Malam semakin larut di Hutan Utara Pulau Zale. Cahaya api unggun yang sebelumnya menjadi pusat rapat strategi kini mulai mengecil, meninggalkan bara merah yang sesekali berderak pelan di tengah dinginnya udara malam. Setelah pembahasan mengenai Magic Circle, Dreadveil, dan rencana mereka untuk esok hari akhirnya selesai, kelompok itu perlahan mulai mempersiapkan diri untuk beristirahat. Namun sebelum itu, ada satu hal yang masih harus dilakukan. Sesuai rencana yang telah disepakati, Giana dan Olivier akan kembali menuju Camp Academy untuk melaporkan situasi yang terjadi kepada pihak Academy dan Royal Knights yang merupakan pengawal dari Giana. Sementara Ren, Damian, Julia, Altheya, dan Rose akan bergerak menuju lokasi Magic Circle begitu fajar tiba.
Di dekat sisa cahaya api unggun, Giana berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Pipinya masih sedikit menggembung sejak pembicaraan mereka sebelumnya. Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Ren yang berdiri beberapa langkah di depannya. Di belakang sang putri, Olivier berdiri dengan tenang sambil membawa perlengkapannya. Kapten Tim Sigma itu memilih diam dan membiarkan keduanya menyelesaikan urusan mereka sendiri. Bahkan Rose dan Damian yang biasanya sulit menahan komentar kali ini cukup bijak untuk menjaga jarak.
Suasana di sekitar mereka menjadi sedikit lebih sunyi.
"Apa lagi?"
Tanya Ren akhirnya. Mendengarkan hal itu Giana langsung mengerutkan dahinya.
"Kamu serius nanya itu?"
Ren memiringkan kepalanya sedikit dengan ekspresi bingung. Melihat reaksi itu, urat kesabaran Giana seolah langsung putus.
"Dasar kamu nggak peka banget sih!?"
Keluhnya dengan kesal, mendengarkan hal itu Ren hanya menghela napas panjang. Sejujurnya, sampai sekarang ia masih tidak benar-benar mengerti apa yang sedang membuat sang putri marah.
"Apa yang Anda inginkan, Yang Mulia?"
Tanya Ren dengan pasrah.Mendengarkan hal itu Giana bukannya menjawab dia justru merentangkan kedua tangannya ke arahnya.
"..."
Ren membeku melihat hal itu dan dalam beberapa detik, otaknya benar-benar gagal memproses apa yang sedang terjadi. Sementara itu, Damian yang menyadari maksud Giana langsung tertawa terbahak-bahak tanpa sedikit pun berusaha menutupinya.
"Hahahaha! Astaga!"
Ren langsung menoleh ke arah sahabatnya dengan tatapan datar sebelum kembali menatap Giana.
"Yang Mulia..."
Nada suaranya terdengar sedikit canggung.
"Ini agak..."
Tatapannya melirik sekilas ke arah anggota yang lainnya yang masih berada tidak jauh dari mereka.
"...dan kita sedang di depan orang lain."
"Memangnya kenapa?"
Balas Giana tanpa merasa bersalah sedikit pun. Tatapannya tetap tertuju pada Ren.
"Mereka juga nggak bakal berani macam-macam."
Kemudian senyum tipis muncul di wajahnya. Apalagi saat ia sengaja menekankan kalimat berikutnya.
"Lagipula mereka percaya sekali, loh, sama kamu."
Kata "percaya" diucapkannya dengan penekanan yang sangat jelas. Tatapannya kemudian bergeser ke arah Julia dan Altheya yang masih berdiri tidak jauh dari sana. Senyum di wajahnya tetap terlihat anggun dan sempurna seperti seorang putri kerajaan pada umumnya. Namun entah kenapa, Julia merasa hawa di sekitarnya tiba-tiba menjadi sedikit lebih dingin. Sementara Altheya juga menangkap tatapan itu dan memahami dengan jelas pesan yang tersembunyi di baliknya.
Tatapan yang sekilas terlihat sopan itu terasa seperti sebuah peringatan yang sangat halus. Giana tetap mempertahankan ekspresi tenangnya seolah tidak ada maksud apa pun di balik tindakannya. Seolah dirinya sama sekali tidak menyimpan rasa cemburu terhadap dua wanita yang belakangan ini cukup sering berada di sekitar Ren dan untuk pertama kalinya malam itu, Julia memilih tidak berkomentar apa pun.
"Tolong ampuni saya, Yang Mulia."
