Maxith menyipitkan matanya sambil menatap Olivier dalam diam. Angin malam berhembus pelan melewati area perkemahan yang sunyi. Di kejauhan, sebagian besar peserta Academy masih tertidur lelap tanpa menyadari percakapan yang sedang berlangsung di antara dua kesatria itu. Namun bagi Maxith, apa yang terjadi malam ini terlalu penting untuk diabaikan begitu saja. Terlebih lagi setelah melihat sendiri bagaimana Giana mempercayai Olivier tanpa sedikit pun keraguan.
"Kenapa Yang Mulia terlihat sangat mempercayaimu?" Tanya Maxith sekali lagi.
Nada suaranya terdengar tenang, tetapi Olivier dapat dengan jelas merasakan tekanan di balik pertanyaan tersebut. Bukan karena permusuhan pribadi. Sebagai pengawal pribadi Putri Pertama Kekaisaran Oswald, Maxith hanya sedang menjalankan tugasnya. Setidaknya itulah yang terlihat di permukaan. Namun ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuat suasana menjadi jauh lebih berat daripada sekadar interogasi biasa.
Olivier tetap tenang. Ekspresinya tidak berubah sedikit sementara tatapan Maxith terus mengawasinya dengan tajam. Sebelum menjawab, ia sempat mengalihkan pandangannya ke arah tenda tempat Giana beristirahat. Cahaya redup dari lampu sihir masih terlihat dari balik kain tenda. Setelah memastikan tidak ada hal lain yang perlu diperhatikan, ia kembali menatap Maxith dengan tenang.
"Itu keputusan Yang Mulia untuk mempercayai saya. Dan sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang kesatria untuk melayani Yang Mulia Giana."
Jawab Olivier akhirnya.
Alis Maxith bergerak sedikit mendengar jawaban tersebut. Bukan karena isi jawabannya, melainkan karena ketegasan yang menyertainya. Tidak ada keraguan. Tidak ada usaha menghindari pertanyaan. Olivier benar-benar mengatakannya dengan keyakinan penuh. Seolah dirinya tidak merasa perlu menjelaskan ataupun membela diri lebih jauh.
"Yang Mulia memang meminta Anda ikut dalam ujian ini sebagai anggota sementara Royal Knights."
Ujar Maxith.
"Tapi jangan salah paham. Anda bukan bagian dari Royal Knights."
Tatapannya berubah lebih dingin.
"Saya berterima kasih atas kontribusi Anda selama dua hari terakhir. Namun situasinya sudah berubah sekarang."
Ia melangkah satu langkah mendekat.
"Jadi saya sarankan Anda kembali ke tim Anda sendiri."
Nada suaranya terdengar semakin tegas.
"Keselamatan Yang Mulia adalah tanggung jawab saya."
Olivier memperhatikan perubahan ekspresi tersebut dalam diam. Untuk pertama kalinya malam itu, ia mulai memahami sesuatu. Cara Maxith berbicara tidak terdengar seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan keselamatan sang putri. Justru terdengar seperti seseorang yang sedang menjaga wilayahnya dari campur tangan orang lain. Dan entah kenapa, hal itu membuat Olivier teringat kepada seseorang yang sangat dikenalnya yaitu Ren. Selama ini Ren selalu menerima tatapan seperti itu setiap hari. Tatapan yang meremehkan, mencurigai, dan menganggap keberadaannya tidak penting. Dulu Olivier mungkin tidak terlalu memikirkannya. Namun sekarang setelah merasakannya sendiri secara langsung, ada rasa tidak nyaman yang muncul dalam dadanya.
"Jadi ini yang selalu diterima oleh Ren. Bukankah keselamatan Yang Mulia seharusnya menjadi prioritas utama? Kenapa dia memandang saya seperti masalah yang seharusnya di singkirkan?"
Pikir Olivier dalam hati. Untuk sesaat, Olivier mulai mempertanyakan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Apakah seorang pengawal keluarga kekaisaran seharusnya bersikap seperti ini? Ataukah ada alasan lain di balik sikap Maxith yang begitu defensif terhadap siapa pun yang mendekati Giana?
"Terima kasih atas sarannya, Tuan Sternmark. Tapi saya rasa lebih baik kita menunggu keputusan Yang Mulia Giana sebelum saya kembali ke tim saya."
Ujar Olivier akhirnya.
Jawaban itu membuat tatapan Maxith semakin tajam.
"Hal itu tidak perlu menunggu keputusan Yang Mulia."
Balasnya dengan tegas.
"Ini adalah keputusan saya sebagai pemimpin Royal Knights."
Suasana di antara mereka langsung berubah lebih dingin.
"Anda sepertinya tidak mengerti, Galliard."
Tatapan Maxith tidak bergeser sedikit pun.
"Ini adalah perintah."
Keheningan sesaat menyelimuti area tersebut. Angin malam kembali berhembus pelan di antara mereka. Namun kali ini, tidak ada lagi kesan percakapan sopan di antara dua kesatria. Yang tersisa hanyalah ketegangan yang perlahan mulai muncul ke permukaan. Maxith memandang Olivier dari atas ke bawah sebelum kembali berbicara.
"Saya kira Anda akan seperti kakak Anda."