Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #32

Epilogue

Di sebuah ruang putih yang dipenuhi cahaya tanpa ujung, seorang gadis berambut putih duduk dengan tenang sambil memandangi sebuah bola sihir yang melayang di hadapannya. Cahaya lembut mengalir di sepanjang dinding yang tidak terlihat, menciptakan suasana yang terasa damai sekaligus misterius. Di dalam bola sihir itu, berbagai pemandangan dari Pulau Zale dari sudut pandang Ren terus bergerak seperti sebuah cermin yang memperlihatkan kejadian dari kejauhan. Sudut pandang yang ditampilkan tidak lain adalah apa yang baru saja dilihat Ren beberapa saat sebelumnya. Dan sejak tadi, senyum kecil tidak pernah benar-benar hilang dari wajah gadis tersebut.

Matanya memperhatikan bagaimana Giana memeluk Ren tanpa rasa malu sedikit pun. Bagaimana sang putri dengan terang-terangan menunjukkan perasaannya. Dan bagaimana Ren tetap tidak menyadari makna di balik semua itu meskipun sudah berkali-kali diperlihatkan secara langsung. Setiap kali mengingat ekspresi bingung pria itu, senyum di wajah gadis berambut putih tersebut justru semakin lebar. Seolah dirinya sedang menikmati sebuah pertunjukan yang tidak akan pernah membuatnya bosan.

"Kamu benar-benar polos ya, Ren."

Ujarnya pelan sambil menahan tawa.

"Meskipun sudah sejelas itu kalau Giana mencintaimu, kamu masih saja menganggap semuanya sebagai hal yang biasa."

Ia menggelengkan kepalanya perlahan. Rambut putihnya bergoyang lembut mengikuti gerakan tersebut. Namun tatapannya tidak pernah lepas dari bola sihir di hadapannya. Terutama ketika pemandangan di dalamnya berubah dan memperlihatkan sosok Altheya yang sedang berjalan kembali menuju perkemahan dengan senyum yang tidak mampu ia sembunyikan. Senyum seorang gadis yang baru saja menyadari isi hatinya sendiri.

"Dan sekarang..."

Tatapannya melembut.

"Seorang gadis elf juga berhasil kamu curi hatinya tanpa kamu sadari."

Tawa kecil akhirnya lolos dari bibirnya. Bukan tawa yang mengejek, melainkan tawa seseorang yang benar-benar merasa terhibur oleh apa yang sedang dilihatnya. Baginya, Ren selalu menjadi sosok yang menarik. Seseorang yang mampu mengubah hidup orang lain tanpa pernah menyadari pengaruh yang dimilikinya. Dan justru karena itulah, setiap langkah yang diambil pria tersebut selalu terasa menyenangkan untuk diperhatikan.

"Hehehe..."

Gadis itu menyandarkan dagunya di atas telapak tangannya sambil terus menatap bola sihir tersebut.

"Benar-benar... memperhatikanmu tidak pernah membuatku bosan."

Senyumnya perlahan berubah menjadi lebih hangat. Seolah dirinya sedang melihat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah hiburan. Dan jauh di dalam berwarna emasnya, tersimpan perasaan yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata sederhana. Sementara itu, di dalam bola sihir, Ren masih berdiri sendirian di bawah cahaya bulan tanpa menyadari ada seseorang yang terus memperhatikannya. Seseorang yang telah menyaksikan setiap langkahnya selama ini. Dan seseorang yang diam-diam menantikan ke mana takdir akan membawanya selanjutnya.

Lihat selengkapnya