Ujar Ren sambil menghela napas panjang.
"Saya tahu Anda masih kesal dengan keputusan ini."
Mendengar jawaban itu, Giana justru semakin mengembungkan pipinya. Jelas sekali dirinya tidak puas dengan respons yang diberikan Ren. Setelah semua yang terjadi hari ini, setelah mereka akhirnya bisa berbicara dengan baik tanpa saling menjauh seperti sebelumnya, Ren justru kembali mengirimnya pergi. Dan yang paling membuatnya kesal adalah pria itu masih belum memahami alasan dirinya marah. Atau mungkin memahami dan sengaja mengabaikannya demi keselamatan dirinya.
Tanpa mengatakan apa pun, Giana melangkah maju mendekati Ren. Gerakannya membuat Ren sedikit mengernyit karena tidak memahami apa yang sedang dipikirkan sang putri. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Giana sudah berdiri tepat di hadapannya. Jarak di antara mereka menghilang hanya dalam beberapa langkah singkat. Dan untuk sesaat, Ren hanya bisa menatapnya dengan bingung.
"Yang Mulia?"
Panggil Ren heran, namun Giana tidak menjawab. Kedua tangannya justru terangkat dan melingkar di pinggang Ren tanpa ragu sedikit pun. Gerakannya begitu cepat hingga Ren bahkan tidak sempat bereaksi. Tubuhnya langsung membeku di tempat saat menyadari apa yang baru saja terjadi. Di sisi lain, Damian yang melihat pemandangan itu segera menundukkan kepala sambil tertawa terbahak-bahak di tempat. Ekspresi sahabatnya itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menikmati situasi ini sepenuhnya.
"..."
Ren hanya bisa terdiam sementara Rose refleks memalingkan wajahnya ke arah lain sambil berusaha menjaga ekspresi tetap normal. Julia berdeham pelan lalu berpura-pura memeriksa kembali peta yang sebenarnya sudah selesai ia rapikan sejak beberapa menit lalu. Bahkan Olivier yang biasanya tenang memilih mengalihkan pandangannya ke arah hutan seolah ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk diperhatikan di sana. Tidak ada seorang pun yang berniat ikut campur. Sementara itu, Giana sama sekali tidak peduli dengan reaksi orang-orang di sekitarnya.
Putri Pertama Kekaisaran Oswald itu hanya memeluk Ren dengan erat seolah tindakan tersebut merupakan sesuatu yang sepenuhnya wajar. Seolah tidak peduli dengan semua orang yang sedang memperhatikan mereka. Dan seolah dirinya tidak akan berangkat meninggalkan tempat itu dalam beberapa menit ke depan. Pada akhirnya, Ren hanya menghela napas panjang. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat dan terlalu mengenal Giana untuk berpikir dirinya bisa menang dalam situasi seperti ini. Karena itu, setelah beberapa saat terdiam, ia memilih menyerah dan membiarkan sang putri tetap berada di sana. Setidaknya untuk beberapa saat sebelum mereka benar-benar harus berpisah.
Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Hanya suara kayu yang terbakar pelan dari sisa api unggun yang mengisi keheningan malam. Giana memejamkan matanya sambil menyandarkan dahinya ke dada Ren. Mencoba menghafal kembali kehangatan yang selama ini begitu ia rindukan. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa begitu mereka berpisah malam ini, tidak ada jaminan kapan mereka bisa berbicara setenang ini lagi. Sementara itu, Ren hanya berdiri diam. Tatapannya mengarah ke langit malam di atas pepohonan tanpa benar-benar melihat apa pun, untuk pertama kalinya malam itu ia tidak berusaha melepaskan pelukan tersebut.
"Kali ini kamu harus kembali."
Giana menundukkan sedikit kepalanya sebelum melanjutkan.
"Ingat. Aku nggak akan maafin kamu kalau kamu sok jadi pahlawan lagi dan ngorbanin diri sendiri kayak orang idiot."
Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Justru itulah yang membuat kalimat itu terasa jauh lebih berat. Karena Ren tahu Giana tidak sedang bercanda ataupun mengucapkannya karena emosi sesaat. Gadis itu benar-benar serius. Ia sedang memberinya perintah yang tidak membuka ruang untuk penolakan sedikit pun. Sebuah perintah yang lahir dari ketakutannya saat ini.
"Kalau kamu nggak kembali."
Pelukannya sedikit mengencang.
"Sampai alam kematian juga aku bakal ngejar kamu lagi."
Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Bahkan Damian yang biasanya selalu menemukan sesuatu untuk ditertawakan memilih diam. Tidak ada seorang pun yang menganggap perkataan itu sebagai lelucon. Karena semua orang yang berada di sana dapat merasakan ketulusan yang tersembunyi di balik kalimat tersebut. Giana benar-benar akan melakukannya jika perlu.
Ren memejamkan matanya sejenak. Ia bisa merasakan bagaimana jemari Giana sedikit bergetar di balik ketegasan yang berusaha ditunjukkannya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari bahwa yang ditakutkan gadis itu bukanlah iblis, Dreadveil, ataupun bahaya yang menunggu mereka di hutan utara. Yang paling ditakutkannya adalah kehilangan dirinya sekali lagi.
"Baiklah, Yang Mu—"
Belum sempat Ren menyelesaikan kalimatnya, Giana langsung mempererat pelukannya tanda penolakan.
"Baiklah, Nona—"
Pelukan itu kembali mengencang. Kali ini bahkan Damian harus menundukkan kepalanya sambil menutup mulutnya sendiri agar tidak tertawa keras. Rose juga segera memalingkan wajahnya, sementara Olivier memilih menatap langit malam dengan ekspresi pasrah. Bahkan Julia yang biasanya tenang terlihat memejamkan mata sejenak seolah sedang mencoba mengabaikan apa yang terjadi di depan mereka.
Ren menghela napas panjang. Tatapannya berkeliling sesaat sebelum menyadari bahwa tidak ada lagi gunanya mempertahankan sandiwara yang selama ini ia gunakan di depan orang lain. Rahasia yang berusaha ia sembunyikan sudah diketahui oleh hampir semua orang yang berada di tempat itu. Cepat atau lambat, hal seperti ini memang akan terjadi.
"Iya, Gia."
Untuk pertama kalinya malam itu, Ren mengucapkan nama tersebut tanpa gelar, tanpa formalitas, dan tanpa menjaga jarak di antara mereka di depan semua orang disana. Senyum kecil langsung muncul di wajah Giana. Senyum yang jauh lebih tulus dibanding senyum bangsawan yang biasa ia tunjukkan kepada dunia. Perlahan, kemarahan dan kekesalan yang sejak tadi ia tahan mulai menghilang. Seolah hanya satu kata sederhana itu saja sudah cukup untuk membuat semua protesnya menguap begitu saja.
Setelah beberapa saat, Giana akhirnya melepaskan pelukannya. Namun sebelum mundur sepenuhnya, ia masih sempat menatap Ren beberapa detik lebih lama. Seolah sedang memastikan bahwa pria itu benar-benar memahami apa yang baru saja ia katakan. Dan kali ini, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali di Pulau Zale, Giana merasa Ren benar-benar mendengarkannya.
Giana menarik napas pelan setelah akhirnya melepaskan pelukannya. Senyum kecil masih tersisa di wajahnya, meskipun kini ia kembali berusaha memasang sikap anggun yang biasa ia tunjukkan di depan orang lain. Namun siapa pun yang melihatnya bisa menyadari bahwa suasana hatinya jauh lebih baik dibanding dengan biasanya. Setelah memastikan dirinya kembali tenang, Putri Pertama Kekaisaran Oswald itu berbalik menghadap Olivier yang sejak tadi menunggu dengan sabar di dekat jalur keluar perkemahan.
"Maaf sudah membuat Anda menunggu, Tuan Galliard."
Ujar Giana dengan sopan.
"Dengan beberapa penggunaan Dimensional Door milik saya, seharusnya kita bisa kembali ke camp jauh lebih cepat."
Olivier mengangguk pelan sebelum menyesuaikan posisi tas dan perlengkapannya di bahu.
"Tidak masalah, Yang Mulia."
Jawabnya dengan tenang.
"Kita memang harus segera menyampaikan laporan ini kepada pihak Academy."
Dimensional Door merupakan salah satu sihir level empat yang berupa sihir teleportasi yang telah dikuasai Giana sejak beberapa tahun lalu. Sebagai sihir tingkat empat, penggunaannya membutuhkan kontrol mana yang sangat baik dan tidak mudah dipelajari. Jarak teleportasinya memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar seratus lima puluh meter dalam satu penggunaan. Namun di lingkungan seperti Hutan Utara Pulau Zale yang dipenuhi ancaman iblis, kemampuan itu jauh lebih berharga dibanding sekadar kecepatan berlari. Giana mengangkat tongkat sihirnya perlahan. Cahaya mana berwarna kebiruan mulai berkumpul di ujung tongkat tersebut, membentuk lingkaran sihir yang berputar pelan di udara malam.
