Tim ekspedisi melanjutkan perjalanan setelah pertemuan mereka dengan para Hellhound. Dipimpin langsung oleh Kepala Akademi, George Aksam, rombongan yang terdiri dari para instruktur dan staf Akademi Militer Legion menerjang Hutan Utara dengan kecepatan dan presisi tinggi. Setiap langkah diperhitungkan, setiap keputusan diambil dengan tegas, dan setiap anggota rombongan bergerak mengikuti arahan sang pemimpin. Karisma George sebagai mantan Royal Paladin sekaligus kesatria veteran Kekaisaran Oswald terlihat jelas sepanjang perjalanan. Pengalaman militernya membuatnya mampu menjaga formasi sekaligus menyesuaikan strategi dengan kondisi hutan yang semakin berbahaya. Hanya dalam beberapa jam, tim ekspedisi berhasil menembus lebih dalam ke di hutan utara.
George bukan satu-satunya orang yang berperan penting dalam perjalanan tersebut. Di garis depan, Loretta Nesslein, Kepala Divisi Sihir Akademi, turut membantu membuka jalan bagi rombongan. Berbeda dengan George yang mengandalkan pengalaman tempur dan kemampuan berpedangnya, Loretta memanfaatkan sihir untuk mengatasi berbagai rintangan yang menghalangi perjalanan mereka. Giana memperhatikan setiap gerakan dan rangkaian mantra yang digunakan Loretta dengan saksama.
Sebagai seseorang yang pernah belajar di bawah bimbingan Theresa Agna, ia memiliki pemahaman untuk menilai kemampuan seorang penyihir. Meski sihir Loretta tergolong mumpuni dan sangat berguna dalam ekspedisi tersebut, Giana menyadari bahwa tingkat penguasaannya masih berada di bawah mendiang gurunya. Perbandingan itu muncul begitu saja dalam benaknya, mengingatkannya pada sosok yang pernah membimbingnya memahami dunia sihir. Tak lama berselang, Giana menerima panggilan masuk melalui Sending Stone miliknya. Ia segera mengaktifkannya, dan suara lembut Julia terdengar dari seberang sambungan, menyampaikan laporan mengenai keberadaan Barlgura yang masih berkeliaran di sekitar hutan.
“Yang Mulia, Barlgura masih berada di sekitar hutan. Lokasinya tidak jauh dari tempat kita berhadapan dengannya kemarin.”
Giana memejamkan mata sejenak, kemudian merapalkan mantra Scrying Eyes untuk melacak keberadaan Julia. Melalui penglihatan sihirnya, ia mendapati Julia, Rose, dan Damian berada di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari posisinya sekarang. Setelah memastikan keberadaan mereka, Giana menggunakan sihir telepatik Message untuk menghubungi Julia secara langsung.
“Apa ini rencana Ren yang lain? Kenapa kalian berpisah?”
“Kondisi Damian belum cukup baik untuk melanjutkan perjalanan, Yang Mulia. Akan terlalu berbahaya bagi nyawanya jika kami memaksakan diri masuk lebih dalam, terlebih kami belum mengetahui apa yang menunggu di depan. Karena itu, Ren memutuskan untuk pergi lebih dahulu menuju Magic Circle, sementara kami mengawasi pergerakan Barlgura sambil menunggu bantuan dari pihak Academy.”
Giana mengernyit mendengar penjelasan tersebut. Dari sekian banyak kemungkinan yang bisa dipilih, Ren sekali lagi memutuskan untuk mengambil jalan paling berbahaya dengan menempatkan dirinya di garis depan. Ia memahami alasan di balik keputusan itu. Kondisi Damian memang belum memungkinkan mereka bergerak bersama, sedangkan waktu terus berjalan dan informasi mengenai serangan tersebut masih sangat terbatas. Namun, memahami alasan Ren bukan berarti ia harus menyukai keputusannya.
“Dasar, memang tidak bisa ditinggal sendirian...”
Gerutu Giana dalam hati. Ia mengembuskan napas panjang, berusaha meredam kekesalan yang perlahan muncul. Ren selalu seperti itu. Ia akan mengambil keputusan sendiri, menanggung risiko seorang diri, lalu menganggap semuanya baik-baik saja selama orang lain tidak perlu ikut terluka. Kebiasaan itu sudah cukup dikenalnya, tetapi tetap saja sulit diterima begitu saja, terlebih ketika keselamatan Ren sendiri dipertaruhkan.
Pada akhirnya, Giana hanya bisa menahan keinginannya untuk segera menyusul. Mereka sedang berpacu dengan waktu, sementara ancaman yang bersembunyi di Hutan Utara masih belum sepenuhnya terungkap. Untuk saat ini, ia harus mempercayai keputusan Julia dan membiarkan Ren menjalankan rencananya. Setidaknya, dengan Ren bergerak lebih dahulu, mereka memiliki seseorang yang dapat menjadi mata bagi seluruh tim dalam menemukan lokasi Magic Circle dan mengungkap sumber energi Necrotic yang mengancam hutan tersebut.
“Baiklah, Nona Julia. Saya percaya pada rencana Ren. Mari kita bertemu di sana. Saya akan segera menuju lokasi kalian.”
