar, Ren merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah kehangatan aneh mengalir perlahan di dalam tubuhnya, bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Sensasi itu terasa asing namun familiar, seperti sesuatu yang mulai bergerak dengan sendirinya dan tidak bisa ia hentikan. Detak jantungnya terasa selaras dengan denyut halus yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Lalu suara lembut itu kembali terdengar di dalam pikirannya.
“Untuk sekarang, ini batas yang bisa aku lakukan. Resonansinya belum sudah terbentuk dengan baik. Setidaknya, nyawamu tidak akan dalam bahaya.”
Ren tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan dalam diam, kesadarannya tetap terjaga meski tubuhnya tidak mampu bereaksi. Kata-kata itu menggantung di dalam benaknya, berat namun jelas. Ren tetap terdiam, menyadari bahwa kekuatan yang baru saja menyelamatkannya bukanlah sesuatu yang bisa ia gunakan tanpa batas. Suara lembut itu kembali terdengar, lebih tenang kali ini.
“Ingat, ikuti nalurimu. Kamu akan menemukan jawabannya di depanmu. Aku juga merasakannya… magic circle itu tidak jauh dari lokasi pertarungan terakhirmu. Hati-hati.”
Ren tidak menjawab. Namun di balik kelopak matanya yang terpejam, pikirannya mulai bekerja kembali. Jika magic circle itu memang berada dekat dengan lokasi pertempuran terakhir, maka semua iblis yang mereka hadapi bukanlah kebetulan. Itu adalah penjagaan. Sebuah lapisan pertahanan yang sengaja ditempatkan untuk menghalangi siapa pun yang mencoba mendekat. Dan jika dugaan itu benar, berarti mereka belum menyentuh pusat sebenarnya.
Tak lama kemudian, suara samar mulai terdengar di sekitarnya. Angin bergerak pelan. Dengan berat, Ren membuka matanya sedikit. Pandangannya yang masih buram perlahan menyesuaikan diri, hingga ia melihat langit di atas hutan utara Zale yang mulai berubah warna. Biru pucat bergeser menjadi jingga keemasan, tanda sore telah tiba dan matahari hampir tenggelam di balik garis pepohonan. Cahaya senja itu jatuh di antara celah daun, membentuk bayangan panjang yang menyapu tanah. Hari perlahan berakhir. Dan entah mengapa, perubahan langit itu terasa seperti pertanda bahwa sesuatu yang lebih besar akan segera dimulai.
"Pelan-pelan, 5 tulang rusuk kamu patah. dan juga paru-paru kamu juga kelihatanya terluka. kamu masih belum boleh bergerak Ren."
Ren melirik ke depan dan melihat Julia duduk tidak jauh darinya. Wanita itu segera menyadari bahwa ia mulai sadar, lalu mendekat dan membantu Ren untuk duduk perlahan agar tidak memberi tekanan pada tubuhnya yang masih lemah. Dengan napas yang masih stabil namun berat, Ren mengangkat tangannya dan memegangi dadanya. Ia meraba area yang sebelumnya dihantam oleh tinju Barlgura beberapa jam lalu, mencoba memastikan kondisi tulang rusuknya. Namun saat jemarinya menekan perlahan, ia tidak merasakan tanda-tanda patah seperti yang ia ingat sebelumnya. Tidak ada nyeri tajam yang seharusnya muncul akibat retakan, tidak pula sensasi tulang yang bergeser.
Ia mengerutkan keningnya. Luka-luka lain memang sudah tertutup oleh sihir penyembuhan, tetapi ini terasa berbeda. Seolah ada sesuatu yang bukan hanya menyembuhkan, melainkan memperbaiki lebih dalam. Ren menatap ke bawah dengan ekspresi serius, menyadari sesuatu dalam dirinya mulai berubah sedikit demi sedikit, pertama indranya lebih peka terhadap energi Necrotic, dan sekarang tubuhnya yang seharunya berada di ambang kematian, entah kenapa tidak separah seharusnya.
"“Resonansi… kekuatan… apa sebenarnya ini?”
Ren mengerutkan kening dalam diam. Pikiran-pikiran itu berputar di benaknya tanpa henti.
"Siapa gadis itu? Kenapa ia selalu muncul dan menghilang begitu saja? Sebelumnya ia menyebut dirinya sebagai guardian. Guardian dari apa? Dan mengapa suaranya terdengar begitu familiar, seakan pernah gue dengar di suatu tempat.""
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menemukan jawaban, hanya menggantung di dalam pikirannya. Ren lalu mengalihkan pandangan ke samping. Damian tertidur pulas, napasnya teratur meski tubuhnya penuh perban dan sisa luka. Melihatnya dalam keadaan seperti itu membuat dada Ren sedikit lebih ringan. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Ekspresi sahabatnya yang tampak lelah namun masih hidup itu entah mengapa terasa melegakan.
