Regresi

Magnific Studio
Chapter #5

Ibuku Ratu Modifikasi

Tapi, ayah, kendati kepala naga kita ada di surga –duniawi, nyatanya kita yang buntut ini tak pernah diajak. Apa mungkin tubuh naganya terlalu panjang? Kalau memang begitu, kan bisa bergantian? Atau melingkar? Pokoknya kalau ada kemauan dari si kepala, aku yakin buntut juga bisa merasakan surga.

Ayah, neraka ini makin panas saja rasanya. imbauanku agar mereka tenang rupanya gagal total. Sesaat setelah aku berseru, “Tolong jaga emosi! Tolong tenang!” Asap knalpot malah makin tebal dan suaraku makin tenggelam dalam kebisingan. Kalau aku tidak ditarik oleh Om Koro, entah jadi apa aku sekarang. Mungkin abu?

Ia menyeretku sembari berteriak, “Jangan brutal! Tahan! Tahan! Tenang!” tetapi agaknya hanya aku yang mendengar teriakan Om Koro meski urat lehernya sampai menyembul sedemikian rupa. Napasku tersengal karena asap dan upaya menembus kerumunan. Mataku perih dan kulit kepalaku pedas. Tangan-tangan mereka menjambaki apa pun yang bisa dijangkau. Kutangku sampai copot. Untung bajuku masih utuh sampai Om Koro berhasil memasukkanku ke dalam mobil jip hitam miliknya. Aku didorong masuk dengan kasar karena memang itu satu-satunya cara. Bersikap lembut malah bisa jadi bumerang. Tenang, kekasaran ini bukan karena aku masih dikira kembang suweg, kok –soal kembang suweg ini, aku akan ceritakan detailnya nanti. Sebab status itu sudah lama luruh seiring aku sering pakai skincare.

Dua orang lagi masuk ke dalam jip. Rupanya tidak hanya Om Koro yang berusaha menyelamatkan aku. Dia punya anak buah, eh, teman-temannya mungkin? Entahlah, yang jelas mereka bukan tetanggaku seperti Om Koro. Jip melaju. Niat sopirnya, sih, melaju kencang. Tapi apa daya, kerumunan terus menghadang. Mereka memukul-mukul badan jip. Ah, jadi seperti ada di dalam dunia film zombie.

Barulah Om Koro bisa mengebut setelah menikung meninggalkan jalan utama kompleks perumahan kami. Tiga orang sempat mengejar agak lama. Aku mengenali wajah mereka. Solidin, Wawan, dan Axel, cucu bungsu Mbak Rejo. Mereka semua tetanggaku. Mereka semua baik hatinya. Perih juga mata dan hatiku melihat mereka berubah beringas dan rela bertelanjang kaki di atas panas aspal demi mengejarku. Aku baru saja menghadap kembali ke depan ketika seorang di sebelah kiriku memekik, “Lihat! Ada api! Mereka...” ia lalu menatapku, ‘membakar rumahmu.”

“Pasti ada provokator! Ada penyusup! Orang-orang kita tahu kalau rumah Dik Kembang itu tidak ada sangkut pautnya dengan korupsi Lurah Dharta. Lagipula sudah satu tahun Dik Kembang pisah resmi sama dia. Byuuh! Nasibmu kok, ya... begini... to, Dik...” Nada bicara Om Koro diseret di bagian akhir. Setidaknya, aku merasakan ketulusan pada nada bicara yang semacam ini.

Aku melihat ke belakang lagi. Awalnya hanya setitik. Lama-lama, api berkobar menyelimuti seluruh rumahku. Tubuhku memang berada di dalam jip. Tapi rasanya, lidah api yang berkobar itu sampai kepadaku juga. Seperti yang kubilang tadi, neraka ini memang semakin panas, ayah. Mari, sembari menurut pada Om Koro hendak dibawa ke mana aku sekarang, aku akan melanjutkan kisah tentangmu dulu. Tentang keluarga kita.

***

Karena tidak boleh berpindah-pindah dan sembarang menebang hutan untuk meladang, ayah memutuskan bekerja sebagai buruh upahan di kebun lada milik Uwak Wage. Itu adalah kebun warisan. Sedang ayah tidak lagi mendapatkan warisan karena jatahnya sudah diambil semua saat kabur ke Jawa. Begitu juga dengan ibu yang sudah tidak berhak atas warisan dari orang tuanya di Jepun karena jatah warisannya sudah diambil semua untuk merantau ke Sumatera.

Uang ibu itu, setelah dipakai untuk perjalanan, rupanya masih kurang kalau untuk beli lahan garapan sendiri. Itu mengapa mereka memutuskan kerja upahan di kebun Uwak Wage saja sampai uang tersebut dirasa cukup untuk membeli lahan sendiri.

“Sebetulnya, uwakmu tidak butuh pekerja. Dia bisa menggarap sendiri lahannya. Lagipula istrinya juga ikut membantu. Tapi karena kasihan sama ayahmu, mau bagaimana lagi? Begitu memang hidup orang gunung. Makan tidak makan, yang penting membantu,” kenang ibu.

“Yang benar, makan tidak makan yang penting kumpul, Bu,” ujarku membetulkan.

“Bukan. Tidak usah kau luruskan. Itu memang perumpamaan yang sudah ibu modifikasi, disesuaikan dengan kondisi.”

Baiklah. Memodifikasi memang keahlian ibu. Semua baju masa kecilku pun hasil modifikasi dari baju kakak-kakakku. Begitu pula dengan sandal keluarga kami yang merupakan hasil modifikasi dari karet ban bekas. Ember dari jeriken bekas, gayung dari ember pecah, bahkan ibu pernah bilang bahwa ayah merupakan hasil modifikasinya juga. Ibu merasa telah berhasil memodifikasi pria penyamun menjadi pria patuh, lurus jalan pikirnya, dan nyaris tanpa cela.

Pokoknya, apa pun yang bisa dimodifikasi menjadi lebih berguna, lebih pas sesuai situasi dan kondisi, ibu tanpa ragu akan melakukannya. Hanya saja, perkara tabungan dan uang, kata ibu, susah sekali dipakaikan teknik modifikasi. Bekerja sebagai buruh upahan hanya menambah tabungan sedikit demi sedikit. Kata ayah, kalau dihitung-hitung, sepuluh tahun lagi baru bisa beli lahan sendiri. Mau pakai teknik modifikasi secanggih apa pun, waktu sepuluh tahun itu tidak mungkin bisa dipotong menjadi dua tahun.

“Bahkan setengahnya pun tidak. Salah langkah sedikit saja, bisa makin lama,” gerutu ibu.

Hingga suatu hari, ada dua orang berpakaian sangat rapi datang ke kebun Uwak Wage, tiga dengan seorang ranger hutan. Usut punya usut, mereka ingin membeli lahan lada Uwak untuk dijadikan perkebunan karet. Mereka bilang, nyaris semua orang di dusun kami sudah setuju menjual lahan mereka ke perusahaan tersebut. Kata mereka, lahan-lahan di gunung sebelah, yang jauhnya puluhan kilometer dari dusun kami, bahkan sudah ditumbuhi tanaman karet sejak beberapa tahun lalu. Uwakku tidak diberi kesempatan untuk berpikir. Mereka terus mendesak dengan memberi banyak iming-iming tiap kali datang.

Lihat selengkapnya