Ren terdiam dalam keheningan, pikirannya tenggelam jauh ke masa lalu. Ingatan tentang kegagalannya empat tahun lalu kembali menghantam tanpa ampun, bersama janji kepada Giana yang hingga sekarang tidak pernah bisa ia tepati. Semua itu bercampur menjadi beban yang menyesakkan dadanya. Namun di saat yang sama, ia sadar bahwa dirinya tidak bisa terus lari dari masa lalunya. Tidak dari kesalahannya. Tidak dari kenyataan yang telah menghancurkan hidupnya. Dan terutama… tidak dari Giana. Apa pun alasannya, hasil akhirnya tetap sama. Ia gagal. Ia dicap sebagai pengkhianat oleh kekaisaran, seseorang yang seharusnya tidak lagi memiliki tempat untuk kembali. Karena itulah, Ren selalu memilih diam. Ia tidak ingin menyeret Giana lebih jauh ke dalam luka dan bahaya yang mengikutinya. Tetapi kini, setelah semua yang terjadi, untuk pertama kalinya Ren mulai menyadari satu hal. Mungkin ia sudah tidak punya pilihan lain selain menghadapi semuanya.
“Maaf, Gia… aku nggak bisa menepati janji aku sama kamu. Tapi sungguh, aku nggak mau kamu ikut terlibat dalam semua ini…” suara Ren terdengar pelan, dipenuhi keraguan yang selama ini ia tahan sendiri. “Masalahnya… bahkan aku sendiri masih belum benar-benar tahu apa tujuan Professor Theresa dan Dr. Connor.”
“Tante Theresa… dan Paman Connor?”
Giana memiringkan kepalanya bingung, jelas tidak langsung memahami maksud ucapan Ren. Namun seiring Ren mulai berbicara jujur kepadanya, tatapannya perlahan melunak. Ada sedikit kelegaan karena akhirnya Ren berhenti menutup diri darinya. Meski begitu, di saat yang sama, ekspresi terkejut tetap terlihat jelas di wajahnya saat mendengar dua nama tersebut disebut secara tiba-tiba.
“Apa yang dituduhkan kekaisaran kepada aku dan Damian… itu benar,” ucap Ren pelan, suaranya terasa berat setiap kali kata-kata itu keluar dari bibirnya. “Dan Professor Theresa adalah orang yang meminta kami melakukan semua itu.”
“Tunggu… tunggu, Ren. Tante Theresa nggak mungkin melakukan hal seperti—”
Giana langsung menatap Ren dengan ekspresi tidak percaya. Suaranya meninggi spontan, dipenuhi penolakan dan kebingungan. Namun sebelum ia sempat melanjutkan, Ren segera memotongnya.
“Itu benar, Gia…”
Nada suara Ren tetap tenang, tetapi justru terdengar jauh lebih menyakitkan karena ia tidak mencoba menyangkal apa pun. Perlahan ia menundukkan pandangannya, seakan sulit menahan berat kenyataan yang harus kembali ia ungkap.
“Maaf… tapi itu kenyataannya.”
Giana menatap Ren dalam diam. Tatapannya dipenuhi kekecewaan dan kesedihan yang perlahan terlihat jelas di wajahnya saat mendengar pengakuan itu. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang runtuh sedikit demi sedikit.
“Ren… kamu masih mau bohong ke aku?” suaranya bergetar, antara marah dan terluka. “Kamu… selama ini masih mau lari dari aku? Kenapa, Ren…?”
“Gia… aku nggak bohong.”
Ren mencoba menjawab dengan tenang, meski nada suaranya terdengar berat. Ia menatap Giana lurus, tidak lagi berusaha menghindari tatapannya seperti sebelumnya.
“Itu semua memang terbukti benar. Aku dan yang lainnya… kami berlima sekarang dianggap sebagai pengkhianat kekaisaran. Kriminal.”
Namun penjelasan itu tidak membuat ekspresi Giana berubah. Tatapan kecewa itu masih ada, bahkan terasa semakin dalam. Seolah ia menolak mempercayai bahwa orang-orang yang ia kenal bisa benar-benar terlibat dalam semua itu. Perlahan, Giana mengangkat tongkatnya. Cahaya sihir tipis mulai muncul di ujungnya saat ia merapalkan mantra dengan suara pelan.
“Detect Thoughts…”
Sihir itu aktif seketika. Gelombang energi sihir yang halus menyebar di sekitar mereka, perlahan memasuki pikiran Ren tanpa perlawanan sedikit pun. Ren tidak bergerak. Ia tidak mencoba menahan sihir Giana, tidak pula membangun pertahanan mental seperti yang seharusnya dilakukan saat pikirannya disentuh paksa. Ia hanya memejamkan matanya perlahan… dan membiarkan Giana melihat semuanya sendiri. Potongan-potongan ingatan mulai mengalir ke dalam kesadaran Giana. Permintaan Theresa yang datang secara tiba-tiba di malam itu. Wajah Ren yang dipenuhi keraguan saat menerima misi tersebut. Kebimbangannya untuk memberitahu Giana tentang semuanya, berkali-kali mencoba mencari cara agar bisa jujur padanya… namun selalu gagal pada akhirnya.
