Tak lama berselang, matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan lebat hutan utara Pulau Zale. Cahaya jingga senja memudar sedikit demi sedikit, digantikan hawa malam yang mulai turun bersama angin dingin dari dalam hutan. Suara dedaunan yang tertiup angin terdengar samar di antara sunyinya hutan, sementara bayangan pepohonan mulai menyatu dengan gelap yang perlahan menelan area sekitar.
Setelah patroli singkat di sekitar wilayah itu, Rose dan Olivier akhirnya kembali ke tempat perlindungan sementara mereka. Keduanya terlihat lelah, namun setidaknya situasi di sekitar area masih cukup aman untuk sementara waktu. Tidak lama kemudian, Ren juga kembali menyusul setelah percakapannya dengan Giana berakhir, meski ekspresinya masih terlihat sedikit kacau dan sulit dibaca.
Sementara itu, Damian, Julia, dan Altheya sudah mengubah area tersebut menjadi basecamp sementara untuk mereka semua. Api unggun kecil menyala di tengah area perlindungan, memberikan cahaya hangat yang kontras dengan gelapnya hutan malam di sekitar mereka. Beberapa perlengkapan medis, tas logistik, hingga perlindungan sihir sederhana telah dipasang di berbagai sisi area sebagai langkah berjaga-jaga jika kawanan iblis kembali menyerang saat malam tiba.
Meski suasana terlihat lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya, tidak seorang pun benar-benar merasa aman. Mereka semua tahu pertempuran belum selesai. Magic Circle itu masih belum ditemukan. Dan selama sumber serangan itu masih aktif, ancaman dari Dreadveil dan para iblis bisa muncul kembali kapan saja. Namun untuk malam ini, setidaknya mereka masih hidup. Dan di tengah hutan gelap yang dipenuhi bahaya itu, cahaya kecil dari api unggun menjadi satu-satunya tempat bagi mereka untuk beristirahat sejenak sebelum semuanya kembali dimulai.
"Jadi kalian sudah selesai bicara? tadinya saya mau menyusul tapi sepertinya pembicaraan itu benar-benar pribadi Ren." Ujar Julia kepadanya.
Ren menatap Giana yang sedang dalam suanasa hati yang baik yang sedang tersenyum dan menyalakan api dengan sihir firebolt nya dan hanya bisa menghelanafasnya.
"Ceritanya panjang, dia memang gadis yang merepotkan."
Julia yang menyadari wajah Ren yang masih memerah merasakan ada hal yang janggal di sini.
"Wajahmu merah, apa kamu ngga enak badan?" Tanya Julia.
"Bukan.... bukan apa-apa kok Komandan."
Ren dengan jelas membuang wajahnya dan menghindari tatapan Julia yang berdiri tepat di sebelahnya. Ekspresinya terlihat kaku, seolah berharap percakapan itu berhenti begitu saja sebelum situasinya menjadi semakin memalukan. Namun harapan itu langsung pupus ketika Giana berjalan mendekat dengan langkah ringan dan ekspresi ceria, lalu tanpa ragu bergabung ke dalam pembicaraan mereka.
“Dia cuma malu kok,” ujar Giana santai sambil tersenyum jahil. “Dari dulu Ren memang begitu. Kalau malu pasti langsung buang muka sambil bilang nggak ada apa-apa.”
Ren langsung mengerutkan kening mendengar itu. Tatapannya bergerak cepat ke arah Giana, jelas menunjukkan kepanikan kecil karena gadis itu sama sekali tidak memedulikan situasi maupun orang-orang di sekitar mereka.
“Yang Mul—”
“Gia.”
Sebelum Ren sempat menyelesaikan panggilannya, Giana langsung memotong dengan pipi yang kembali menggembung kesal. Belum sempat Ren membalas, Giana langsung mengangkat jari telunjuknya dan menyentuhkan ujung jarinya ke bibir Ren tanpa ragu, menghentikan ucapannya di tempat. Gerakannya begitu alami seolah ia sudah terbiasa melakukan itu sejak dulu.
“Aku sudah bilang, kan?” lanjutnya sambil menatap Ren dengan manja. “Jangan panggil aku ‘Yang Mulia’. Khusus buat kamu, nggak boleh.”
