Refulgence of The White Wings Act III

Dimas Nugraha
Chapter #7

Chapter 6: Benteng Kematian Dreadveil

Sementara itu, di tengah situasi yang semakin memanas di Hutan Utara, seorang paladin tengah memacu kudanya dengan tergesa-gesa menuju Academy. Derap kaki kuda menggema di sepanjang jalan, sementara Maxith Sternmark menatap lurus ke depan dengan sorot mata tajam. Kedua tangannya mencengkeram tali kekang erat-erat, menahan amarah yang sejak tadi bergejolak di dalam dadanya.

Baginya, kejadian sebelumnya bukan sekadar teguran dari seorang kepala Academy. George Aksam telah menolak campur tangannya di hadapan Giana, mengabaikan kedudukannya sebagai pengawal pribadi sang putri, lalu memerintahkannya meninggalkan Hutan Utara untuk kembali ke Academy dan mengurus laporan resmi. Lebih buruk lagi, George justru mempercayakan keselamatan Giana kepada Olivier, seorang siswa yang menurut Maxith tidak memiliki kedudukan maupun pengalaman yang sebanding dengan tanggung jawab Royal knights yang merupakan pengawal langsung Giana.

Di mata Maxith, keputusan itu merupakan penghinaan terhadap harga diri dan kehormatannya sebagai seorang Royal knight. Ia terbiasa menjalankan tugas atas nama keluarga Sternmarkdan Kekaisaran, tetapi kali ini ia diperlakukan seolah-olah keberadaannya justru menjadi penghalang. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa seseorang telah mengambil alih tanggung jawabnya, terlebih ketika hal itu terjadi di hadapan sang putri yang seharusnya ia lindungi. Namun, di balik kemarahannya, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya. Ren Falrehart. Ia semakin yakin bahwa mantan kapten mercenary itu berada di balik perubahan sikap Giana, dan selama Ren masih berada di Academy, kedudukannya sendiri mungkin tidak akan pernah benar-benar aman.

“Tunggu saja, Galliard! Suatu hari nanti, aku akan membuatmu membayar penghinaan ini! Jangan berpikir bahwa kau bisa bertindak sesukamu hanya karena George Aksam kebetulan memihakmu!”

Maxith mencengkeram tali kekang kudanya semakin erat. Bayangan wajah Olivier yang tetap tenang ketika dirinya dipermalukan di hadapan Giana kembali melintas dalam pikirannya, membuat amarahnya semakin menjadi-jadi.

“Kau pikir siapa dirimu sebenarnya? Hanya putra kedua keluarga Galliard yang bahkan tidak mampu menandingi bayangan kakakmu sendiri! Gilbert Galliard setidaknya tahu bagaimana membawa nama keluarganya dengan pantas. Sementara kau? Kau justru membuang kehormatan keluargamu dengan bergaul bersama sekumpulan pecundang dari Team Sigma!”

Ia mendengus penuh penghinaan, seolah-olah nama Olivier saja sudah cukup untuk merusak suasana hatinya.

“Jangan berani menyamakan dirimu denganku, Galliard. Kau bahkan tidak pantas berdiri di posisi seorang kesatria kekaisaran, apalagi menggantikan tugasku untuk melindungi Yang Mulia Giana!”

Bagi Maxith, tindakan Olivier bukanlah keberanian, melainkan kebodohan seorang bangsawan muda yang tidak memahami tempatnya sendiri. Ia tidak bisa menerima bahwa George justru mempercayakan keselamatan sang putri kepada seseorang yang dianggapnya tidak memiliki ketegasan maupun ambisi yang layak bagi seorang kesatria Kekaisaran.

“Dan kau juga, Flarehart!”

Tatapan Maxith semakin dingin ketika nama Ren terlintas dalam pikirannya.

“Bajingan tengik, rakyat jelata kotor yang berani mencampuri kehidupan Yang Mulia Giana! Aku tidak tahu tipu daya apa yang kau gunakan untuk memanipulasi Yang Mulia Giana sampai mendapatkan kepercayaannya, tetapi jangan berharap kau bisa menyentuh putri pertama!”

Maxith menarik tali kekang, memacu kudanya semakin kencang menuju Academy.

“Tunggu sampai Yang Mulia Kaisar mendengar laporan ini. Aku akan memastikan bahwa tindakan kalian berdua mendapat balasan yang setimpal. Saat itu tiba, kita lihat apakah George Aksam masih bisa melindungi kalian!”

Namun, saat pikirannya masih disibukkan oleh berbagai rencana untuk membalas penghinaan yang baru saja diterimanya, sebuah serangan sihir tiba-tiba melesat dari kejauhan. Maxith sontak tersadar ketika merasakan ancaman yang mengarah tepat ke tubuhnya. Ia segera menarik tali kekang dan berusaha memaksa kudanya berbelok, tetapi hewan itu telanjur panik. Kudanya meringkik keras, mengangkat kedua kaki depannya, lalu bergerak liar tanpa memedulikan perintah sang penunggang. Dalam sepersekian detik, Maxith kehilangan kesempatan untuk menghindar.

