Sementara itu, di sisi lain Hutan Utara, Ren dan Altheya tengah menghadapi gerombolan iblis yang mengepung mereka. Ren mengerahkan Echo-nya untuk menebas para Imp dan Hellhound yang mendekat dari berbagai arah. Di sisi lain, Altheya mengaktifkan sihir Spirit Guardians, memancarkan energi radiant yang menyelimuti area di sekitar mereka.
Cahaya suci itu membentuk perlindungan magis sekaligus membakar setiap iblis yang berani memasuki jangkauannya. Spirit Guardians merupakan sihir level tiga yang dapat digunakan oleh seorang healer. Sihir ini memancarkan energi radiant dalam radius lima meter, membentuk lingkaran perlindungan dengan Altheya sebagai pusatnya.
Makhluk iblis yang memasuki area tersebut akan terkena paparan energi radiant yang mampu melukai mereka, menjadikan sihir itu sebagai pertahanan sekaligus senjata untuk menghadapi gerombolan yang terus berdatangan. Pertarungan akhirnya berakhir ketika Ren menebas Imp terakhir yang terbang ke arahnya. Tubuh iblis kecil itu terjatuh ke tanah sebelum menghilang bersama sisa energi sihir yang menyelimutinya.
Setelah memastikan tidak ada musuh lain yang mendekat, Ren menghampiri Altheya, yang mulai menonaktifkan sihirnya. Cahaya radiant di sekitar mereka perlahan meredup, menyisakan keheningan di antara pepohonan yang sebelumnya dipenuhi suara pertempuran.
"Ren, kamu baik-baik saja?"
Altheya meperlihatkan senyum lega setelah memperhatikan keadaan Ren untuk memastikan bahwa pemuda itu tidak mengalami luka serius. Suasana hatinya tampak jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, terutama setelah Ren menjelaskan rencananya untuk membagi kelompok mereka menjadi dua tim.
Ren dan Altheya akan mengambil risiko dengan bergerak menuju pusat Magic Circle untuk memeriksa situasi secara langsung. Sementara itu, Damian, Rose, dan Julia akan mengawasi daerah sekitar sekaligus mencari keberadaan Barlgura yang masih berkeliaran di dalam hutan.
Mereka akan tetap berkomunikasi menggunakan Sending Stone masing-masing untuk memastikan kedua kelompok dapat saling bertukar informasi selama menjalankan tugas. Julia juga akan menghubungi Giana, yang saat ini bersama pihak Academy, guna menyampaikan perkembangan situasi dan mengoordinasikan langkah berikutnya.
Dengan komunikasi yang terjaga, mereka setidaknya memiliki kesempatan untuk meminta bantuan jika salah satu kelompok menghadapi bahaya yang tidak dapat ditangani sendiri.
Barlgura merupakan lawan yang terlalu sulit untuk dihadapi oleh kelompok mereka dalam kondisi saat ini. Iblis bertubuh besar menyerupai gorila itu memiliki daya tahan luar biasa, ditambah kemampuan untuk memimpin iblis lain sehingga membuatnya semakin berbahaya. Menghadapinya secara langsung tanpa bantuan dari pihak Academy hanya akan meningkatkan risiko jatuhnya korban.
Karena itulah, Ren memutuskan untuk tidak membuang tenaga dalam pertarungan yang belum tentu bisa mereka menangkan. Untuk saat ini, prioritas mereka adalah menemukan pusat Magic Circle dan memastikan keadaan di sekitarnya sebelum menentukan langkah selanjutnya.
"Iya, terima kasih, Altheya. Maaf, tapi saya membutuhkan pengguna elemen radiant sepertimu saat ini. Untuk memasuki bagian hutan yang lebih dalam, kemampuanmu sangat diperlukan untuk menahan energi Necrotic yang berasal dari para iblis."
Altheya menggelengkan kepalanya pelan, lalu menatap Ren dengan senyum hangat. Ia tidak mempermasalahkan alasan Ren mengajaknya, sebab sejak awal dirinya memang sudah berjanji untuk membantu pemuda itu menyelesaikan ujian. Baginya, selama keberadaannya bisa membatu Ren, ia tidak keberatan menghadapi bahaya yang menanti mereka di dalam hutan.
"Kamu nggak perlu khawatir, Ren. Aku sudah berjanji akan membantumu selama ujian ini, bukan? Lagipula..."
Altheya melangkah melewati Ren, tetapi beberapa saat kemudian ia berhenti dan berbalik. Senyum hangat di wajahnya perlahan berubah menjadi seringai jahil saat ia menatap pemuda berambut hitam itu, seolah baru saja menemukan kesempatan yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Kedua mata gioknya menyipit tipis, memperlihatkan sisi usil yang belakangan ini semakin sering muncul setiap kali ia berhadapan dengan Ren.
"Harus ada seseorang yang mengawasimu. Kalau nggak, kamu pasti akan bertindak nekat dan hampir mati lagi, kan?"
