Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #29

Chapter 28: Jarak yang tersisa

Malam semakin larut di hutan utara Pulau Zale. Perdebatan yang sebelumnya memenuhi area perkemahan perlahan menghilang, digantikan suara api unggun yang berderak pelan di tengah dinginnya malam. Satu per satu anggota kelompok mulai beristirahat untuk memulihkan tenaga setelah hari yang panjang. Rose mengambil giliran jaga pertama bersama Olivier. Damian sudah merebahkan dirinya tidak jauh dari api unggun sambil terus mengeluh soal tendangan Giana yang menurutnya hampir mematahkan tulang keringnya. Julia masih memeriksa peta Pulau Zale di bawah cahaya sihir kecil yang melayang di sampingnya, sementara Altheya duduk sendirian di tepi perkemahan, memeriksa ulang kristal sihir dan perlengkapan sihirnya.

Di sisi lain, Ren masih tetap terjaga. Awalnya ia berniat mengawasi area sekitar sambil memikirkan langkah mereka berikutnya. Namun rencana itu gagal total karena seseorang terus menempel di sampingnya tanpa niat pergi sedikit pun. Giana. Sejak beberapa saat yang lalu, gadis itu memaksa duduk tepat di sebelahnya. Bahkan setelah Ren beberapa kali menyuruhnya beristirahat, Giana tetap bertahan di tempatnya seolah tidak mendengar apa pun. Pada akhirnya, Ren menyerah dan membiarkannya sesuka hati.

"Serius deh, Ren. Harusnya kamu tuh dengerin aku."

Suara Giana kembali terdengar tidak senang untuk entah ke berapa kalinya malam itu. Ia duduk sambil memeluk lututnya dan menatap api unggun di depan mereka. Nada suaranya terdengar kesal, tetapi juga dipenuhi kekhawatiran yang sama sekali tidak berusaha ia sembunyikan.

"Mending kita pulang aja."

Ren bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berakhir.

"Ngapain sih kamu masih mau sok jadi pahlawan?" lanjut Giana. "Kamu nggak bergerak sendirian kayak dulu, Ren."

Ia lalu menoleh ke arah Ren dengan ekspresi tidak setuju yang sudah sangat familiar baginya.

"Sekarang kamu siswa Academy. Ada instruktur, ada pihak Academy, dan ada banyak orang yang memang tugasnya ngurus masalah beginian."

Pipinya sedikit menggembung kesal. Namun kali ini Ren tidak langsung membalas. Tatapannya tetap tertuju pada api unggun di depan mereka. Cahaya jingga yang menari di antara kayu bakar memantul di matanya yang perlahan berubah serius.

"Pihak Academy nggak tahu apa yang sebenarnya mereka hadapi."

Nada suaranya terdengar tenang, tetapi jauh lebih berat dibanding sebelumnya.

"Informasi tentang Dreadveil hampir nggak ada. Catatan soal aliran sesat itu sangat sedikit. Bahkan sebagian besar orang nggak pernah dengar nama mereka."

Giana sedikit mengernyit mendengar itu, sementara Ren melanjutkannya.

"Dan yang paling aneh..."

Tatapannya menajam ke arah nyala api di hadapannya.

"Berita tentang mereka selalu menghilang."

Keheningan singkat muncul di antara keduanya. Ren perlahan menyandarkan tubuhnya ke batang pohon di belakangnya sebelum kembali berbicara.

"Seolah setiap kali ada seseorang yang menemukan sesuatu tentang Dreadveil..."

Ia menggantung kalimatnya sejenak.

"Lalu semua jejaknya sengaja dihapus."

Ekspresinya tetap tenang, tetapi sorot matanya terlihat jauh lebih tajam daripada sebelumnya.

"Kekaisaran..."

Suara Ren terdengar pelan.

"...sepertinya sengaja menutupi keberadaan mereka."

Mendengar itu, ekspresi Giana langsung berubah. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ia tidak segera membantah. Sebagai putri kekaisaran, ia tahu betapa seriusnya tuduhan yang baru saja diucapkan Ren. Namun di saat yang sama, ia juga tahu satu hal. Ren bukan orang yang akan melontarkan tuduhan tanpa alasan. Selama menjadi Merchenary, pria itu telah melihat jauh lebih banyak sisi gelap kekaisaran dibanding kebanyakan siswa Academy. Kehidupannya sebagai seorang mercenary membawanya ke tempat-tempat yang tidak pernah dilihat oleh bangsawan maupun siswa atau siswi Academy. Ke desa-desa terpencil yang dilupakan pemerintah. Ke wilayah perbatasan yang dipenuhi korupsi. Dan ke berbagai konflik yang memperlihatkan wajah asli dari sistem yang menopang Kekaisaran Oswald.

