Refulgence of The White Wings Act III

Dimas Nugraha
Chapter #2

Chapter 1: Bayangan Sang Putri Mahkota

Suasana dini hari di Kepulauan Zale terlihat tenang. Kabut tipis turun perlahan di antara pepohonan Hutan Utara, menyelimuti tanah dan semak-semak dengan lapisan putih yang lembut. Dari kejauhan, tidak ada satu pun tanda bahaya yang terlihat. Seolah pulau itu hanyalah hutan biasa yang masih tertidur menunggu datangnya matahari. Namun kenyataannya jauh berbeda dari ketenangan yang ditampilkan alam di hadapan mereka.

Ren duduk bersandar di batang pohon besar di tepi perkemahan. Kedua tangannya terlipat di depan dada sementara tatapannya mengarah ke kabut yang membentang di antara pepohonan. Di belakangnya, anggota Tim daruratnya masih terlelap setelah hari yang panjang. Damian masih tertidur di dekat api unggun yang telah padam, sementara Rose, Julia, dan Altheya memanfaatkan sisa waktu sebelum fajar untuk beristirahat di dalam tenda masing-masing. Saat ini, hanya dirinya yang masih berjaga pada giliran terakhir malam itu.

Namun perhatian Ren tidak benar-benar tertuju pada hutan di hadapannya. Pikirannya sibuk memutar berbagai kemungkinan yang terus bermunculan sejak malam sebelumnya. Situasi yang sedang ia hadapi jauh lebih rumit daripada yang pernah ia perkirakan. Kemunculan kembali Giana dalam hidupnya telah menghancurkan banyak rencana yang selama ini ia susun dengan hati-hati. Dan mengenal sifat keras kepala sang putri, Ren tahu masalah ini tidak akan selesai dengan mudah.

Awalnya ia sudah memiliki rencana sederhana. Setelah mendapatkan kebebasan bergerak melalui misi-misi Academy, ia berniat memperbaiki hubungannya dengan Giana secara perlahan. Tanpa terburu-buru dan tanpa menarik perhatian siapa pun. Dengan cara itu, ia bisa memastikan keselamatan sang putri sekaligus menyelesaikan berbagai urusan yang masih menggantung dari masa lalu mereka. Namun sekarang, semua perhitungan itu terasa mustahil untuk diwujudkan.

Ren menghela napas panjang sambil memejamkan mata sesaat. Bayangan wajah Giana yang memeluknya semalam kembali muncul di kepalanya. Bersamaan dengan ancaman yang diucapkan gadis itu dengan ekspresi yang sepenuhnya serius. Entah kenapa, mengingatnya membuat rasa bersalah yang selama ini menghantui dirinya sedikit berkurang. Namun di saat yang sama, muncul pula kekhawatiran baru yang jauh lebih besar. Karena semakin dekat dirinya dengan Giana, semakin besar pula kemungkinan sang putri ikut terseret ke dalam bahaya yang mengelilinginya. Dan itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia inginkan sejak awal.

"Semuanya sudah terlanjur."

Gumam Ren dalam hati sambil memandang kabut yang perlahan bergerak di antara pepohonan.

"Melihat sifat keras kepala dan cengengnya, rencana untuk tetap stay low udah nggak mungkin lagi."

Ia kembali menghela napas panjang.

"Yah, mau bagaimana lagi. Saatnya mulai menjalankan rencana cadangan."

Ren masih tenggelam dalam pikirannya ketika suara langkah kaki pelan terdengar dari belakang. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Hanya ada satu orang di Tim Sigma yang memiliki kebiasaan berjalan setenang itu saat berada di lapangan. Julia keluar dari tendanya dan menghampirinya dan duduk di sampingnya tanpa banyak bicara. Cahaya bulan samar menerangi wajah sang komandan yang masih terlihat sedikit lelah setelah pertempuran panjang sebelumnya.

"Bagaimana patroli kamu?"

Tanya Julia pelan.

"Semuanya baik-baik saja. Nggak ada masalah sama sekali."

Jawab Ren singkat.

Julia mengangguk kecil. Namun bukannya langsung mengakhiri percakapan, ia justru menatap Ren beberapa saat lebih lama. Tatapannya memperhatikan ekspresi pemuda itu dengan saksama. Sebagai seseorang yang sudah cukup lama memperhatikan Ren, ia bisa langsung menyadari bahwa bawahannya tersebut sedang memikirkan sesuatu yang serius.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Tanya Julia akhirnya.

Ren menghembuskan napas perlahan. Tatapannya terangkat ke arah gelapnya malam. Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Seolah sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang seharusnya ia katakan kepada komandan yang duduk di sampingnya. Setelah beberapa saat terdiam, ia akhirnya membuka mulutnya kembali. Nada suaranya terdengar tenang seperti biasa, namun kali ini ada keseriusan yang membuat Julia langsung memusatkan seluruh perhatiannya.