BOOM!

Bola api itu meledak tepat di hadapannya, melontarkan gelombang panas yang menyapu jalanan dan mengguncang pepohonan di sekitarnya. Suara ledakannya menggelegar, memecah kesunyian hutan dan membuat tanah di bawah kaki kuda bergetar. Maxith terlempar dari pelana akibat hantaman gelombang kejut, tubuhnya menghantam tanah sebelum berguling beberapa kali di antara debu dan serpihan yang beterbangan. Telinganya berdenging hebat, sementara pandangannya seketika kabur oleh asap tebal yang memenuhi udara. Ia mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terasa berat dan napasnya tersengal akibat benturan yang baru saja diterimanya.

Di tengah kobaran api yang perlahan mereda, terdengar ringkikan panik dari kudanya. Maxith menoleh dengan susah payah, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Jubahnya hangus di beberapa bagian, dan zirahnya masih terasa panas akibat semburan api. Di tengah asap tebal yang masih mengepul dari lokasi ledakan, sebuah siluet kecil perlahan muncul dari balik tirai kelabu. Sosok itu tidak berusaha menyembunyikan kehadirannya, juga tidak menunjukkan tanda-tanda terburu-buru.

Dengan tudung hitam pekat yang menutupi kepala dan sebagian wajahnya, ia melangkah melewati sisa kobaran api seolah-olah pemandangan di sekitarnya sama sekali tidak menarik perhatiannya. Tubuhnya yang hanya setinggi sekitar 152 sentimeter tampak begitu kecil di antara pepohonan, tetapi ada sesuatu dari cara ia berjalan yang membuat kehadirannya terasa ganjil. Satu langkah. Kemudian satu langkah lagi.

Seiring sosok itu mendekat, udara di sekitar Maxith perlahan berubah. Hawa dingin yang menusuk kulit merayap di sepanjang tanah, sementara aura Necrotic yang terpancar dari tubuh sang Wizard mulai menekan sekelilingnya. Pepohonan seakan kehilangan gemerisik daunnya, dan suasana hutan yang semula dipenuhi suara alam berubah menjadi kesunyian yang menyesakkan. Sosok bertudung itu terus berjalan dengan santai, kedua tangannya tersembunyi di balik jubah, seolah-olah ia hanya sedang menikmati perjalanan sore yang tenang.

Di hadapan Maxith yang masih terkapar, sosok itu menghentikan langkahnya. Ia memiringkan kepala sedikit, mengamati sang Paladin dari balik kegelapan tudungnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada kebencian yang terlihat dari sikapnya, apalagi kemarahan. Ia justru tampak begitu acuh tak acuh, seolah-olah Maxith hanyalah seseorang yang kebetulan menghalangi jalannya. Sesaat kemudian, sang Wizard mengangkat kedua tangannya dan perlahan menurunkan tudung hitam yang menutupi kepalanya, memperlihatkan identitas yang sejak tadi tersembunyi dalam bayang-bayang.

Di balik tudung tersebut, tampak sebuah topeng hitam berbentuk kepala elang dengan permukaan putih dan corak garis merah yang menghiasi bagian-bagiannya. Desainnya memberikan kesan tajam dan mengintimidasi, seolah-olah sosok itu tengah mengenakan wajah seekor pemangsa yang siap menerkam mangsanya. Rambut hijau gelap menjuntai dari balik topeng, kontras dengan warna hitam jubah yang membungkus tubuhnya. Sementara itu, dari celah pada topeng tersebut, sepasang mata merah gelap menatap Maxith dengan dingin, menyerupai warna darah yang mengering dalam kegelapan.

Sang Wizard tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di hadapan Maxith, membiarkan aura Necrotic yang menyelimutinya berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Akademi, Maxith tidak lagi memikirkan penghinaan yang diterimanya ataupun rencana untuk membalas dendam. Seluruh perhatiannya kini tertuju pada sosok bertopeng elang itu, yang kemunculannya membawa firasat buruk yang sulit diabaikan.

Dengan susah payah, Maxith bangkit dari tanah sembari menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Pandangannya tertuju pada sosok bertopeng elang yang berdiri tenang di hadapannya. Sebelum Maxith sempat mengambil sikap bertahan, sang Wizard mulai merapalkan mantra dengan suara rendah. Aliran energi magis berkumpul di sekelilingnya, diikuti oleh aura Necrotic yang semakin menekan udara di antara mereka.

Maxith segera menyadari bahwa dirinya sedang menjadi sasaran sihir yang memengaruhi pikiran. Sebagai seorang Paladin, ia memiliki ketahanan mental yang telah ditempa melalui latihan dan kekuatan keyakinannya. Ia pun mengerahkan konsentrasinya, membangun pertahanan batin untuk menghalau pengaruh asing yang mencoba menyusup ke dalam kesadarannya. Namun, saat mantra itu mencapai puncaknya, sebuah tekanan luar biasa mendadak menghantam pikirannya.

Lihat selengkapnya