Giana yang ditemani oleh Olivier dan Maxith di kedua sisinya menghabiskan waktu sarapan pagi dalam suasana yang relatif tenang. Untuk pertama kalinya sejak serangan iblis dimulai, tidak ada laporan darurat, tidak ada suara ledakan sihir, dan tidak ada teriakan perintah yang terdengar dari sekitar perkemahan. Para peserta ujian yang masih berada di Pulau Zale perlahan mulai kembali ke rutinitas mereka, meskipun bayang-bayang kejadian dua hari yang lalu masih terlihat jelas di wajah banyak orang.
Meski tampak tenang di permukaan, pikiran Giana terus bekerja tanpa henti. Setiap langkah yang akan ia ambil hari ini sudah dipertimbangkan dengan matang sejak malam sebelumnya. Ia memahami bahwa waktu mereka tidak banyak. Semakin lama keberadaan Magic Circle dan Dreadveil disembunyikan, semakin besar pula kemungkinan pihak yang bertanggung jawab akan menghilangkan jejak mereka. Karena itulah, begitu sarapan selesai, Giana meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja. Tatapannya kemudian beralih kepada Maxith yang masih berdiri tidak jauh dari tempat duduknya. Ekspresinya tenang dan anggun khas sang putri kekaisaran.
"Tuan Sternmark. Saya ingin menemui Kepala Academy."
Maxith langsung memberikan perhatiannya penuh.
"Tentu, Yang Mulia." Jawabnya tanpa ragu.
Namun sebelum ia sempat melanjutkan, Giana kembali berbicara dengan nada yang sama tenangnya.
"Bisa tolong antarkan saya ke tenda beliau."
Ia berhenti sejenak.
"Dan Tuan Galliard juga akan ikut bersama kita."
Untuk pertama kalinya pagi itu, ekspresi Maxith berubah sedikit. Hanya sesaat. Namun cukup bagi Giana untuk menyadarinya. Kesatria itu terlihat sedikit terkejut mendengar permintaan tersebut. Sejak semalam, ia sudah memperhatikan bagaimana sang putri beberapa kali melibatkan Olivier dalam urusan yang sebenarnya tidak memerlukan kehadiran orang luar dari royal knight. Jika hanya sekadar menemui Kepala Academy, seharusnya dirinya sebagai pengawal pribadi sudah lebih dari cukup. Meski begitu, Maxith tetap menjaga ekspresinya tetap profesional.
"Baik, Yang Mulia. Galliard dapat ikut bersama kita."
Jawabnya akhirnya.
Di sisi lain, Olivier hanya mengangguk tenang. Ia tidak mempertanyakan alasan di balik keputusan tersebut. Jika sang putri memintanya ikut, maka dirinya akan menjalankan tugas yang diberikan sebaik mungkin. Sementara itu, Maxith mulai berjalan memimpin arah menuju pusat perkemahan. Namun jauh di dalam pikirannya, perasaan tidak nyaman yang sejak tadi malam sesuatu yang terus mengganggunya kembali muncul.
Begitu laporan diberikan kepada Academy, Putri Pertama Kekaisaran Oswald seharusnya segera kembali ke tempat yang aman. Jauh dari ancaman iblis dan jauh dari berbagai masalah yang terus bermunculan di sini. Itulah rencana yang menurutnya paling masuk akal. Namun semakin lama, semakin terasa bahwa Giana memiliki rencana lain. Dan entah kenapa, hampir setiap rencana itu selalu melibatkan Olivier. Pemikiran tersebut membuat Maxith sedikit mengernyit selama perjalanan mereka. Meski langkahnya tetap tenang, pikirannya mulai mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang tidak ia sukai.
Sementara itu, Giana berjalan dengan anggun di belakangnya tanpa menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. Namun jauh di dalam hatinya, senyum kecil perlahan mulai muncul. Karena sebentar lagi, bagian terpenting dari rencana yang telah ia susun bersama Ren akan dimulai. Dan ketika itu terjadi, tidak akan ada lagi cara bagi Academy untuk mengabaikan apa yang sebenarnya sedang terjadi di Pulau Zale.
Mereka bertiga akhirnya tiba di area pusat perkemahan tempat para instruktur Academy mendirikan markas sementara mereka. Dibandingkan tenda-tenda peserta ujian, tenda utama ini terlihat jauh lebih besar dan dijaga oleh beberapa staf Academy yang bertugas mengatur seluruh operasi penyelamatan sejak semalam. Kesibukan masih terlihat di sekelilingnya. Beberapa instruktur keluar masuk membawa laporan, sementara para healer sesekali menyampaikan kondisi para korban yang masih dirawat.