Ren telah melihat sendiri bagaimana hukum bisa dibeli oleh orang yang memiliki kekuasaan. Bagaimana para bangsawan tertentu memperlakukan rakyat biasa seolah mereka tidak lebih dari angka. Dan bagaimana beberapa pejabat kekaisaran rela mengorbankan banyak nyawa demi mempertahankan posisi mereka. Karena itulah Giana tidak bisa langsung menolak perkataannya. Bukan karena ia mempercayai bahwa kekaisaran sengaja melindungi Dreadveil. Tetapi karena ia tahu ada kemungkinan Ren benar. Tatapannya perlahan turun ke nyala api unggun di depan mereka. Untuk sesaat, ia teringat kembali semua yang baru saja diceritakan Ren sore tadi. Tentang Professor Theresa. Tentang Orb of Light yang hilang. Dan tentang berbagai kebenaran yang selama ini tersembunyi dari dirinya.

"...Aku nggak suka mendengar itu," gumam Giana pelan.

Ren tidak menjawab.

"Aku nggak mau percaya kalau kekaisaran benar-benar menyembunyikan sesuatu seperti ini."

Nada suaranya terdengar jauh lebih pelan dibanding sebelumnya.

"Tapi..."

Giana menggigit bibirnya pelan sebelum melanjutkan.

"Aku juga nggak bisa bilang kalau itu mustahil."

Untuk beberapa saat, hanya suara kayu yang terbakar yang terdengar di antara mereka. Malam terasa semakin sunyi, sementara nyala api unggun terus menari di tengah dinginnya hutan utara Pulau Zale. Ren menghela napas panjang. Ia tahu posisi Giana tidak mudah dalam masalah ini. Terlepas dari semua keluhannya tentang keluarga kerajaan dan gelar yang ia benci, pada akhirnya Giana tetaplah putri pertama Kekaisaran Oswald. Ia memiliki tanggung jawab yang tidak bisa begitu saja dilepaskan. Dan Ren memahami itu. Bahkan mungkin lebih baik daripada kebanyakan orang. Karena selama bertahun-tahun ia telah melihat sendiri seperti apa para bangsawan yang berada di sekitar istana. Korupsi, perebutan kekuasaan, intrik politik, hingga permainan kotor yang dilakukan demi kepentingan pribadi bukanlah sesuatu yang asing baginya. Justru karena itulah ia tahu beban yang harus dipikul Giana jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar.

"Oh iya."

Ren tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.

"Gimana kamu bisa kerja sama sama Tim Sigma?"

Ia menoleh dan menatap Giana dengan seksama. Pertanyaan itu membuat Giana langsung membeku sesaat.

"..."

Lalu perlahan ia memalingkan wajahnya. Ren langsung menyipitkan matanya dengan curiga. Ia sangat mengenali ekspresi itu. Itu adalah ekspresi yang selalu muncul setiap kali Giana baru saja membuat masalah dan sedang berusaha menghindari interogasi. Dan sayangnya, Ren sudah terlalu sering melihat wajah itu selama bertahun-tahun.

"Gia."

"Nggak ada apa-apa kok. Aku cuma kebetulan minta tolong ke Tuan Galliard buat bantu aku."

"Gia."

"Aku serius."

"Gia."

Giana semakin memalingkan wajahnya. Ren hanya menatapnya tanpa berkedip. Semakin lama keheningan itu berlangsung, semakin yakin dirinya kalau sesuatu telah terjadi. Akhirnya Giana mulai gelisah di bawah tatapannya.

"Apa?"

"Kamu ngapain?"

"Nggak ngapa-ngapain."

"Kamu bohong."

"Aku nggak bohong."

"Kamu bohong."

"Aku nggak bohong!"

"Gia."

"Ugh..."

Giana langsung mengalihkan pandangannya ke langit malam dengan wajah kesal. Melihat reaksi itu, Ren semakin yakin bahwa firasat buruknya benar. Dan berdasarkan pengalamannya... Apa pun yang akan keluar dari mulut Giana berikutnya kemungkinan besar akan membuat kepalanya sakit.

"Ini semua gara-gara kamu tahu!"

Akhirnya Giana meledak. Ia langsung menoleh ke arah Ren sambil menunjuknya dengan kesal.

"Kalau kamu mau pulang sama aku dari awal, Simulacrum aku nggak bakal keburu hilang sebelum kita balik ke camp!"

Ren mulai punya firasat ke mana arah pembicaraan ini berjalan.

"Dan sekarang udah lewat jam tujuh malam!" lanjut Giana dengan nada semakin tinggi. "Simulacrum aku pasti udah lenyap dari tadi!"

Wajah Ren perlahan mulai datar. Sementara Giana masih terus mengomel tanpa jeda.