“Panggil aku seperti biasanya,” bisiknya pelan sambil tersenyum kecil. “Kalau nggak, aku marah.”
Ren Akhirnya menyerah dan mengikuti keinginan Giana di tempat itu, selama dirinya memasang wajah sahabatnya ngga ada ruang untuk Ren membantah permintaan egois dari Giana, itu juga bagian dari penebusan kesalahannya selama empat tahun yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Gia."
Rose dan Olivier yang tanpa sengaja melihat pemandangan itu langsung membeku di tempat. Keduanya menatap Ren dengan ekspresi sulit dipercaya, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang mustahil terjadi di depan mata mereka sendiri. Ren yang selama ini dikenal dingin, tenang, dan nyaris tanpa ekspresi… kini terlihat jelas memalingkan wajah dengan telinga yang memerah karena malu. Bahkan sorot matanya tampak panik saat Giana berdiri begitu dekat dengannya tanpa sedikit pun menjaga jarak.
“...”
Olivier terdiam cukup lama sebelum perlahan menoleh ke arah Rose, seakan memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi. Sementara Rose sendiri hanya berkedip beberapa kali dengan ekspresi kosong, masih mencoba memproses situasi di hadapannya. Di sisi lain, Altheya memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapannya tetap tenang seperti biasa, namun matanya mengikuti setiap interaksi kecil di antara Ren dan Giana tanpa melewatkan sedikit pun. Tanpa ia sadari, jemarinya perlahan mengerat pada tongkat sihir di tangannya.
Sementara itu Damian hanya menghela napas panjang dari tempat duduknya sambil menopang dagunya dengan malas.
“Bego banget mukanya… Akhirnya dia nyadar juga tuh cewek kebelet kawin sama dia.” gumamnya pelan sambil menatap Ren yang kini terlihat benar-benar kehilangan ketenangannya.
Sebagai sahabat yang sudah mengenal Ren cukup lama, Damian tahu betul. Wajah panik dan malu seperti itu adalah sesuatu yang nyaris mustahil muncul dari pria keras kepala tersebut. Dan justru karena itulah, melihat Ren sekarang terasa sangat lucu baginya.
“Tunggu, tunggu!” seru Rose tiba-tiba sambil menunjuk Ren dengan ekspresi heboh. “Altheya, coba periksa dia deh! Si idiot ini kayaknya kepalanya kebentur habis lawan gorila itu!?”
Ren langsung menoleh tajam ke arah Rose dengan urat di pelipis yang sedikit menegang.
“Oi…”
Namun Rose sama sekali tidak peduli dan malah semakin mendekat sambil menunjuk wajah Ren yang masih sedikit merah.
“Serius! Ini bahaya! Ren yang biasanya dingin kayak mayat sekarang malah kelihatan malu begitu! Pasti ada yang rusak di kepalanya!”
Damian yang mendengar itu langsung tertawa pendek sambil berbaring santai.
“Nah, gue setuju sama yang itu.”
Sementara itu, Altheya hanya terdiam tanpa langsung menanggapi ucapan Rose. Tatapannya tetap tertuju pada Ren dan Giana beberapa saat sebelum akhirnya perlahan mengalihkan pandangannya ke api unggun di tengah camp.
“…Saya juga belum pernah melihat ekspresi seperti itu darinya,” ucap Olivier pelan sambil tetap menatap Ren dengan rasa heran yang belum hilang.
Nada suaranya terdengar jujur. Selama ini, Ren selalu terlihat tenang bahkan dalam situasi paling berbahaya sekalipun. Melihatnya kehilangan ketenangan hanya karena interaksi sederhana dengan Giana terasa jauh lebih mengejutkan dibanding pertarungan melawan iblis sebelumnya.
“Kalian semua lihat gue sebenarnya kayak gimana sih…?” tanya Ren setengah kesal sambil mengusap wajahnya frustrasi.
“Lu tuh udah kayak es, Ren,” jawab Damian santai tanpa ragu sedikit pun. “Dingin, datar, nggak punya emosi. Digebukin Emolio aja muka lu tetap sama. Gue kira lu memang nggak bisa bikin muka bego kayak gini.”