Lalu ingatan itu terus bergerak. Keputusan Ren untuk tetap mempercayai Theresa sampai akhir. Misi yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Kekacauan yang terjadi. Kegagalan mereka. Dan akhirnya… hilangnya Orb of Light, artefak suci milik kekaisaran yang menjadi awal dari semuanya. Saat sihir itu terlepas dan Giana membuka matanya kembali, tangannya terlihat gemetar hebat. Napasnya tercekat, sementara air mata perlahan jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
Kebenaran itu terlalu menyakitkan untuk diterima. Orang yang selama ini ia anggap seperti ibunya sendiri… Professor Theresa… benar-benar terlibat dalam pencurian artefak kekaisaran. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Ren mengetahui betapa berbahayanya misi itu sejak awal, namun tetap memilih menerimanya. Bukan karena keserakahan. Bukan karena pengkhianatan. Melainkan karena kepercayaannya kepada Theresa terlalu besar untuk ia ragukan.
“Kamu bodoh!!” suara Giana pecah di tengah tangisnya. “Itu bunuh diri, Ren! Kenapa?! Kenapa kamu tetap melakukannya?! Harusnya kamu bisa menghentikan Tante Theresa! Harusnya kamu bisa meyakinkan beliau buat membatalkan semua itu!”
Tangannya masih gemetar saat mencengkeram pakaian Ren. Air matanya terus jatuh tanpa bisa ia tahan, bercampur antara marah, sedih, dan frustrasi terhadap kenyataan yang baru saja ia lihat sendiri. Ren terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pelan. Tidak ada usaha untuk membela dirinya dan tidak ada penyangkalan dalam nada suaranya.
“Memang benar… aku bodoh.”
Ia menundukkan pandangannya, suaranya terdengar lelah dan berat.
“Dan iya… itu memang misi bunuh diri. Kami semua tahu soal itu sejak awal.”
Ren menarik napas perlahan sebelum melanjutkan.
“Tapi tetap saja… aku percaya sama Professor Theresa.”
Tatapannya perlahan kembali terangkat, meski matanya dipenuhi keraguan dan rasa bersalah yang belum hilang.
“Aku tahu beliau nggak mungkin melakukan semua itu tanpa alasan. Aku juga tahu… beliau sangat mencintai kekaisaran.”
Nada suaranya melemah di akhir kalimat, seolah bahkan dirinya sendiri masih mencoba memahami semuanya.
“Apa pun tujuan sebenarnya yang belum kita ketahui… aku yakin beliau melakukannya demi kekaisaran. Meski… caranya terlalu kasar.”
“Apanya yang demi kekaisaran!?” suara Giana meninggi, emosinya akhirnya kembali meluap. “Apanya yang tanpa alasan!? Kalau memang ada alasan, kenapa Tante Theresa nggak bilang ke aku dari awal!?”
Napasnya terdengar bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali jatuh satu per satu.
“Emangnya… emangnya nggak bisa percaya sama aku?” lanjutnya dengan suara yang mulai melemah oleh rasa kecewa. “Aku juga bisa bantu, Ren…”
Mendengar itu, Ren perlahan menghela napas panjang. Ia tahu semua ini terlalu berat untuk diterima Giana sekaligus. Bahkan sekarang pun, gadis itu masih berusaha memahami kenyataan yang baru saja menghancurkan pandangannya terhadap Theresa. Namun Ren juga sadar, menyalahkan Theresa ataupun dirinya sendiri tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi.
“Kamu itu putri pertama kekaisaran, Gia,” ucap Ren pelan. “Kalau kamu ikut terlibat, posisi kamu bisa dalam bahaya. Kami nggak bisa membawa kamu masuk ke masalah ini.”
“Putri…”
Mendengar kata itu, Giana perlahan menundukkan kepalanya. Jemarinya yang tadi mencengkeram kerah pakaian Ren perlahan melepas genggamannya. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa lebih dingin.
“Cuma karena aku… putri kekaisaran…” suaranya terdengar lirih, namun dipenuhi luka yang sulit disembunyikan.
Bahu Giana bergetar halus. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya, membuat ekspresinya sulit terlihat jelas.
“Kamu tahu, kan…?” suaranya lirih, namun dipenuhi luka yang selama ini ia pendam. “Kamu tahu aku paling benci gelar itu…”
Ia menggertakkan giginya pelan, lalu perlahan mengangkat wajahnya kembali ke arah Ren. Mata itu masih dipenuhi air mata, tetapi kini bercampur dengan rasa sakit yang berbeda.
“Selama ini… semua orang selalu melihat aku sebagai putri kekaisaran.”
Nada suaranya melemah di akhir kalimat.
“Tapi kamu beda, Ren… setidaknya dulu begitu.”
Dia menatap Ren dengan mata berkaca-kaca, matanya dipenuhi dengan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam yang diarahkan tepat kepada Ren.
“Ternyata…” suara Giana terdengar lirih dan rapuh. “Kamu benar-benar sudah berubah, ya…”
Ia menundukkan kepalanya pelan, senyum tipis yang muncul di bibirnya justru terlihat menyakitkan.
“Ren yang aku kenal… sudah nggak ada.”
Tatapannya kembali terangkat ke arah Ren, dipenuhi luka yang perlahan berubah menjadi kekecewaan.
“Kamu bukan Ren yang dulu… yang bisa lembut ke aku… yang nggak peduli aku putri atau bukan… nggak peduli soal perbedaan status di antara kita…”
Suaranya mulai bergetar di akhir kalimat.
“Kamu—”
“ Kamu ngerti nggak sih maksud aku!?”
Sebelum Giana sempat menyelesaikan ucapannya, Ren tiba-tiba memotong dengan suara yang meninggi. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, emosinya benar-benar pecah. Rahangnya mengeras. Tangan yang sejak tadi mengepal kini bergetar menahan emosi, kemarahan, rasa lelah, dan frustrasi yang sudah terlalu lama ia tekan sendirian.
“Aku tahu kamu keras kepala! Egois! Seenaknya sendiri! Manja! Cengeng!”
Nada suaranya semakin berat di setiap kata yang keluar.