"Maxith sama Royal Knights pasti lagi panik nyariin aku sekarang!"

"..."

"Pokoknya ini salah kamu!"

"..."

"Kamu nggak mau dengerin aku!"

"..."

Ren menutup matanya perlahan. Lalu mengusap wajahnya dengan satu tangan. Ternyata firasat buruknya benar. Dan entah kenapa, hidupnya selalu menjadi jauh lebih rumit setiap kali Giana terlibat di dalamnya.

"Kenapa kamu ngga bilang dari awal?" Tanya Ren sambil tetap memegangi kepalanya.

"Kamu sama yang lainnya yang ngge dengerin!! kamu tuh kalau orang lain ngomong makanya dengerin!!" Ujar Giana dengan kesal.

Giana kemudian mulai mengomel tanpa henti dan menceritakan semuanya dari awal. Mulai dari rapat pihak Academy yang menolak melakukan pencarian untuk Ren dan Damian karena dianggap terlalu berisiko. Lalu bagaimana dirinya memaksa bertemu dengan Olivier untuk meminta bantuan. Hingga keputusan nekatnya merapalkan sihir Simulacrum dan diam-diam menyelinap keluar dari camp demi mencari keberadaan Ren seorang diri. Semakin lama Ren mendengarkan, semakin terasa sakit kepalanya.

Ia bahkan sempat beberapa kali menutup wajahnya dengan satu tangan seolah berharap semua cerita itu berhenti sebelum menjadi lebih buruk. Namun sayangnya, cerita Giana justru terus berlanjut. Seorang putri pertama Kekaisaran Oswald menyelinap keluar dari camp tanpa izin. Menggunakan Simulacrum untuk menipu pengawasan para Royal Knight. Lalu masuk ke hutan yang dipenuhi iblis hanya untuk mencari dirinya. Semakin dipikirkan, semakin terdengar seperti ide terburuk yang pernah ia dengar. Jika sesuatu terjadi pada Giana, bukan hanya dirinya yang akan mendapat masalah. Seluruh Academy bisa ikut terseret. Bahkan tidak mustahil pihak istana langsung turun tangan.

Dan yang paling parah. Giana melakukannya tanpa sedikit pun merasa bersalah.

"Kamu tuh ya..." Ren akhirnya menghela napas panjang.

Tangannya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.

"Dari dulu ceroboh banget sih."

"Apa!?"

Giana langsung menoleh tidak terima.

"Yang nekat di sini siapa dulu!?"

Ia menunjuk Ren dengan jari telunjuknya.

"Siapa orang tolol yang sok-sokan mau jadi pahlawan terus masuk ke hutan yang jelas-jelas banyak iblis!?"

"Itu beda—"

"Nggak beda!"

Giana langsung memotong tanpa memberi kesempatan Ren membela diri.

"Ini salah kamu, Ren!"

Pipinya menggembung kesal sementara matanya mulai memerah.

"Aku harus ngelakuin itu kalau nggak kamu bakal pergi lagi dari aku!"

Suaranya mulai meninggi.

"Aku nggak mau!"

Ia menggenggam erat ujung seragamnya sendiri.

"Nggak mau..."

Kali ini suaranya terdengar jauh lebih pelan danjauh lebih rapuh.

"Aku nggak mau kehilangan kamu lagi."

Ren yang semula hendak membalas akhirnya terdiam. Nyala api unggun memantulkan cahaya ke wajah Giana yang menunduk. Untuk pertama kalinya sejak mereka mulai berdebat malam itu, tidak ada nada manja, tidak ada rengekan berlebihan, dan tidak ada sikap keras kepala yang biasa ia tunjukkan. Yang tersisa hanya kejujuran. Kejujuran yang selama ini selalu berusaha disembunyikan Giana di balik senyuman formalnya kepada siapapun. Ren menatapnya dalam diam Empat tahun lalu dirinya memilih pergi tanpa memberikan penjelasan apa pun dan luka yang dia berikan tidak akan pernah sembuh apapun yang terjadi.

"..."

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Hanya suara kayu yang terbakar pelan di tengah malam yang menemani keheningan mereka. Akhirnya Ren menghela napas panjang.

"...Bodoh."

"Hah?"

Giana langsung mengangkat kepalanya.

"Kamu itu putri pertama Kekaisaran Oswald."

Ren mengalihkan pandangannya ke arah api unggun.

"Jangan mempertaruhkan hidupmu buat orang kayak aku."

Mendengar itu, Giana langsung mengernyit. Lalu tanpa ragu mencondongkan tubuhnya ke depan dan memukul lengan Ren dengan keras.

Buk.

"Sakit."

"Itu karena kamu ngomong aneh-aneh!"

Lihat selengkapnya