Setelah mendapat izin masuk, Giana, Olivier, dan Maxith melangkah ke dalam tenda tersebut. Di bagian tengah ruangan, seorang pria paruh baya dengan rambut emasnya terlihat sedang memeriksa setumpuk dokumen di atas meja kerjanya. Peta Pulau Zale, laporan korban, serta berbagai catatan darurat memenuhi hampir seluruh permukaan meja. Namun begitu menyadari siapa yang baru saja memasuki ruangan, pria itu segera berdiri dari kursinya.
"Selamat pagi Yang mulia. Saya bersyukur melihat Anda baik-baik saja setelah mendengar laporan bahwa Anda sempat menghilang dari perkemahan semalam."
Ujar George Aksam sambil membungkukkan badan dengan hormat. Ekspresinya terlihat sedikit lega melihat kehadiran dari Giana. Giana membalas hormat tersebut dengan senyum hangat yang anggun. Tidak ada sedikit pun tanda gugup ataupun keraguan di wajahnya. Seolah dirinya hanya datang untuk menyampaikan laporan biasa seperti yang sering dilakukan anggota keluarga kekaisaran dalam urusan administratif.
"Saya baik-baik saja, mohon maaf telah membuat Anda khawatir, Kepala Academy." Jawab Giana dengan tenang.
Kemudian sorot matanya berubah sedikit lebih serius.
"Namun saya datang ke sini karena memiliki laporan penting yang harus segera Anda dengarkan."
Kalimat itu langsung membuat George mengernyit tipis. Sebagai Kepala Academy, dirinya sudah terbiasa menerima berbagai laporan darurat. Namun ada sesuatu dalam cara bicara Giana yang membuatnya langsung memahami bahwa pembahasan ini tidak akan sederhana. Di sisi lain ruangan, Maxith perlahan mulai merasakan firasat buruk yang sejak tadi mengganggunya. Awalnya ia mengira sang putri hanya ingin meminta izin untuk kembali ke kediamannya di Academy. Namun sekarang, semakin jelas bahwa tujuan kedatangan mereka jauh lebih besar dari itu.
Cara Giana berbicara, kehadiran Olivier di ruangan ini, dan ketenangan yang terlalu sempurna dari sang putri membuat seluruh instingnya sebagai seorang kesatria mulai bereaksi. Ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Giana dan dirinya tidak menyukainya. Sementara itu George sendiri kembali duduk di kursinya sambil mempersilakan ketiga tamunya mengambil tempat di depan meja kerjanya.
"Tentu saja, Yang Mulia. Silakan. Saya akan mendengarkan laporan Anda." Ujar George.
Giana mengangguk pelan sebelum duduk di kursi yang disediakan. Olivier mengambil tempat di sampingnya, sementara Maxith tetap berdiri di belakang selayaknya seorang pengawal yang menjalankan tugasnya. Namun matanya tidak pernah lepas dari sang putri sedetik pun. Lalu, tanpa membuang waktu lebih lama, Giana menatap langsung ke arah George Aksam dengan serius.
"Apa yang akan saya sampaikan berikut ini menyangkut situasi saat ini di hutan utara Pulau Zale."
Keheningan langsung memenuhi tenda. Dan untuk pertama kalinya pagi itu, firasat buruk Maxith berubah menjadi keyakinan.
"Saya memang hanya seorang siswa di Academy ini."
Ujar Giana dengan tenang sambil menatap George secara langsung. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam sorot matanya saat ia berbicara. Sikapnya tetap anggun sebagai sang putri kekaisaran, namun ada ketegasan yang tidak bisa disembunyikan dari nada suaranya. Bahkan Olivier yang duduk di sampingnya dapat merasakan bahwa Giana telah mempersiapkan percakapan ini sejak lama.
"Peraturan Academy dengan jelas mengatakan bahwa bangsawan ataupun rakyat biasa adalah siswa yang setara selama berada di sini. Kita semua adalah penerus dan masa depan Kekaisaran Oswald. Namun sebagai Putri Pertama Kekaisaran, saya tidak bisa membiarkan rakyat saya sendiri menderita sementara saya menutup mata terhadap apa yang terjadi di pulau ini."
