Seorang pria dengan rambut emas yang disisir rapi ke belakang mengembuskan napas panjang. Sepasang mata emasnya menatap tumpukan dokumen di atas meja dengan tatapan lelah. Bebannya sebagai kepala Academy, ditambah tekanan dari para bangsawan Kekaisaran, sudah cukup untuk membuat kepalanya terasa berat. Namun, situasi yang terjadi di Ujian Bertahan Hidup kali ini membuat pikirannya semakin tidak tenang. Suasana mencekam yang menyelimuti hutan seakan terus menekan dirinya dari kejauhan.
Jumlah siswa yang terluka maupun dinyatakan hilang terus bertambah setiap jamnya. Laporan demi laporan masuk ke ruangannya, membawa kabar yang semakin membuat kepalanya berdenyut. Ujian yang seharusnya menjadi sarana bagi para siswa untuk menguji kemampuan mereka justru berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih serius. Dia memijat pelipisnya sebelum akhirnya meraih sebuah dokumen yang terletak di antara tumpukan laporan tersebut. Sebuah dokumen yang berisi profil seorang siswa yang sejak awal memang menarik perhatiannya.
Seorang tawanan Kekaisaran yang dikirim ke Academy sebagai bagian dari hukuman penebusan atas kasus pencurian artefak Kekaisaran. Tatapannya perlahan turun mengikuti tulisan yang tercetak pada lembaran tersebut, hingga berhenti pada sebuah nama. Nama seorang pemuda yang pernah menjadi kapten dari kelompok mercenary bernama Thistle. Kelompok itu sendiri sudah cukup membuatnya tertarik, tetapi setelah melihat kemampuan pemuda tersebut secara langsung, darah seorang pejuang dalam dirinya mau tidak mau kembali membara.
Seorang anak muda yang menunjukkan potensi jauh melampaui ekspektasinya. Meskipun pemuda itu dicap sebagai kriminal oleh Kekaisaran, akan sangat disayangkan jika bakat sebesar itu harus berakhir sia-sia. Namun, bukan hanya pemuda itu yang menarik perhatiannya. Kekaisaran yang selama ini dia kenal juga telah berubah dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan. Hanya dalam kurun waktu lima tahun, hampir semua hal yang dia percaya runtuh di depan matanya.