Refulgence of The White Wings Act III

Dimas Nugraha
Chapter #6

Chapter 5 : Langkah Menuju Lingkaran Kematian

Kabut pagi masih menggantung di antara pepohonan Hutan Utara Pulau Zale ketika Ren dan tim daruratnya mulai bergerak meninggalkan perkemahan. Setelah selesai berkemas dan memastikan seluruh perlengkapan telah siap, mereka segera menuju pusat tempat Magic Circle berada. Udara terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya Ren berjalan paling depan dengan Julia berada di sisinya. Beberapa langkah di belakang mereka, Rose berjalan bersama Altheya dan Damian yang terlihat jauh lebih santai dibandingkan yang lainnya. Namun sejak mereka meninggalkan perkemahan, Altheya tidak henti-hentinya memperhatikan punggung Ren. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu pagi ini, sesuatu yang bahkan sulit ia jelaskan dengan kata-kata.

"Ini cuma gue doang atau emang auranya berubah?"

Tanya Rose dengan bingung sambil memperhatikan punggung Ren yang terlihat lebih tegar dari biasanya. Tatapannya kemudian beralih kepada Altheya, seolah berharap gadis elf itu memiliki jawaban. Altheya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Iya... saya juga baru pertama kali melihat ini."

Jawab Altheya dengan suara pelan. Tatapannya kembali tertuju kepada Ren yang terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Berbeda dari Ren yang biasanya terlihat acuh tak acuh dan tidak peduli dengan sekelilingnya, sosok yang berjalan di depan mereka pagi ini terasa jauh lebih tenang dan serius. Damian yang mendengar percakapan tersebut hanya mendengus pelan. Senyum tipis muncul di wajahnya seolah dirinya sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan mereka sejak awal. Kedua tangannya tetap berada di belakang kepala saat ia berjalan santai mengikuti rombongan.

"Dia bukan Ren yang kalian kenal."

Damian berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan senyum yang semakin menyebalkan.

"Itu Phantom Knight."

Rose dan Altheya langsung menoleh kepadanya secara bersamaan. Keduanya menatap Damian dengan ekspresi bingung yang perlahan bercampur dengan rasa kesal. Namun Damian hanya terkekeh kecil tanpa memedulikan tatapan mereka. Sementara itu, Ren tetap berjalan di depan tanpa mengetahui percakapan tersebut. Setelah berjalan beberapa langkah, Ren tiba-tiba mengangkat tangannya sebagai tanda untuk berhenti. Seluruh anggota tim langsung menghentikan langkah mereka, kecuali Damian yang masih berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Ia baru berhenti ketika sudah berdiri tepat di samping Ren, kemudian melirik ke arah kaptennya dengan ekspresi tenang.

"Posisi?"

Tanya Damian singkat. Ren tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju ke arah pepohonan di depan mereka, sementara tangannya perlahan bergerak menunjuk ke suatu titik di antara kabut. Instingnya menangkap keberadaan sesuatu yang bersembunyi di balik pepohonan.

"Arah jam dua. Jumlahnya tiga ekor."

Jawab Ren dengan suara rendah. Damian hanya mengangguk kecil tanpa bertanya lebih jauh. Tanpa basa-basi, kedua pemuda itu langsung melesat meninggalkan posisi mereka. Gerakan mereka begitu cepat hingga Julia yang berdiri tidak jauh dari sana sempat terkejut. Sang komandan segera mengejar mereka, sementara Rose dan Altheya hanya bisa memperhatikan dari belakang sebelum akhirnya ikut bergerak. Ketika Julia tiba di lokasi, semuanya sudah berakhir. Tiga ekor Hellhound tergeletak di antara pepohonan tanpa sempat memberikan perlawanan. Ren berdiri dengan tenang di samping mereka, sementara Damian menarik kembali senjatanya setelah melakukan serangan terakhir.

Ketiga Hellhound itu bahkan tidak sempat menyadari keberadaan mereka. Serangan mendadak yang dilakukan Ren dan Damian begitu cepat dan terkoordinasi hingga ketiganya langsung tumbang dalam beberapa tebasan yang presisi.

Julia terdiam sesaat.

"Jadi ini koordinasi dari Thistle?"

Gumamnya pelan.

Ren hanya menoleh sekilas kepada Julia sebelum kembali memandang ke arah hutan yang lebih dalam. Tidak ada ekspresi puas ataupun rasa bangga di wajahnya. Seolah tiga Hellhound yang baru saja mereka kalahkan bukanlah sesuatu yang pantas untuk diperhatikan.

"Kita lanjut."