"Posisi Yang Mulia dalam bahaya kalau situasi ini terus berlanjut."

Ren mengalihkan pandangannya ke arah pepohonan di kejauhan. Wajahnya terlihat tenang, tetapi Julia tahu pemuda itu tidak sedang melebih-lebihkan keadaan. Selama ini Ren jarang berbicara mengenai politik kekaisaran, namun dirinya saat ini membahas situasi terkini politik kekaisaran di hadapan komandannya.

"Suka atau tidak, Yang Mulia tetap menjadi sasaran empuk para bangsawan yang ingin mendekati Kaisar saat ini. Dan meskipun terdengar kejam, Kaisar sendiri tidak lebih menganggapnya sebagai simbol dan alat politik semata."

Julia memperhatikannya tanpa menyela. Ia membiarkan Ren melanjutkan pemikirannya sampai selesai. Semakin lama bekerja bersama pemuda itu, semakin ia memahami bahwa Ren selalu memiliki alasan di balik setiap kesimpulan yang ia buat. Bahkan ketika kesimpulan tersebut terdengar tidak masuk akal pada awalnya.

"Itu semua karena Yang Mulia Giana tidak punya pengaruh politik apa-apa."

Ren berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Setidaknya saat ini."

"Saat ini?"

Julia sedikit mengernyit mendengar kalimat terakhirnya. Ren mengangguk pelan saat mendengarkan hal itu.

"Saat ini seluruh faksi bangsawan mendukung Leonardo sebagai penerus takhta setelah wafatnya Kaisar Alexander. Nggak ada satu pun faksi besar yang secara terbuka menentang kenaikan tahtanya. Di atas kertas, posisinya sangat kuat."

Ia memejamkan mata sesaat sebelum kembali membuka matanya.

"Tapi justru karena itulah keseimbangan mulai terganggu."

Angin malam berhembus pelan melewati pepohonan. Ren menundukkan pandangannya ke tanah sambil berpikir. Ia terlihat seperti sedang menyusun sebuah papan catur besar di dalam kepalanya. Dan setiap bidak yang ia tempatkan membuat Julia semakin penasaran sejauh mana pemuda itu memahami situasi politik Auroraven.

"Hubungan antara manusia, elf, dwarf, goliath, dan dragonborn mulai berubah. Aliansi yang dibangun setelah perang lima ratus tahun lalu perlahan kehilangan keseimbangannya. Terlebih sejak kekaisaran mulai melakukan ekspansi secara besar-besaran ke berbagai wilayah."

"Memang benar itu terjadi. Tapi apa hubungannya dengan Yang Mulia?"

Julia mengangguk kecil. Bagian itu bukanlah informasi baru baginya. Sebagai komandan Tim Sigma, ia memang menerima beberapa laporan mengenai meningkatnya ketegangan di berbagai wilayah perbatasan. Namun ia masih belum memahami apa hubungan semua itu dengan keselamatan Giana.

"Justru karena itu. Kaisar Leonardo mungkin punya ambisi yang besar. Tapi ambisi seperti itu juga bisa dimanfaatkan oleh pihak lain."

Tatapan Ren berubah sedikit lebih dingin.

"Dreadveil."

Nama itu langsung membuat suasana menjadi lebih berat. Bahkan hanya mendengarnya saja sudah cukup untuk membuat Julia memahami arah pembicaraan tersebut. Aliran sesat itu yang bergerak di balik bayangan itu selalu mencari cara untuk menciptakan kekacauan tanpa perlu turun tangan secara langsung.

"Mereka nggak perlu menyerang secara terbuka. Kalau mereka bisa memicu perang antar ras, semuanya akan berjalan sesuai keinginan mereka."

Tatapan Ren mengarah ke hutan yang masih tertutup kabut.

"Bayangkan kalau manusia mulai berperang dengan elf. Lalu dwarf, Dragonborn dan goliath ikut terlibat. Kekaisaran akan sibuk menghadapi konflik internal dan Dreadveil bisa bergerak sesuka hati tanpa ada yang mampu menghentikan mereka."

Julia terdiam. Semakin lama ia mendengarkan, semakin masuk akal penjelasan tersebut. Dan justru karena masuk akal, ia mulai merasa khawatir. Ren bukan tipe orang yang membuat teori tanpa dasar. Jika ia sampai memikirkan kemungkinan ini, berarti ada sesuatu yang sudah ia lihat lebih dulu sebagai pengalamanya sebagai Mercenary.

"Namun semuanya akan berbeda kalau ada seseorang yang mampu mengingatkan mereka. Seseorang yang bisa menjadi jembatan di antara seluruh ras."

Lihat selengkapnya