Refulgence of The White Wings Act III

Dimas Nugraha
Chapter #9

Chapter 8: Jalan Menuju Pusat Kegelapan

Tim ekspedisi Legion Military Academy yang dipimpin langsung oleh Kepala Academy, George Aksam, mulai menyusuri kawasan Hutan Utara Zale. Dalam ekspedisi kali ini, George didampingi oleh Loretta Nesslein, Kepala Departemen Sihir Academy, serta dua puluh profesor dan staf yang ditugaskan untuk membantu menangani berbagai ancaman yang mungkin mereka temui di dalam hutan. Meskipun rombongan itu memiliki jumlah personel dan kemampuan yang cukup untuk menghadapi sebagian besar bahaya, mereka tetap bergerak dengan hati-hati. Energi Necrotic yang menyelimuti kawasan tersebut bukanlah sesuatu yang bisa mereka abaikan, terlebih setelah laporan mengenai kemunculan para iblis di sekitar area ujian.

Di barisan depan, Giana memimpin ekspedisi bersama Olivier Galliard dan Kieran Castain dari Team Sigma. Kehadiran sang putri di garis depan sempat menimbulkan kekhawatiran di antara beberapa profesor, tetapi Giana tetap bersikeras bahwa hanya dirinya yang mengetahui letak dari Magic Circle yang merupakan penyebab dari insiden kali ini. Olivier tetap berada di dekatnya, menjalankan tugas untuk melindunginya, sementara Kieran mengawasi jalur di sekitar mereka dengan kewaspadaan seorang Rogue yang terbiasa mencari bahaya sebelum bahaya itu menemukan dirinya.

Giana terdiam sejenak, lalu memejamkan matanya untuk memusatkan perhatian pada mantra Scrying Eyes yang telah ia rapalkan sejak memasuki hutan. Melalui mantra itu, ia terus memantau keberadaan Ren, memastikan pemuda tersebut tetap aman dan untuk mengikuti Ren menuju pusat dari Magic Circle tersebut. Namun, ketenangan yang susah payah ia pertahankan seketika terusik ketika melihat Ren berjalan berdua dengan Altheya. Pemandangan itu membuat dadanya terasa panas, sementara kekesalan perlahan memenuhi pikirannya. Seolah-olah semua ucapan dan perasaannya yang telah ia ungkapkan kepada Ren kemarin tidak berarti apa-apa bagi pemuda itu.

“Dasar tukang selingkuh! Aku sudah bilang kalau aku sayang kamu, tapi kamu masih saja nempel sama elf sialan itu!”

Berbagai protes memenuhi benaknya, membuat Giana ingin segera mendatangi Ren dan menariknya menjauh dari Altheya. Sayangnya, ia sadar bahwa dirinya sedang memimpin ekspedisi bersama Kepala Academy dan puluhan profesor serta staf. Ia tidak mungkin membiarkan kecemburuannya merusak wibawa yang harus ia jaga di hadapan mereka. Karena itu, meskipun emosinya bergejolak, Giana berhasil menahan diri tanpa memperlihatkan sedikit pun kekesalan di wajahnya. Ia kembali memasang ekspresi tenang dan bermartabat, menampilkan sosok putri pertama Kekaisaran Oswald yang anggun dan berwibawa, seolah tidak ada apa pun yang mengusik pikirannya.

George Aksam yang berjalan di barisan depan tiba-tiba mempercepat langkahnya. Tatapannya tertuju pada sesuatu di antara pepohonan, membuat ekspresinya berubah serius. Tanpa membuang waktu, ia segera bergerak ke depan Giana, lalu berdiri membelakanginya untuk menghalangi sang putri melangkah lebih jauh. Sikapnya yang mendadak waspada membuat suasana rombongan ikut menegang. Beberapa profesor dan staf di belakang mereka segera memperlambat langkah, sementara Olivier dan Kieran bersiap menghadapi kemungkinan adanya ancaman.

“Yang Mulia, harap mundur. Ada makhluk aneh di depan.”

Tak berselang lama, bayangan hitam mulai bermunculan di antara pepohonan. Sepuluh Hellhound keluar dari balik semak-semak dengan langkah mengancam, menyebar membentuk setengah lingkaran untuk mengepung rombongan ekspedisi. Tubuh mereka yang berotot diselimuti bulu hitam legam, sementara mata merah menyala menatap manusia di hadapan mereka dengan kebencian yang nyaris menyerupai kecerdasan. Geraman rendah menggema di sepanjang hutan, disusul suara cakar yang menggores tanah ketika kawanan anjing neraka itu merendahkan tubuh, bersiap menerkam mangsanya. Beberapa profesor segera mengangkat tongkat sihir, sementara para staf mundur untuk menjaga jarak. Namun, sebelum siapa pun sempat mengambil tindakan, George Aksam sudah melangkah maju dan berdiri di antara kawanan iblis itu dengan rombongan ekspedisinya.

“Yang Mulia, tetaplah di belakang saya.”

George tidak menunggu jawaban. Ia meraih gagang Greatsword yang tersampir di punggungnya, lalu menarik senjata besar itu hingga bilahnya berkilat di bawah cahaya matahari yang menembus dedaunan. Armor putih yang membungkus tubuhnya memantulkan cahaya di antara bayang-bayang hutan, memperlihatkan lambang elang berwarna emas Kekaisaran Oswald di bagian dada serta lambang kuda putih di bahunya milik Legion Military Academy. Di balik zirah tersebut, tersembunyi tubuh seorang veteran yang telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di medan perang. George bukanlah seorang akademisi yang hanya memahami pertempuran melalui teori dan laporan. Ia pernah berdiri di tengah hujan anak panah, menghadapi barisan musuh yang jauh lebih besar, dan memimpin prajuritnya melewati situasi ketika satu kesalahan saja dapat menentukan hidup dan mati.

