Julia yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya menutup peta yang berada di tangannya. Setelah memastikan suasana di antara Ren dan Giana sudah jauh lebih tenang dibanding sebelumnya, ia berjalan mendekati keduanya untuk menanyakan detail rencana yang Ren susun untuk esok hari. Namun langkahnya sedikit melambat saat melihat pemandangan di depannya. Putri pertama Kekaisaran Oswald itu tengah menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Ren, sementara napasnya terdengar pelan dan teratur di tengah hangatnya cahaya api unggun.
Entah sejak kapan gadis itu tertidur. Bahkan Ren sendiri tampaknya baru menyadari hal tersebut beberapa saat yang lalu. Untuk sesaat, Julia hanya memandang mereka dalam diam. Tanpa ia sadari, ekspresinya perlahan melunak. Sudut bibirnya sedikit terangkat saat melihat pemandangan yang terasa begitu damai di tengah situasi mereka yang berbahaya. Setelah semua yang terjadi hari ini, melihat Giana bisa tertidur dengan tenang di sisi Ren terasa seperti sesuatu yang langka.
"Saya mengganggu?"
Tanya Julia pelan dan Ren menggeleng kecil menanggapinya.
"Nggak."
Suaranya sengaja dipelankan agar tidak membangunkan Giana.
"Ada apa, Komandan?"
Julia melirik sekilas ke arah Giana yang masih tertidur sebelum kembali menatap Ren.
"Saya ingin membahas rencana untuk besok."
Suaranya tetap tenang seperti biasa.
"Saya nggak mau mengganggu waktu kalian. Tapi sepertinya setelah kamu sadar, sudah waktunya kita mengadakan rapat strategi."
Ren mengangguk pelan.
"Baik."
Ia kemudian menoleh ke arah Giana yang masih tertidur di bahunya.
"Gia."
Tidak ada respons.
"Gia."
Gadis itu hanya mengerang pelan tanpa membuka mata.
"Mmm..."
Ren menghela napas kecil sebelum menepuk pundaknya dengan hati-hati.
"Bangun."
Kali ini Giana sedikit bergerak. Namun bukannya menjauh, ia justru semakin menyandarkan kepalanya ke bahu Ren seolah mencari posisi yang lebih nyaman.
"Nggak mau..."
Gumamnya dengan suara mengantuk. Ren terdiam beberapa saat. Sementara itu, Julia yang melihat pemandangan tersebut perlahan memalingkan wajahnya sambil berusaha menahan senyum yang hampir muncul di bibirnya. Melihat reaksi keduanya, Ren mulai merasa sedikit sebal. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat satu tangan lalu mencubit pipi Giana.
"Aduh! Aduh! Sakit, Ren!"
Giana langsung membuka matanya sambil memegangi pipinya yang memerah. Tatapannya segera beralih ke arah Ren dengan ekspresi kesal.
"Kamu ngapain sih!?" Protesnya kesal.
"Kita mau bahas rencana masalah yang kamu buat."
Sementara Julia akhirnya gagal menahan senyum kecilnya melihat pertengkaran yang sudah terasa begitu alami di antara keduanya.
"Yang mulia."
Panggil Julia dengan sopan.
"Kita akan membahas strategi untuk besok."
Mendengar itu, Giana akhirnya menyadari keberadaan Julia yang berdiri tidak jauh dari mereka. Wajahnya langsung membeku sesaat saat menyadari dirinya baru saja tertidur bersandar di bahu Ren di depan orang lain.
"..."
Pipinya perlahan memerah.
"Ah."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Lalu beberapa detik kemudian, wajah Putri Pertama Kekaisaran Oswald itu berubah semerah tomat. Namun pengalaman bertahun-tahun hidup di lingkungan istana membuatnya bereaksi dengan cepat. Ia segera berdeham pelan, berdiri dari tempat duduknya, lalu memasang ekspresi tenang yang biasa ia gunakan saat menghadiri acara resmi kerajaan. Dalam hitungan detik, seluruh rasa malunya seolah menghilang. Setidaknya di permukaan.
"Baiklah, Nona Brown."
Nada suaranya kembali terdengar anggun dan formal.
"Bisa Anda membantu mengumpulkan Tim Sigma sekaligus membangunkan orang tidak berguna itu?"
Julia berkedip sesaat sebelum memahami siapa yang dimaksud, sementara itu, Ren tanpa sadar memiringkan bibirnya menahan senyum.
Tentu saja, "orang tidak berguna" yang dimaksud Giana tidak lain adalah Damian.Julia sendiri hanya mengangguk kecil.
