Regresi

Magnific Studio
Chapter #2

Keluarga Pemakan Jali-Jali

Kalau bicara masa sekarang, aku ini bagai hantu. Apa-apa yang ada di sekitaku rasanya kurang nyata. Kan begitu apabila kuposisikan diri menjadi hantu? Bagi manusia, hantu-hantu mungkin ada, tetapi berada di dunia yang kurang nyata. Sebaliknya, hantu pun agaknya merasakan bahwa manusia dan lingkungannya lah yang sebetulnya berada di luar kenyataan dunia hantu. Namun, aku segera disadarkan oleh batas yang jelas antara dunia hantu dan manusia. Yakni hidup dan mati. Aku masih hidup, sedangkan mereka yang disebut hantu, tentu saja sudah mati. Lalu, istilah macam apa yang pas untuk menamai kondisiku ini? Kondisi di mana pikiran sekarang, ingatan lampau dan ragaku seolah melebur, membayang, lalu keluar dari kenyataan untuk mencipta momentum siklik1. Itu terus membawaku berputar-putar, bahkan kini, aku mulai ditarik masuk ke dalam lubang regresi2.

Misalnya, saat ini hidupku sedang tenang tentram dan aku senantiasa merasa senang. Tentu ingin kunikmati ketenteraman ini selamanya. Tapi sialnya, lambat laun, itu justru memicu kecemasan baru. Pikiran burukku mulai bekerja mencari-cari kesalahan. Sejak beranjak dewasa dan bertambah pula pengetahuan, aku mendadak jadi pelupa terhadap kesenangan, tetapi begitu awas mengingat kekacauan. Ketenangan di dalam hidupku lantas berubah menjadi paradox. Aku jadi tenang kalau mengingat ketidaktenangan di masa lalu, tetapi ketenangan itu juga membuatku tidak tenang karena aku merasa sedang tenang. Memangnya boleh tenang-tenang saja? Begitu kira-kira cara pikirku. Sungguh merepotkan.

Kalau dikaji ulang dengan pikiran jernih, benar juga perkataan karibku dulu, Nene. Ia adalah kawan kecilku di gunung. Kami bertemu lagi belum lama ini, ketika aku berkunjung ke dusun Kalimati di gunung Baturaja untuk melayat Uwak Saimah. Di pertemuan itu, ia berkata begini:

“Aku tidak menyangka Wani mau mengunjungi gunung ini lagi. Ingat tidak? Dulu Wani pernah bilang kalau sampai kembali ke sini, itu artinya Wani gagal sukses. Tapi, sepertinya salah, ya, Wani? Buktinya Wani tetap mengunjungi gunung ini padahal Wani sudah sukses, kan? Mungkin Wani gagal senang di luar sana, bukan gagal sukses, ya? Makannya Wani ingin kembali ke sini. Iya tidak? Katanya, orang sukses itu lebih susah untuk senang. Benar tidak?”

Aku agak pusing mendengar bicaranya Nene, tapi kalau mau disimpulkan, ya, aku setuju dengannya. Kalau kehidupanku sebagai dosen dikategorikan sukses oleh orang gunung, ya, baiklah, sementara kuakui demikian. Tetapi kesuksesan ini terus menerus membuatku tidak tenang. Aku malah seperti diseret agar kembali kepada aku yang dulu, yang masih menjadi Kembang Girwani si anak gunung, dan tentu saja yang belum menjadi orang sukses. Apa sebabnya? Aku tidak tahu.

Mungkin, untuk mencari jawab, aku harus mengorek kisah keluargaku. Barangkali, aku bisa menemukan musabab sesungguhnya ketidaktenangan yang terus melekati hidupku. Oh ya, sebelum kegiatan korek-mengorek ini dilakukan, aku mau bilang kalau situasi di luar rumahku sekarang sedang chaos. Pemuda Karang Taruna menggelar demo. Mereka menggeber-geber motor dua tak sambil konvoi mendemo lurah kami yang tiga bulan lalu ketahuan korupsi dana kas desa. Raungan knalpot motor dua tak jelas membuat kepalaku pening. Tapi, ya, memang itu tujuan muda-mudi berdarah panas itu. Mereka sengaja bikin suara bising biar Pak Lurah mati pening.

Tapi sudahlah. Itu kan urusan sekarang. Mari kuajak melompat jauh ke belakang dulu, ke masa yang dulu-dulu...

***

Begini cerita ibu tentang hari kelahiranku:

”Itu Sabtu siang. Panas sekali. Tanggalnya dua puluh. Bulannya entah Maret, entah Mei. Ya sudah lah, tidak penting. Yang penting kamu sudah lahir.”

Ah, tidak penting kan menurut Ibu. Sedang aku jadi gagu ketika Bu Guru menyuruhku memilih Mei atau Maret. Hingga akhirnya bu guru sendiri lah yang memutuskan. Mula-mula, bu guru bertanya,

Mamakmu bilang siang itu panas sekali?”

Aku mengangguk, lalu ia melanjutkan dengan penuh keyakinan. ”Siangnya Maret lebih panas dari siangnya Mei. Jadi jelas sudah, kau lahir bulan Maret.”

Memangnya iya? Aku, sih, setuju saja waktu itu. Dan, begitulah kisah kelahiranku di dokumen-dokumen. Sejak hari pertama sekolah, aku resmi menjadi manusia yang lahir pada tanggal 20 Maret 1993.

Di sabtu siang itu, ibu sedang memanen Ubi jalar ketika air ketubannya pecah. Ibu mengenang bangga bahwa Ubi yang sedang ia panen gemuk-gemuk, segemuk perutnya sendiri yang berisikan aku. Kalau saja aku tidak buru-buru kebelet keluar, ia pasti bisa menyelesaikan panen raya ubi jalarnya dengan gemilang.

Lagi-lagi, begini kata ibu, ”Ya sudah lah, tidak penting ubi-ubi gemuk itu. Yang peting kamu sudah lahir.”

Ah, kalau ibu bilang begitu, malah terkesan penting sekali ubi jalarmu, Bu. Apalagi, ibu lebih ingat ukuran tubuh ubi-ubi itu daripada bulan kelahiranku. Ditambah lagi, itu sudah puluhan tahun lalu! Kadang-kadang, aku jadi iri dengan ubi jalar gemuk yang melekat begitu ketat di ingatan ibu.

Kalau versi kakak kedua soal hari lahirku, agaknya sedikit lebih seru. Ia sedang sibuk mengorek lubang-lubang tembukur di kolong rumah ketika ibu tergopoh-gopoh menaiki tangga rumah panggung. Melihat Ibu bertingkah tak biasa, kakak keduaku menjadi cemas. Sebab hanya ada ia di rumah. Lalu ke mana kakak pertamaku? Kakak ketigaku? Soal itu, akan aku ceritakan nanti. Yang terpenting sekarang adalah proses kelahiranku ke dunia, yang merupakan awal dari semua ingatan ini akan terbentuk nantinya.

Lihat selengkapnya