Bicara soal ingatan, baru-baru ini aku akhirnya berhasil memutuskan yang mana sekiranya ingatan pertamaku. Tentu saja setelah kupilah-pilah dan kucocokkan ingatan itu dengan cerita-cerita yang sering keluar dari ingatan ibu, ayah, dan kakak-kakak. Ingatan pertamaku itu bersangkutan dengan buang hajat. Oh, jangan sinis dulu. Buang hajat, makan dan tidur merupakan siklus dasar keseharian hidup manusia. Jadi wajar apabila ingatan pertama manusia memang melulu soal-soal itu. Tak perlu malu.
Samar-samar, aku ingat mataku melihat seorang wanita sedang mengulek nasi di cobek batu. Sementara aku merasa ada yang mengganjal di dalam celanaku. Kata ibu, wanita itu adalah Uwak Saimah. Ia memang sedang mengulek, tetapi bukan nasi, melainkan jali-jali. Ibu pikir, aku menangis karena tidak sabar ingin makan jali-jali. Tetapi nyatanya, aku kesal karena hajatku tidak lekas dibuang padahal sudah keluar lama sekali. Artinya, ingatan soal Uwak Saimah yang mengulek jali-jali ketika aku sedang buang hajat seharusnya benar menjadi ingatan pertamaku. Sebab, waktu itu aku tidak bisa bangkit untuk ganti celana sendiri. Aku hanya bisa mengowek dan terus mengowek. Bukankah itu adalah perilaku para bayi?
Ibu bilang, peristiwa itu mungkin terjadi antara tahun 1994-1995. Orang gunung seperti kami jarang makan nasi kala itu. Kami makan jali-jali. Itu adalah tanaman biji-bijian sebangsa gandum. Kata ayah, orang gunung tidak bisa membikin sawah. Paling banter, mereka menanam padi gunung di atas bukit. Itu pun tidak bisa setiap musim.
Aku tidak ingat rasa jali-jali, tetapi ingat bagaimana rupanya. Jali-jali berbentuk bulat-bulat kecil. Pohonnya mirip dengan pohon jagung. Biji jali-jali berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi hitam mengkilat saat tua. Ketika lembah tanaman jali-jali menghitam, saat itulah masa panen tiba. Lain jali-jali, lain pula padi gunung. Padi gunung tumbuh lebih tinggi daripada padi sawah. Baik jali-jali maupun padi gunung tidak bisa ditanam oleh satu keluarga saja. Lebih dari sepuluh keluarga bisa bergabung untuk menggarap lahan tebasan bersama-sama. Mereka menggunduli beberapa hektar lahan di lereng gunung, menjadikannya ladang, lalu menyemai bibit jali-jali dan padi gunung secara bersamaan.
Lahan ladang itu jauh dari rumah. Semua orang diboyong untuk tinggal di ladang saat masa panen tiba. Ibu, anak, nenek dan sepupu semua tinggal bersama di gubuk. Semua orang memiliki jatah kerjanya masing-masing. Jatah kerja yang tidak pernah ditulis atau disepakati oleh siapa pun, tetapi juga tidak pernah dilanggar oleh siapapun. Semuanya terjadi begitu saja, turun-temurun dan tidak pernah cela.
Para Ayah sibuk memanen, para ibu sibuk mengumpulkan hasil panen, para nenek sibuk memasak, para kakek sibuk mencari ikan atau berburu burung bersama cucu laki-laki mereka, dan para kakak perempuan sibuk mencari sayuran dan memasak untuk makan malam. Terakhir, jenis manusia paling lemah di dalam kelompok ini adalah para bayi. Dan jika itu adalah masa panen jali-jali pada tahun 1995, tentu aku masuk ke dalam kelompok terakhir.
Ibu mengalami demam tinggi di tengah masa panen. Gawatnya, mereka tidak memiliki orang tua yang bisa dijadikan wakil keluarga untuk melanjutkan jatah bekerja di ladang. Maka, beban kerja Ayah dilimpahkan kepada Uwak Wage, kakak kandung Ayah. Semua sepakat kecuali istri Uwak Wage, yaitu Uwak Saimah –wanita pengulek jali-jali saat aku buang hajat tadi. Kata Ibu, iparnya yang satu itu pada dasarnya bukanlah manusia jahat. Ia hanya manusia yang memiliki lebih banyak kecemasan dibandingkan manusia lainnya.
Uwak Saimah tahu ia harus menawarkan diri untuk merawat Ibu sehingga Ayah bisa meneruskan kerjanya di ladang. Tetapi ia cemas penyakit ibu menular dan malah akan membuatnya sakit juga. Di sisi lain, menolak merawat Ibu juga bukan pilihan aman. Tanpa bantuannya, sang suami terancam kelelahan karena harus memikul jatah kerja Ayah di ladang. Jika suaminya sakit, dua tenaga berkurang dan ia cemas panen kali ini akan gagal. Jika panen gagal, ia cemas anak-anaknya akan kurang makan. Kecemasan paling puncaknya, kata ibu, Uwak Saimah takut anak-anaknya mati karena kelaparan!
Semua orang menyerah menghadapi Uwak Saimah. Bahkan Uwak Wage, suaminya sendiri, lambat laun ikut cemas kalau-kalau istrinya sakit gara-gara terlalu cemas. Begitulah efek mengerikan penyakit cemas yang dimiliki oleh Uwak Saimah. Padahal kata ayah, Uwak Wage adalah saudaranya yang paling tenang dan santai perangainya.
Di antara orang-orang dewasa yang cemas itu, kakak keduaku yang pemberani akhirnya mengajukan diri sebagai pengganti. Ia siap mengurus ibu dan tentu saja mengurus aku yang masih bayi. Ayah dengan terpaksa menyetujui gagasan berani anak keduanya, sebab lagi-lagi, ayah memang tak punya pilihan. Kakak ketigaku yang laki-laki tidak mungkin kalau ditugasi mengurus ibu dan aku, lebih baik ia membantu ayah di ladang. Sedangkan kakak pertamaku sedang ’dibuang’ ke Jawa. Soal ini, aku akan ceritakan nanti.
Setelah keputusan dibulatkan, ibu akhirnya pulang dengan ditandu oleh empat orang termasuk ayah. Sedangkan aku digendong kakak. Setelah ayah memastikan semua yang dibutuhkan oleh ibu, aku dan kakak beres, ia bergegas kembali ke ladang. “Ibumu hanya butuh tempat yang hangat dan makanan yang cukup. Ayah akan mampir ke rumah Nyai Ole supaya dia bisa kasih jamu-jamuan besok. Adikmu tidak rewel, gendong saja kalau merengek-rengek minta digendong,” kenang kakak mengingat pesan ayah kala itu.