Setelah mendengarkan seluruh laporan dari Giana, George Aksam terdiam cukup lama sambil menautkan kedua tangannya di atas meja. Tatapannya berpindah dari sang putri menuju Olivier, lalu ke arah peta Kepulauan Zale yang terbentang di hadapannya. Situasi yang mereka hadapi jauh lebih serius daripada yang ia perkirakan sebelumnya. Jika laporan mengenai Dreadveil dan Magic Circle itu benar, maka ancaman yang tersembunyi di Pulau Zale bukan lagi sekadar serangan iblis biasa.
Namun di sisi lain, melibatkan Putri Pertama Kekaisaran Oswald secara langsung juga merupakan risiko yang sangat besar. Giana memahami keraguan tersebut. Karena itulah ia tetap berdiri tegak tanpa mengalihkan pandangannya dari George. Tidak ada sedikit pun keraguan yang terlihat di wajahnya. Ia sudah memikirkan konsekuensi dari keputusan ini sejak semalam. Dan ia tidak berniat mundur sekarang.
"Saya memahami kekhawatiran Anda, Kepala Academy."
Ujarnya tenang.
"Tapi saat ini hanya saya yang mengetahui lokasi mereka."
George menghela napas panjang. Ia tidak menyukai keputusan yang akan diambilnya. Namun terkadang seorang pemimpin harus memilih pilihan yang paling masuk akal, bukan yang paling nyaman. Dan dalam situasi seperti ini, mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mencari alternatif lain. Pada akhirnya, George mengangkat kepalanya.
"Sternmark." Panggilnya dengan datar.
Maxith langsung menegakkan tubuhnya.
"Berhubung Anda sudah menyiapkan kuda. Segera kembali ke Academy dan kirimkan laporan resmi kepada pihak Kekaisaran. Saya ingin bantuan tambahan dikirim ke Pulau Zale secepat mungkin. Sebagai Royal Knight, saya yakin Anda cukup kompeten untuk menjalankan tugas tersebut." Tatapan George tetap tenang saat mengucapkan kalimat tersebut.
Untuk sesaat, Maxith membeku. Ia tidak menyangka perintah itu akan diberikan kepadanya. Alisnya langsung berkerut dan rahangnya sedikit mengeras. Setelah semua yang terjadi, justru dirinya yang diperintahkan meninggalkan hutan utara Pulau Zale. Hal itu jauh dari apa yang ia harapkan.
"Mohon maaf, Kepala Academy." Ujarnya dengan nada tertahan.
"Tapi saya adalah pengawal pribadi Yang Mulia. Saya tidak bisa meninggalkan—"
"Saya yang menjamin keselamatannya."
George memotongnya tanpa memberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimat. Suasana di dalam tenda langsung membeku. Tatapan tajam Kepala Academy itu tertuju lurus kepada Maxith tanpa sedikit pun bergeser. Bahkan Olivier yang berdiri di dekat pintu bisa merasakan tekanan yang muncul dari pria tua tersebut.
"Anda meragukan saya?"
Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Justru karena itulah tekanan yang muncul terasa jauh lebih berat. Sebagai Kepala Academy Legion, George tidak perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain memahami posisinya. Satu kalimat sederhana sudah cukup untuk mengingatkan siapa pun mengenai otoritas yang ia miliki. Maxith langsung terdiam. Ia tahu betul siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. George Aksam bukan hanya Kepala Academy Legion. Pria itu adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di Kekaisaran Oswald dan merupakan veteran kesatria dari pihak kekaisaran dan merupakan mantan dari royal paladin sebelum dirinya memutuskan untuk pensiun. Bahkan banyak bangsawan tingkat tinggi memilih berhati-hati saat berbicara dengannya.
Dan saat ini, George jelas tidak sedang meminta pendapatnya namun memerintahkannya dengan tegas. Maxith mengepalkan tangannya di balik sarung tangannya. Perasaan terhina perlahan muncul di dalam dadanya. Namun ia tidak memiliki banyak pilihan. Jika terus menentang George di wilayah Academy, situasinya justru bisa berbalik menjadi jauh lebih buruk. Sebelum Kaisar Leonardo sempat mengetahui kegagalannya, George memiliki cukup wewenang untuk mencopotnya dari seluruh operasi di Pulau Zale atau bahkan mengeluarkannya dari Academy. Dan jika hal itu terjadi, maka kariernya sebagai Royal Knight akan berakhir saat itu juga. Lebih buruk lagi, kegagalan dalam menjalankan tugas yang diberikan langsung oleh keluarga kekaisaran bukanlah sesuatu yang bisa ditoleransi begitu saja.
Maxith mengetahui dengan sangat jelas bagaimana cara Kekaisaran memperlakukan orang-orang yang dianggap tidak kompeten sejak kepemimpinan Leonardo. Terutama mereka yang membuat keluarga kekaisaran kehilangan muka. Dengan susah payah, ia menelan seluruh ketidakpuasan yang memenuhi pikirannya. Tidak peduli seberapa besar keinginannya untuk tetap berada di sisi Giana, ia tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menentang Kepala Academy secara terbuka. Pada akhirnya, ia hanya bisa menerima kenyataan tersebut.
"Saya mengerti, Kepala Academy." Jawabnya dengan nada kaku.
George mengangguk kecil.
"Bagus."
Sementara itu, di sampingnya, Giana menatap pemandangan tersebut dalam diam. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Pulau Zale, salah satu rantai yang selama ini membatasi gerakannya akhirnya mulai terlepas. Ia tidak menunjukkannya di wajah. Namun jauh di dalam hatinya, ia mengetahui satu hal dengan pasti. Langkah pertama dalam rencananya bersama Ren akhirnya berhasil. Dan mulai hari ini, tidak ada lagi orang yang bisa dengan mudah memaksanya meninggalkan Pulau Zale. Setidaknya sampai urusan Dreadveil dan Magic Circle itu benar-benar selesai. Sementara itu, Olivier yang berdiri di dekat pintu tenda perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Giana. Ia mulai memahami bahwa putri yang selama ini terlihat lembut dan anggun itu jauh lebih keras kepala daripada yang terlihat.
"Olivier Galliard."
George mengalihkan tatapannya ke arah kesatria muda yang berdiri di dekat pintu tenda.
"Saya minta Anda segera memberitahukan kepada seluruh instruktur dan para siswa yang masih mampu bertarung untuk bersiap. Kita tidak punya banyak waktu."
Nada suaranya tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk penolakan. Olivier langsung menegakkan tubuhnya. Setelah mendengar seluruh laporan mengenai Dreadveil dan Magic Circle, ia juga memahami bahwa situasi di Pulau Zale sudah jauh melampaui ujian lapangan biasa. Apa yang akan mereka hadapi selanjutnya kemungkinan besar adalah operasi militer sungguhan. Karena itu, ia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun saat menerima perintah tersebut.
"Baik, Kepala Academy." Jawabnya sambil membungkukkan badan dengan hormat.
George mengangguk kecil sebelum kembali berbicara.
"Sementara itu, saya masih memiliki beberapa hal yang perlu saya diskusikan dengan Yang Mulia." Ujarnya datar.
"Kalian berdua bisa segera menjalankan tugas masing-masing."