"Kalau begitu kami berangkat."
Ujar Giana sebelum lingkaran sihir aktif sepenuhnya, tatapannya sempat kembali mengarah kepada Ren untuk sesaat. Hanya sesaat. Namun itu cukup untuk menyampaikan apa yang tidak perlu diucapkan lagi. Ren membalas tatapan tersebut dengan anggukan kecil. Tidak ada janji tambahan ataupun kata-kata perpisahan. Karena keduanya sudah mengatakan semua yang perlu dikatakan beberapa menit sebelumnya. Lingkaran sihir di bawah kaki mereka akhirnya menyala terang dan Cahaya kebiruan langsung membungkus tubuh Giana dan Olivier. Ruang di sekitar mereka bergetar sesaat sebelum keduanya menghilang dari tempat itu dalam kilatan cahaya singkat.
Hanya hembusan angin dan sisa partikel mana yang masih berkilauan di udara yang menandakan bahwa mereka pernah berdiri di sana beberapa detik yang lalu. Keheningan kembali menyelimuti area api unggun yang perlahan mulai mengecil. Untuk beberapa saat, Ren hanya memandangi tempat kosong yang ditinggalkan Giana. Cahaya api unggun memantul samar di mata peraknya sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke arah kegelapan hutan yang membentang di luar perkemahan.
Setelah rapat strategi berakhir, suasana perlahan kembali tenang. Rose dan Julia memutuskan untuk beristirahat lebih awal agar bisa memulihkan tenaga sebelum giliran jaga mereka tiba. Keduanya memilih duduk tidak jauh dari api unggun sambil menikmati beberapa saat ketenangan yang langka di Pulau Zale. Tidak ada diskusi serius ataupun pembicaraan mengenai iblis malam itu. Untuk sementara waktu, mereka hanya ingin menikmati suasana damai yang mungkin tidak akan mereka dapatkan lagi besok.
Sementara itu, Damian yang mendapat giliran jaga pertama sudah memanjat salah satu pohon besar di tepi perkemahan. Dengan santainya ia duduk di atas batang pohon yang cukup kokoh untuk menahan berat tubuhnya. Dari posisi tersebut, ia bisa mengawasi sebagian besar area sekitar perkemahan tanpa kesulitan. Sebatang rokok terselip di antara jemarinya sementara asap tipis perlahan naik ke udara malam. Dari kejauhan, sosoknya terlihat begitu santai hingga sulit dipercaya bahwa pria itu sedang berjaga di wilayah yang dipenuhi iblis. Ren sempat melirik ke arah sahabatnya sejenak sebelum menggeleng pelan. Ia sudah terlalu lama mengenal Damian untuk mempertanyakan kebiasaannya yang satu itu.
Selama pria itu masih bisa bereaksi lebih cepat daripada siapa pun saat keadaan memburuk, Ren tidak berniat mengomentarinya. Lagi pula, Damian memang selalu seperti itu. Dirinya tetap santai meskipun situasinya berbahaya. Saat Ren kembali mengalihkan perhatiannya ke arah api unggun, sebuah sentuhan ringan terasa di pundaknya. Ia menoleh dan mendapati Altheya berdiri di sampingnya. Gadis berambut pastel itu menurunkan tangannya perlahan setelah memastikan ia berhasil menarik perhatian Ren. Cahaya api unggun memantulkan warna keemasan lembut di matanya, sementara ekspresinya terlihat jauh lebih tenang dibanding saat rapat strategi berlangsung beberapa waktu lalu.
"Ren."
Panggil Altheya pelan.
"Ada waktu sebentar?"
Nada suaranya terdengar biasa saja. Namun entah kenapa, ada sedikit keraguan yang jarang muncul dalam cara bicaranya. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan sejak tadi, tetapi belum menemukan kesempatan yang tepat untuk mengungkapkannya. Ren memandangnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Ada."
Jawabnya singkat. Tatapan Altheya sempat bergeser ke arah tempat Giana menghilang beberapa saat yang lalu. Hanya sesaat sebelum kembali menatap Ren. Dan untuk pertama kalinya malam itu, gadis tersebut tampak sedang mempertimbangkan sesuatu dengan sangat serius. Perasaan itu begitu samar hingga sulit dijelaskan, namun Ren bisa merasakannya. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Altheya sejak tadi.