Asap knalpot mengepul memenuhi udara. Baunya menembus jalusi rumah hingga merangsak masuk ke dalam pernapasanku. Artinya, selain memakai sandal dan membawa Toa, aku juga harus pakai masker. Kan kurang elok kalau aku terbatuk-batuk saat sedang memberi imbauan nanti.
Saat semua dirasa sudah siap, aku lekas membuka pintu. Telingaku bertambah pekak begitu pintu dibuka. Selain bau asap, hidungku juga mulai mencium bau bensin. Gawat! Kalau tidak cepat-cepat, sebentar lagi bisa terjadi kebakaran sungguhan.
“Tes! Tes! Cek!” Mula-mula aku mengetes fungsi corong suara apakah bunyinya ada atau tidak. “Satu, dua, tiga, tes! Cek!” Syukurlah, ternyata alat yang awalnya kubeli untuk demo sepuluh tahun lalu ini masih berfungsi. Beberapa pasang mata kulihat menoleh-noleh mencari sumber suara.
“Adik-adik! Tuan-tuan! Saudara-saudara! Sedulurku semua!” teriakku sembari melangkah maju menuju kerumunan. “Tolong jaga emosi! Tolong tenang!”
Raungan knalpot masih saling bersahutan, membuat asap perak di sekitarku kian menebal. Jika adegan ini direkam untuk sebuah film, tubuhku yang muncul, mengabur, lalu menjadi nyata kembali membelah kepulan asap pasti terlihat magis. Aku berjalan dengan keberanian meluap-luap, sesuai dengan nama yang disandangkan oleh ayah kepadaku. Wani.
Ah, di tengah hiruk-pikuk ini, bisa-bisanya mendadak aku malah merindukan ayah.
***
Ayahku bernama Sugiri. Singkatnya dipanggil Giri. Sedangkan ibu adalah Sukartik, dipanggil Artik. Sekarang aku akan menceritakan bagaimana mereka bertemu hingga menghasilkan satu anak mati dan empat anak hidup dalam kurun waktu sepuluh tahun –antara tahun 1985-1993.
Keluargaku keturunan Jawa tulen meski tinggal di pedalaman Sumatera. Kakek-nenek dari pihak ayah merupakan satu dari sekian ribu pasangan yang mengikuti program transmigrasi terakhir di era pemerintahan kolonial. Itu terjadi pada tahun 1941, setahun sebelum Jepang datang menginvasi. Dua puluh tahun kemudian, yakni tahun 1961, ayahku lahir.
“Catat saja!” perintah ayah tiap kali aku bertanya siapa nama-nama saudaranya. “Sudah berapa kali kamu bertanya? Ada dua uwakmu, Sukimin dan Suwage. Ayahmu ini anak ketiga, Sugiri. Bibimu Sugirah dan pamanmu itu anak terakhir, Susilan!”
Nyaris saja, kukira ayah mengumpat ‘Sialan’, ternyata ia bilang ‘Susilan’. Biasanya aku manggut-manggut saja, tapi kali ini, aku sambil mencatat. “Habis namanya mirip-mirip, susah dihafal,” kataku.
“Susah bagaimana? Nama anak sekarang lebih susah!” Ayah tambah kesal, “tapi aku tidak malas mencatat! Kalau kamu mau maju, sering-seringlah mencatat,” lanjutnya melebar.
Sebetulnya ada benarnya juga perkataan ayah. Setelah nekat ambil jurusan sejarah, aku jadi tahu bahwa sejarah negeri ini justru banyak tertulis di catatan-catatan orang asing dari negera maju. Sampai hari ini pun, orang-orang dari negara mundur, termasuk aku, masih enggan mencatat. Rasanya malas saja. Pokoknya susah dijelaskan. Mungkin pengaruh DNA nenek moyang. DNA malas mencatat.
Ayah tumbuh besar di tengah hutan. Tentu saja ia tidak pernah sekolah. Ia jadi buta huruf dan tidak bisa membaca, kecuali membaca situasi. Ia juga tidak bisa menghitung, kecuali menghitung uang. Masa remajanya sama seperti remaja di pedalaman pada umumnya. Hingga pada suatu ketika, arah hidupnya melenceng dengan tidak disengaja.
“Memang ngawur ayahmu dulu. Mbah-mbahmu juga kok ya tidak kelangan anak, padahal berminggu-minggu tidak pulang,” terang Ibu
“Namanya juga bocah lancur3,” kata ayah membela diri, “ada apa sedikit langsung penasaran. Orang tua zaman itu sudah biasa kalau anak bujangnya tidak pulang. Kalau pulang malah aneh. Bisa dibilang banci.”