Setelah mengakhiri komunikasi melalui sihir telepatik, Giana kembali melangkah. Namun, tidak lama kemudian, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah George. Ada informasi penting yang perlu disampaikannya sebelum mereka menentukan arah perjalanan selanjutnya.
“Kepala Akademi, ada seekor iblis dengan tingkat ancaman yang cukup tinggi di sekitar lokasi. Namanya Barlgura, seekor iblis menyerupai gorila yang turut dipanggil oleh Dreadveil. Instruktur Brown dan kelompoknya sedang mengawasi pergerakan iblis tersebut dan meminta bantuan dari pihak Academy. Saya rasa sebaiknya kita segera menuju ke sana untuk membantu mereka. Bagaimana menurut Anda?”
George mengerutkan keningnya, tampak sedang mengingat kembali informasi yang sebelumnya ia terima mengenai keberadaan para siswa yang masih terjebak di dalam hutan.
“Bukankah Instruktur Brown memasuki hutan untuk mencari dua siswa yang masih terjebak di dalamnya?”
Giana menyadari arah pertanyaan George. Ia harus menjelaskan situasi yang sebenarnya tanpa mengungkapkan rencananya bersama Ren, terlebih mengenai komunikasi yang baru saja mereka lakukan. Dengan tetap mempertahankan ketenangannya, sang putri menjawab dengan hati-hati.
“Siswa yang berhasil ditemukan sejauh ini adalah Damian Seraphim. Sementara itu, keberadaan Ren Flarehart masih belum diketahui. Prioritas mereka sekarang adalah menemukan jalan keluar dari Hutan Utara dengan selamat.”
Loretta yang berdiri tidak jauh dari mereka mengangkat sebelah alisnya. Ia tampak kurang puas dengan penjelasan Giana, seolah menemukan celah yang membuatnya semakin curiga terhadap siswa yang selama ini dikenal sebagai pengkhianat Kekaisaran.
“Jadi, sang pengkhianat masih belum ditemukan? Kalau begitu, kemungkinan dia terlibat dalam insiden ini tampaknya semakin masuk akal.”
“Anda tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja, Instruktur Loretta!”
Olivier yang berdiri di samping Giana segera menyela. Nada suaranya terdengar tegas, menunjukkan ketidaksenangannya terhadap tuduhan yang kembali diarahkan kepada Ren. Ia menatap Loretta tanpa berusaha menyembunyikan keberatannya.
“Ren jelas-jelas tidak terlibat dalam insiden ini. Bagaimana Anda bisa berpikir demikian, padahal dia bahkan hampir mengorbankan dirinya sendiri agar Yang Mulia Putri Giana bisa kembali ke Camp dengan selamat? Apakah tindakan seperti itu masih belum cukup untuk membuktikan bahwa dia bukan orang yang sedang Anda tuduh?”
Ketegangan seketika menyelimuti rombongan. Beberapa instruktur yang berada di dekat mereka mulai melirik ke arah Olivier dan Loretta, sementara George tetap diam, mengamati perdebatan yang mendadak muncul di tengah perjalanan. Bagi Giana, pembicaraan tersebut bukan lagi sekadar persoalan mengenai keterlibatan Ren dalam insiden di Hutan Utara. Ia tahu betapa mudahnya prasangka terhadap pemuda itu kembali muncul, bahkan ketika Ren sedang mempertaruhkan keselamatannya demi orang lain.
“Yah, pada akhirnya, masalah itu akan terungkap setelah sang pengkhianat ditemukan. Untuk saat ini, saya setuju dengan Yang Mulia. Secara pribadi, saya justru ingin melihat iblis itu secara langsung. Jika kita dapat mengamati perilaku dan kemampuannya, informasi tersebut mungkin akan sangat berguna untuk menghadapi ancaman serupa di masa mendatang.”
George mengalihkan pandangannya kepada Loretta. Dari ekspresi wanita itu, ia dapat melihat bahwa ketertarikannya bukan sekadar rasa ingin tahu biasa. Meskipun pada awalnya Loretta tampak enggan terlibat dalam ekspedisi ini, sikapnya mulai berubah sejak mereka menemukan makhluk-makhluk yang tidak dikenal dalam catatan monster yang selama ini dipelajari di Akademi.
Sebagai seorang Wizard sekaligus peneliti sihir, Loretta memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap segala sesuatu yang belum dipahami. Keberadaan iblis yang belum pernah ia pelajari secara langsung telah membangkitkan naluri penelitinya. Di balik sikap profesional yang selalu ia tunjukkan, kini tersimpan semangat seorang akademisi yang berkesempatan mengamati objek penelitiannya secara langsung. Namun, George memahami bahwa mereka tidak sedang melakukan ekspedisi penelitian biasa. Di tengah hutan yang dipenuhi energi Necrotic dan makhluk berbahaya, rasa ingin tahu yang tidak disertai kehati-hatian dapat berubah menjadi ancaman bagi seluruh rombongan.
George mengusap dagu dan janggut keemasannya sambil mempertimbangkan informasi yang baru saja disampaikan Giana. Tatapannya sedikit menyipit, menunjukkan bahwa ia tengah memperhitungkan risiko jika mereka memutuskan mengubah arah perjalanan untuk menemui kelompok Julia.
“Yang Mulia, apakah iblis itu merupakan ancaman yang signifikan bagi ekspedisi kita?”