George mengernyitkan alisnya mendengar pernyataan tersebut. Nada bicara Giana jauh lebih serius daripada yang ia perkirakan sebelumnya. Awalnya ia mengira sang putri hanya datang untuk melaporkan hasil eksplorasi atau kejadian semalam. Namun kini ia mulai memahami bahwa pembahasan yang akan mereka lakukan jauh lebih besar dari sekadar laporan biasa. Sementara itu, Maxith yang berdiri di belakang perlahan mulai merasakan tidak menyukai arah pemicaraan ini. Cara Giana membuka percakapan ini terasa terlalu terarah. Terlalu terencana. Dan semakin lama ia mendengarkan, semakin kuat pula perasaan bahwa dirinya sedang kehilangan kendali atas situasi yang seharusnya berada dalam pengawasannya.
Giana tidak memberi kesempatan kepada siapa pun untuk menyela. Tatapannya tetap tertuju pada George sebelum akhirnya melanjutkan kalimat berikutnya.
"Kemunculan para iblis di Hutan Utara Pulau Zale bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami. Ada pihak yang berada di balik semua ini. Kepala Academy, apakah Anda pernah mendengar nama Dreadveil?"
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, ekspresi George berubah. Jemarinya yang berada di atas meja perlahan bergerak sebelum akhirnya menyentuh dagunya. Nama itu jelas tidak asing baginya, meskipun sudah lama tidak terdengar di wilayah kekaisaran.
"Dreadveil..."
Gumamnya pelan.
"Aliran sesat yang menyembah iblis?" tanya George.
Giana menganggukkan kepalanya tanpa ragu sebagai konfirmasi.
"Benar. Mereka telah bergerak. Saya tidak mengetahui tujuan mereka secara pasti, tetapi saya yakin mereka sedang mengincar sesuatu di Pulau Zale. Dan yang lebih penting, hanya kelompok seperti mereka yang mampu mengendalikan iblis tingkat rendah dalam jumlah besar seperti Hellhound, Imp, dan Spike Devil."
Keheningan langsung memenuhi tenda setelah kalimat itu selesai diucapkan. Bahkan beberapa instruktur yang berada di luar tenda terdengar samar menghentikan percakapan mereka saat suasana di dalam menjadi begitu serius. Nama Dreadveil bukanlah sesuatu yang bisa dianggap ringan oleh siapa pun yang memahami sejarah Auroraven. Giana kemudian mulai menjelaskan seluruh informasi yang ia miliki. Ia menceritakan pola kemunculan para iblis yang tidak wajar, hingga dugaan keberadaan kelompok Dreadveil di sekitar wilayah Pulau Zale. Setiap informasi disampaikan dengan tenang dan sistematis, seolah dirinya sedang memberikan laporan resmi kepada Dewan Kekaisaran.
Sebagian besar informasi tersebut sebenarnya berasal dari Ren. Dari cerita yang pernah ia dengar mengenai masa lalunya, dari berbagai pengamatannya selama menjadi mercenary yang pernah berhadapan dengan Dreadveil, hingga hasil diskusi yang mereka lakukan semalam. Meski begitu, Giana sama sekali tidak menyebut nama Ren dalam laporannya. Bukan karena ingin mengambil pujian, melainkan karena ia memahami kenyataan yang ada.
Jika laporan ini datang dari Ren Flarehart, kemungkinan besar banyak orang akan langsung meragukannya. Namun jika informasi yang sama disampaikan oleh Putri Pertama Kekaisaran Oswald, maka semua orang akan dipaksa untuk mendengarkannya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Olivier yang duduk di sampingnya perlahan mulai memahami keseluruhan rencana tersebut. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa tujuan Ren sejak awal bukanlah mencari pengakuan ataupun membersihkan namanya sendiri. Yang lebih penting bagi pemuda itu adalah memastikan informasi ini sampai kepada pihak yang dapat bertindak sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Semakin lama penjelasan itu berlangsung, semakin dalam pula kerutan yang muncul di wajah George. Beberapa bagian dari laporan tersebut ternyata cocok dengan berbagai anomali yang selama ini ditemukan oleh pihak Academy. Laporan hilangnya beberapa orang di beberapa kota di kekaisaran, perubahan tingkah monster di beberapa wilayah, dan sejumlah kejadian aneh yang sebelumnya dianggap tidak saling berkaitan.