“Muka bego dari mana sih…” cibir Ren kesal sambil mengernyit tajam.
Damian malah menyeringai lebar melihat reaksinya.
“Ya tuh muka sekarang.”
Di sisi lain, Giana hanya tersenyum manis sambil memperhatikan Ren yang jelas mulai kehilangan kesabarannya karena terus dijadikan bahan ledekan.
“Padahal lucu loh muka dia kalau lagi begini,” ujar Giana ringan dengan nada tulus, seolah sama sekali tidak berniat membantu Ren keluar dari situasi memalukan itu.
Mendengar komentar itu, Ren langsung memalingkan wajahnya lagi dengan ekspresi semakin kesal. Telinganya bahkan terlihat sedikit memerah, membuat Rose spontan menahan tawanya.
“Buset… tambah merah lagi.”
“Diam lu, Rose.”
Karena sadar semakin lama bertahan di sana hanya akan membuat dirinya terus diledek, Ren akhirnya menghela napas kasar lalu berjalan menjauh dengan langkah kesal. Ia langsung menghampiri Damian dan duduk di sebelah sahabatnya itu dengan ekspresi frustrasi. Namun baru beberapa detik duduk, Damian sudah meliriknya sambil menahan tawa.
“Selamat ya.”
“Buat apaan?”
“Udah resmi jadi mainan si putri.”
“Bacot!” balas Ren kesal sambil menyikut ringan lengan Damian.
Melihat reaksi itu, Damian malah tertawa pendek sebelum kembali bersandar santai. Ia lalu menatap lurus ke arah api unggun di depan mereka, mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya, lalu membakarnya perlahan. Asap tipis mulai naik ke udara malam saat ia mengisap rokok itu dengan tenang.
“Tapi serius,” ucap Damian setelah beberapa saat. “Gue senang kalau lu akhirnya bisa balik lagi kayak dulu sama dia.”
Ren mengernyit kecil mendengar nada Damian yang kali ini terdengar jauh lebih serius dari biasanya.
“Jujur aja, kalian berdua itu cuma perlu ngobrol doang,” lanjut Damian santai sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Tuh cewek benar-benar cinta mati sama lu, bro.”
“Hah?” Ren langsung menoleh bingung ke arah sahabatnya.
Damian tetap menatap ke depan seolah pembicaraan itu bukan sesuatu yang aneh.
“Kita semua sebenarnya udah tahu, Ren,” jawabnya santai. “Cuma lu sama dia aja yang telat nyadar.”
Ren terdiam beberapa detik, jelas masih mencoba memproses ucapan itu.
“Tapi kayaknya sekarang dia udah sadar sepenuhnya,” lanjut Damian sambil menyeringai kecil. “Dan percayalah… si putri nggak bakal ngelepasin lu lagi.”
“Sejak kapan lu tahu?” tanya Ren lagi dengan ekspresi makin bingung.
Damian hanya mengangkat bahunya santai.
“Udah lama kali,” jawabnya ringan. “Lu aja yang terlalu nggak peka sama perasaan orang sekitar.”
Ren baru saja membuka mulut hendak membalas ketika tiba-tiba—
Fwoosh!
Sebuah bola sihir Fire Bolt melesat cepat dari kejauhan dan langsung meledak tepat di dekat lengan Damian yang sedang memegang rokok.
“WOI!?”
Damian refleks melompat kaget saat percikan api kecil beterbangan di sampingnya. Rokok di tangannya terlepas akibat ledakan mendadak itu. Dengan wajah kesal, ia langsung menoleh ke arah asal serangan. Di sana, Giana berdiri sambil memelototinya dengan pipi sedikit menggembung kesal.
“Kamu nggak usah ngomong yang aneh-aneh ke Ren!” bentak Giana kesal dari kejauhan.
Damian langsung menunjuk dirinya sendiri tidak terima.
“Lah!? Gue ngomong fakta kali!”
“Nggak boleh!!” balas Giana cepat sambil berjalan mendekat. “Ren cuma boleh sama aku! Pokoknya nggak boleh!!!”