Ren terdiam sejenak. Ekspresinya berubah masam saat ia mengembuskan napas kasar, jelas tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan Altheya. Ia ingin membantah, tetapi kejadian-kejadian sebelumnya justru membuatnya kesulitan menemukan alasan yang masuk akal. Pada akhirnya, Ren hanya bisa menatap gadis elf itu dengan wajah datar, meskipun tatapan matanya menunjukkan sedikit ketidakpuasan.
Perubahan sikap Altheya belakangan ini benar-benar di luar perkiraannya. Gadis yang dahulu cenderung berhati-hati dan bersikap dingin ketika berbicara dengannya kini mulai berani melontarkan godaan secara terang-terangan, seolah menikmati setiap kesempatan untuk melihatnya kehilangan kata-kata. Lebih menyebalkan lagi, Altheya tampaknya mulai memahami bagaimana cara mengusik ketenangannya tanpa harus melakukan sesuatu yang berlebihan.
Sebenarnya, hubungan mereka memang semakin akrab dalam beberapa waktu terakhir. Altheya mulai membuka hatinya kepada Ren dan menunjukkan sisi dirinya yang lebih ekspresif, sesuatu yang jarang ia perlihatkan sebelumnya. Namun, Ren tidak pernah menyangka bahwa perubahan itu akan membuat gadis elf tersebut begitu berani menjahilinya di tengah keadaan dimana mereka sedang berada di tengah hutan yang dipenuhi ancaman.
Ren akhirnya memalingkan wajah dan kembali memusatkan perhatian pada jalan di hadapan mereka. Ia tidak berniat memperpanjang percakapan yang hanya akan membuatnya semakin kesulitan membalas godaan gadis itu. Namun, sebelum kembali melangkah, ia sempat melirik Altheya yang masih tersenyum penuh kemenangan. Ren hanya bisa menghela napas sekali lagi. Sepertinya, selama perjalanan ini, ia harus menghadapi lebih dari sekadar iblis dan energi Necrotic yang memenuhi hutan.
Namun, tepat ketika Ren hendak melanjutkan perjalanan, sebuah sensasi dingin tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Ia menghentikan langkah sejenak, lalu melirik ke arah pepohonan di sekitarnya dengan ekspresi datar. Tidak perlu menjadi ahli sihir untuk mengenali perasaan semacam itu, terlebih setelah beberapa kali mengalami kejadian serupa.
Ren tahu betul bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya melalui sihir Scrying Eyes. Dan berdasarkan firasatnya, ia bisa menebak dengan cukup akurat siapa orang yang berada di balik pengawasan tersebut.
"Gia.."
Ren menghela napas panjang, mengusap wajahnya sejenak. Ia bisa menebak apa yang sedang dipikirkan sang putri saat ini dan membayangkan reaksi Giana saja sudah cukup untuk membuat kepalanya pusing. Terlebih lagi, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Giana menyatakan perasaannya secara terang-terangan pada sore sebelumnya.
Setelah pengakuan semacam itu, Ren benar-benar tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi ketika mereka bertemu kembali. Di sisi lain, Altheya yang melihat perubahan sikap Ren justru semakin tersenyum jahil. Ia mengetahui bahwa sang putri sedang mengawasi mereka berdua melalui sihir Scrying Eyes.
Namun, selama berada di sisi Ren, Altheya memiliki kesempatan untuk menikmati kebersamaan mereka tanpa gangguan, setidaknya untuk sementara waktu. Ia bahkan tidak berniat menyia-nyiakan kesempatan tersebut, terlebih setelah mengetahui kesalahpahaman konyol yang selama ini terjadi antara Giana dan Ren.
Bagi Giana, Ren adalah tunangan sekaligus calon suaminya, seseorang yang telah lama menempati tempat istimewa di hatinya. Sebaliknya, Ren masih menganggap sang putri sebagai sahabat lamanya, tanpa benar-benar menyadari betapa dalam perasaan Giana terhadap dirinya.
Perbedaan pandangan yang begitu mencolok itu selalu membuat Altheya merasa geli, terutama ketika melihat bagaimana Ren bisa begitu peka terhadap bahaya di sekitarnya, tetapi justru begitu tumpul dalam urusan perasaan. Setelah mengetahui situasi tersebut, Altheya pun memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada demi membuat Ren memandangnya lebih dari sekadar rekan satu tim.
Ren sendiri hanya bisa berharap satu hal, semoga mereka berhasil menyelesaikan ujian ini sebelum ia harus menghadapi ledakan kecemburuan Giana secara langsung. Sebab, jika firasatnya benar, pertarungan melawan iblis di Hutan Utara mungkin bukan satu-satunya masalah yang menantinya.
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya hari itu, Ren merasa bahwa menghadapi Barlgura sekalipun mungkin akan terasa lebih mudah daripada menjelaskan situasi ini kepada seorang putri yang baru saja menyatakan perasaannya kepadanya.
Sending Stone milik Ren tiba-tiba menyala, menampilkan tanda bahwa sebuah pesan masuk. Ren segera mengangkat alat komunikasi tersebut dan menerima panggilan dari rekannya. Beberapa saat kemudian, suara Julia, sang komandan, terdengar jelas dari seberang, membawa kabar mengenai perkembangan situasi di Hutan Utara.