Ujar Ren singkat. Tatapannya kembali tertuju pada jalan di depan mereka. Entah kenapa tubuhnya terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Padahal sehari sebelumnya ia hampir kehilangan nyawa setelah menerima serangan Balgura yang nyaris membunuhnya. Namun anehnya, tubuhnya pulih dalam waktu yang jauh lebih cepat dari perkiraannya.

Bukan hanya itu, Ren juga mulai merasakan sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Indra perasanya terhadap energi Necrotic menjadi jauh lebih sensitif. Bahkan dari jarak tertentu, ia bisa merasakan keberadaan energi iblis yang tersembunyi di balik pepohonan. Kemampuan itu tidak pernah ia miliki sebelumnya, dan semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan muncul di kepalanya.

"Sesuatu yang aneh terjadi."

Pikir Ren sambil terus berjalan.

"Tapi gue nggak bisa memikirkan itu sekarang. Waktu kita terbatas."

Ia mengabaikan seluruh pertanyaan tersebut dan kembali memusatkan perhatiannya pada perjalanan. Mereka masih harus menemukan Magic Circle sebelum Dreadveil menyadari keberadaan mereka. Jika mereka terlambat, seluruh rencana yang sudah disusun bersama Giana bisa berantakan. Timnya kembali bergerak menembus hutan. Ren dan Damian berjalan paling depan, sementara Julia mengikuti beberapa langkah di belakang mereka. Rose berjalan bersama Altheya sambil membawa senapannya, tetapi ekspresi wajahnya perlahan berubah menjadi semakin kesal. Sejak mereka meninggalkan camp, hampir semua musuh yang muncul sudah lebih dahulu ditangani oleh dua orang di depan mereka.

"Ini cuma gue doang, atau emang kalian berdua sebenarnya nggak butuh kita, sih?"

Keluh Rose sambil mempercepat langkahnya.

"Seriusan, dari kemarin gue hampir nggak ngapa-ngapain. Baru ngangkat senapan, udah beres duluan sama dua orang idiot ini."

Damian yang mendengar keluhan tersebut langsung menoleh sambil tersenyum jahil. Ren hanya melirik sekilas tanpa menghentikan langkahnya.

"Kalau begitu, simpan peluru lu. Harusnya bagus dong lu ngga perlu kerja, artinya garis depan lu ngga tembus."

Ujar Damian dengan santai.

‘Iya gue tau, tapi denger dari mulu lu yang anak bermasalah buat gue kesel."

Dengus Rose dengan kesal kepada Damian yang mulai terkekeh dengan santai.

Sementara itu, Ren yang tadi diam mulai membuka suaranya, karena entah kenapa, sejak beberapa menit terakhir, ia bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih besar. Energi Necrotic yang pekat mulai terasa dari arah depan. Dan kali ini jumlahnya jauh lebih banyak.

“Komandan, bentuk formasi.” Ujar Ren singkat.

Julia langsung memahami maksudnya dan segera mengambil posisi di garis belakang bersama Rose dan Altheya. Sementara itu, Damian berdiri di samping Ren dengan senyum santainya, kedua tangannya sudah siap menggenggam senjatanya. Ren memandang ke depan dengan tatapan tajam ketika suara geraman mulai terdengar dari balik pepohonan. Jumlahnya terlalu banyak untuk sekadar dianggap sebagai patroli biasa.

“Kawanan?” Tanya Damian.

“Kayaknya patroli. Tapi bukan cuma Hellhound.”

“Masih pagi udah rame aja.” Balas Damian santai.

Ren menghela napas pendek sebelum memejamkan matanya. Bayangan hitam perlahan muncul di samping tubuhnya, membentuk sosok Echo yang berdiri tanpa suara. Dalam beberapa detik, suara ranting patah mulai terdengar dari segala arah. Satu geraman berubah menjadi puluhan, kemudian suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat seluruh anggota tim bersiap. Ren membuka matanya tepat ketika gerombolan iblis menerobos pepohonan.

Belasan Hellhound langsung menerjang dari depan dengan taring terbuka. Ren melesat lebih dahulu bersama Echo-nya, pedangnya menebas satu Hellhound yang melompat ke arahnya sebelum tubuhnya berputar menghindari serangan kedua. Echo di sampingnya melakukan gerakan yang sama, menahan dua iblis lainnya agar tidak melewati garis depan. Damian menyusul dari sisi kanan dan menghantam seekor Hellhound hingga terlempar ke belakang. Namun sebelum mereka sempat mengambil napas, tujuh Imp turun dari atas pepohonan dan menyerbu dari udara.

“Di atas!” Teriak Rose.

Dor!

Lihat selengkapnya