"Saya mengerti."
Ia lalu melirik ke arah Damian yang masih terbaring tidak jauh dari api unggun. Sahabatnya itu terlihat tidur dengan sangat nyenyak. Bahkan suara percakapan mereka sejak tadi tampaknya sama sekali tidak mengganggu tidurnya.
"..."
Untuk sesaat, Julia mulai merasa sedikit kasihan.
"Kalau begitu saya akan membangunkannya."
Namun sebelum Julia sempat melangkah, Ren sudah berdiri lebih dulu.
"Saya saja, Komandan."
Julia mengangguk kecil sementara Ren berjalan mendekati sahabatnya. Dari jarak beberapa langkah saja, suara dengkuran Damian sudah terdengar cukup jelas. Melihat itu, Ren hanya menghela napas panjang. Tentu saja. Di tengah situasi seperti ini pun Damian masih terlihat tidur dengan tenang. Ren kemudian berjongkok di sampingnya.
"Damian."
Tidak ada respons.
"Damian."
Kali ini salah satu mata Damian sedikit terbuka.
"Jadi gimana?"
Senyum tipis langsung muncul di wajahnya.
"Udah baikan sama cewek lu itu?"
Ren terdiam sesaat, lalu tanpa ragu ia langsung menepuk bagian belakang kepala Damian.
Plak.
"Aduh."
Damian meringis pelan.
"Bangsat."
Ren menggeleng.
"Kalau mau pura-pura tidur, yang bener dikit."
Senyum Damian justru semakin lebar. Ternyata dia memang tidak benar-benar tertidur. Sejak awal ia hanya memejamkan mata sambil mendengarkan percakapan Ren dan Giana dari kejauhan. Dan sayangnya, ia mendengar hampir semuanya.
"Yah, salah sendiri ngomongnya keras."
Ujar Damian santai.
"Susah juga buat nggak denger dua orang yang lagi rujuk di depan api unggun."
"Bacot, Siapa yang rujuk?" Cibir Ren dengan dingin.
Damian terkekeh pelan mendengarkan hal itu.
"Oke, oke."
Meski begitu, senyum menyebalkan di wajahnya sama sekali tidak berkurang. Namun setelah beberapa saat, ekspresi Damian perlahan berubah. Candaan yang tadi masih terlihat di matanya menghilang, digantikan keseriusan yang jarang ia tunjukkan.
"Magic Circle itu."
Suaranya merendah.
"Perlu gue yang ngurus?"
Ren terdiam sejenak sebelum menggeleng pelan.
"Nggak perlu."
Tatapannya mengarah ke arah hutan yang gelap di luar cahaya api unggun.
"Simpen sampai waktunya tepat."
Damian memperhatikannya beberapa saat. Sebagai seseorang yang sudah bertarung bersama Ren selama bertahun-tahun, ia langsung memahami maksud di balik jawaban singkat tersebut, dan Damian langsung mengerti maksudnya dan tidak bertanya lebih jauh.
"Roger Kapten."
***
Waktu terus berlalu. Altheya akhirnya selesai memeriksa perlengkapan yang ia bawa. Setelah memastikan semuanya berada dalam kondisi baik, gadis itu menyimpan kembali peralatannya sebelum berjalan mendekati area api unggun. Di saat yang sama, Rose dan Olivier juga telah menyelesaikan patroli singkat di sekitar perkemahan. Keduanya kembali tanpa menemukan sesuatu yang mencurigakan dan segera bergabung dengan yang lain. Sementara itu, Giana dan Julia sudah lebih dulu berada di sekitar api unggun. Cahaya jingga dari kobaran api menerangi wajah mereka di tengah dinginnya malam yang semakin larut.
Melihat seluruh anggota kelompok mulai berkumpul, Ren dan Damian saling bertukar pandang sejenak sebelum berjalan mendekati api unggun. Suasana santai yang sebelumnya mengisi perkemahan perlahan menghilang, digantikan oleh keseriusan yang mulai terlihat di wajah setiap orang yang hadir. Karena mulai saat ini, mereka tidak lagi berbicara sebagai teman yang sedang beristirahat. Mereka akan membahas langkah berikutnya. Sebuah rapat strategi dadakan yang akan menentukan apa yang harus mereka lakukan ke depannya.
"Oke, pertama mari kita bahas masalah utama yang sedang kita hadapi."
Julia membuka rapat strategi dengan nada tenang dan tegas seperti biasanya. Cahaya api unggun memantul di matanya saat ia menyapu seluruh anggota kelompok dengan tatapan serius.