“Untuk kesekian kalinya, saya harus menegurmu,” ucap Julia dengan nada tegas namun jelas dipenuhi kekhawatiran. “Kamu membahayakan dirimu sendiri.”
Ia menatap Ren dengan serius, tidak menyembunyikan perasaannya.
“Memang, keputusanmu untuk menjadi umpan itu bisa di bilang tepat. Tapi kalau kamu sudah bisa bergerak dan berhasil menghindari kejaran para iblis, kenapa malah terus masuk lebih dalam?”
Tatapannya melembut sedikit, meski nada suaranya tetap stabil. Kekhawatiran itu bukan sekadar teguran seorang komandan, melainkan seseorang yang benar-benar takut kehilangan rekannya di medan perang. Melihat hal itu, Ren memutar matanya, dia tau ini akan merepotkan untuk menjelaskan soal hal ini, dan juga tentang perasaan dan indra dalam dirinya yang menajam tanpa alasan logis yang dia bisa jelaskan. Dia pun menghela nafasnya.
“Zale juga dalam bahaya. Selama magic circle itu tidak dihancurkan, kawanan iblis akan terus datang. Seseorang harus melakukannya,” jawab Ren tenang.
Julia mengernyit. “Magic circle?”
Ren mengangguk pelan. “Hanya satu kelompok yang saya tahu yang mampu mengendalikan iblis seperti ini. Dreadveil. Kultus sesat yang menyembah iblis. Jelas mereka menargetkan tempat ini, meski alasan pastinya belum kita ketahui. Tapi satu hal pasti, selama magic circle itu masih aktif, serangan tidak akan berhenti. Kita harus menghancurkannya. Kalau tidak, korban akan terus berjatuhan.”
Julia menghela napas pelan setelah mendengar penjelasan itu. Sebelumnya, ia sudah menerima laporan dari Rose bahwa Ren tampak mengetahui sesuatu tentang serangan ini. Saat mendengar itu, firasat buruk sempat muncul di benaknya. Namun ia tidak pernah membayangkan bahwa Ren benar-benar akan menerobos hingga ke pusat kawanan iblis, hanya bersama Damian. Itu merupakan keputusan gila yang juga bisa di sebut sebagai bunuh diri.
“Seharusnya kamu mundur dulu setelah lepas dari kejaran para iblis itu. Kembali ke camp dan laporkan semuanya ke Academy. Apa yang kamu lakukan bukan menyelesaikan masalah kamu malah membuat semua orang khawatir, Ren,” ucap Julia dengan nada setengah frustasi.
Ia menarik napas singkat sebelum melanjutkan dengan berusaha tetap tenang.
“Olivier dan Rose sedang berpatroli di sekitar area ini. Altheya juga sedang memasang jebakan sekaligus mencari tanaman obat yang bisa ditemukan di hutan.”
Namun sebelum Julia sempat menyelesaikan kalimatnya, langkah cepat terdengar mendekat. Seorang gadis berjalan ke arah mereka dan langsung menyambar pembicaraan.
“Kamu kebiasaan,” ujar Giana tajam, menatap Ren lurus. “Kamu pikir itu keren? Sok jadi pahlawan padahal nggak ada yang minta.”
Ia mendengus pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tinggi, “Kalau Rina ada di sini, dia pasti sudah mengomel ke kamu tiga hari tiga malam.”
Ekspresinya dipenuhi kemarahan atau setidaknya itu yang terlihat. Julia melirik ke arah Giana dengan sedikit canggung, tetapi Ren bisa melihat sesuatu yang berbeda di matanya. Di balik nada marah itu, Giana sebenarnya sedang merajuk. Dan seperti biasanya, ia tidak akan berhenti sampai semua kekesalannya tersampaikan sepenuhnya.
“Kamu tuh ya, dari dulu bisa nggak sih jangan bertindak nekat? Lihat tubuh kamu sekarang, babak belur begitu! Kamu tadi hampir mati! Masih mau lari lagi setelah empat tahun ini? Masih mau nyuekin aku lagi!?”
Nada Giana meninggi, bukan hanya marah, tetapi juga gemetar oleh emosi yang ia tahan selama ini. Melihat situasi itu, Ren menyadari satu hal. Dengan kondisi sekarang, tidak mungkin lagi menghindari percakapan ini. Terlebih Julia, tim Sigma, dan Rose berada di sekitar mereka. Menyembunyikan hubungan masa lalu mereka jelas bukan pilihan lagi, apalagi dengan Giana yang sedang merajuk di hadapannya, tanpa topeng sebagai putri kekaisaran yang sudah terlepas sepenuhnya..