Salah satu Hellhound mengeluarkan geraman keras, lalu menerjang dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Makhluk itu melesat rendah, mengincar sisi tubuh George yang tampak terbuka. Namun, sang kepala Academy justru bergerak maju menyambutnya. Ia memutar pinggang dan menggeser kaki, membiarkan terjangan lawan melewati sisi zirahnya sebelum menghantamkan gagang pedang ke tubuh makhluk tersebut. Hellhound itu kehilangan keseimbangan dan terlempar ke samping, tetapi George tidak membuang waktu untuk mengamatinya. Ia segera memutar Greatsword dengan kedua tangan, mengayunkan bilahnya dalam lintasan horizontal yang memaksa dua Hellhound lain mengubah arah serangan mereka. Salah satunya terlambat bereaksi dan terkena tebasan yang menghentikan terjangannya seketika, sementara yang lain melompat melewati bilah pedang, mencoba mencapai leher sang veteran dari atas.

George sudah memperhitungkan kemungkinan itu. Ia menarik salah satu kakinya ke belakang, menurunkan pusat keseimbangan, lalu mengangkat sisi datar Greatsword untuk menahan terjangan tersebut. Benturan antara tubuh Hellhound dan bilah baja mengguncang kedua lengannya, tetapi posisinya tetap kokoh. Sebelum makhluk itu sempat mencengkeram senjatanya, George mendorong bilah pedang ke atas, melepaskan dirinya dari tekanan lawan, kemudian menghantamkan bahunya ke tubuh Hellhound tersebut. Makhluk itu terlempar ke tanah. George menyusul dengan satu langkah cepat, memutar senjatanya, dan mengakhiri ancaman itu sebelum sempat bangkit kembali.

Namun, kawanan Hellhound lainnya tidak memberinya kesempatan untuk mengatur napas. Tiga ekor menerjang hampir bersamaan dari arah yang berbeda, sementara dua lainnya berusaha memutari pertarungan untuk mencapai Giana dan rombongan ekspedisi. George langsung menyadari perubahan taktik mereka. Ia tidak mengejar lawan yang terlempar ataupun memaksakan diri menghabisi setiap musuh satu per satu. Sebaliknya, ia melangkah menyamping, memosisikan tubuhnya di jalur yang harus dilewati kedua Hellhound menuju rombongan, lalu menghentakkan ujung Greatsword ke tanah untuk mengubah arah ayunannya. Bilah besar itu terangkat kembali dalam satu gerakan kuat, memaksa dua makhluk yang hendak menyelinap melewatinya mundur. Pada saat yang sama, George memutar tubuh dan menyapu serangan Hellhound ketiga, menggunakan momentum ayunannya untuk menjatuhkan lawan tersebut sebelum kembali mengambil posisi bertahan.

“Jangan biarkan mereka memecah barisan! Dua orang, lindungi sisi kanan! Para profesor, siapkan mantra penghalang dan tunggu aba-aba saya!”

Perintah itu meluncur tegas di tengah suara geraman dan benturan senjata. Bahkan ketika berhadapan dengan beberapa Hellhound sekaligus, George masih sempat mengawasi posisi seluruh rombongan dan memastikan tidak ada seorang pun yang terpisah dari kelompok utama. Ia memberikan instruksi dengan ketepatan seorang komandan yang telah berkali-kali mengarahkan pasukan di tengah kekacauan. Para profesor dan staf segera mengikuti perintahnya, membentuk barisan pertahanan di belakang, sementara Olivier menarik Giana menjauh dari jalur pertempuran dan Kieran mengawasi sisi yang belum terlindungi.

Seekor Hellhound yang lebih besar daripada kawanan lainnya tiba-tiba melompat dari balik pepohonan. Makhluk itu memanfaatkan kesibukan George untuk menyerang dari titik buta, membuka rahangnya lebar-lebar dan mengincar bagian belakang lehernya. Namun, sesaat sebelum taringnya mencapai zirah sang veteran, George memutar kepala dan bahunya, menangkap pergerakan itu melalui sudut pandangannya. Ia menurunkan tubuh secara mendadak sehingga terjangan Hellhound hanya menyambar udara di atas kepalanya. Dalam gerakan yang sama, ia mencengkeram gagang Greatsword lebih erat, memutar seluruh tubuhnya, lalu melepaskan ayunan kuat yang membelah Hellhound itu menjadi dua.

George mengembalikan posisi pedangnya dan mengembuskan napas pendek. Tidak ada sorak kemenangan ataupun ekspresi puas di wajahnya. Ia hanya mengamati kawanan yang tersisa, menghitung jarak mereka, memperhatikan gerakan kaki dan arah tatapan masing-masing. Pertarungan belum berakhir, dan ia tidak berniat meremehkan lawan hanya karena beberapa serangan pertamanya berhasil. Pengalaman mengajarkannya bahwa musuh yang terluka sekalipun masih dapat membunuh seseorang yang lengah. Ia menggeser satu kaki ke depan, menjaga tubuhnya tetap berada di antara para Hellhound dan rombongan ekspedisi, sementara bilah Greatsword di tangannya kembali terangkat.

“Kalau kalian memang ingin lewat,” ujar George dengan suara dingin, menatap kawanan iblis yang mulai menggeram semakin keras, “kalian harus melewatiku terlebih dahulu.”

Lihat selengkapnya