Dusun tempat keluarga kami tinggal bernama Kalimati. Di ingatanku, kurang dari sepuluh rumah berdiri di sana. Lanskap dusun Kalimati berbentuk punden berundak. Dalam satu undakan hanya berdiri satu rumah panggung dengan halaman yang luas untuk menjemur kopi. Bagi yang sedikit lebih kaya, mereka memiliki kandang kuda di samping rumah, dengan kuda-kuda sehat pembawa hasil panen ke tengkulak di kabupaten.
Kami orang gunung mandi di kali. Tak peduli seberapa dingin cuacanya, kami selalu tertib mandi tiga kali sehari. Aku ingat bagaimana Ayah rutin membangunkan Ibu di subuh hari, mungkin pukul lima? Lebih setengah? Tak jelas tepatnya, yang pasti matahari belum terbit benar ketika kami harus bergegas mandi pagi.
Ayah selalu membawa dua jeriken besar berisi air sungai untuk keperluan memasak ibu di rumah. Dalam lapisan ingatan lain, aku sedang dipanggul ayah di pundak ketika tiba waktu mandi. Bunyi sepatu botnya terdengar seperti cicit tikus tiap kali Ayah melangkah. Tapi aku tak ingat ada kakak-kakakku di sana. Di mana mereka? Kata Ibu, mungkin peristiwa itu terjadi di tahun 1997, ketika kakak-kakakku sudah tinggal di Bengkulu.
Kakak pertamaku, Nur Giriwangi diantar ke Jepun ketika aku baru berusia tiga bulan. Ia hendak disekolahkan di sana karena di dusun Kalimati dan wilayah sekitarnya belum ada sekolah. Kak Nur, setelah menikah, tampaknya memiliki perasaan lain mengenai keputusan itu.
“Aku begini karena pernah dibuang ke Jawa.” Begitu ujarnya pada suatu percakapan penuh emosi dengan Ibu.
Aku pernah mencoba mendalami konflik batin yang berlarut antara ibu dan kakak pertamaku itu. Kadang-kadang aku merasa bencinya Kak Nur kepada Ibu sungguh keterlaluan. Entah karena hal itu atau bukan, hubunganku dengan Kak Nur juga ikut memburuk. Bicaranya yang ketus sering kubalas dengan ketus juga. Kalau ia sedang berkelahi mulut dengan ibu, aku tak segan untuk menimpali dan melawannya. Tetapi benarkah Kak Nur sepenuhnya bersalah atas perlawanan-perlawanannya terhadap Ibu? Sebab, lebih sering kulihat ia menangis setelah memenangkan perdebatan, alih-alih tertawa puas penuh kemenangan.
Ayah-ibu berkali-kali bilang bahwa keputusan menitipkan Kak Nur ke Jepun adalah demi pendidikan Kak Nur. Ia sudah berusia delapan tahun tetapi belum sekolah. Anak keluarga lain di Kalimati tidak pernah mempermasalahkan persoalan pendidikan. Ayahku sendiri buta huruf, begitu juga dengan sembilan puluh persen orang yang hidup di dusun Kalimati. Tetapi ibu memiliki pikirannya sendiri. Ia bersekolah sampai tingkat menengah pertama. Ia lancar membaca dan berhitung. Ia ingin anaknya juga bisa melakukannya, meski ia harus ‘membuangnya' ke Jepun.
“Aku tidak bisa belajar di Jepun. Ibu tidak tahu kan? Kalau aku dilarang sekolah saat Bibi Dar panen padi? Aku disuruh bawa satu karung padi! Kalau masa tandur, aku juga tidak pernah sekolah karena wajib bantu-bantu di sawah! Kalau tidak bantu-bantu, aku tidak dikasih jatah makan! Aku juga disuruh tidur di kandang sapi! Mau pintar dari mana?”
“Setidaknya kau pintar nyawah, bawa padi sekarung, dan jadi akrab sama sapi,” celetuk ayah sembarangan di tengah pertengkaran sengit itu. Seingatku, pertengkaran yang ini terjadi ketika Kak Nur sedang hamil sembilan bulan. Entah apa yang menjadi pemicu, mungkin hormon orang hamil? Debat sengit ibu dan kak Nur tiba-tiba saja terjadi.
“Lebih baik aku bodoh daripada dibuang!” jeritnya lalu membanting pintu. Tembok yang aku sandari sampai bergetar karena bantingan dahsyat itu.
Kata ‘dibuang’ yang berulang itu membuat ibu mengecil juga. Lambat laun, aku melihat ibu sangat berhati-hati apabila sedang bersama Kak Nur. Ibu lebih banyak diam, mungkin untuk menghindari pertengkaran, karena perkataan anak pertamanya itu lama-lama makin menusuk jantung.
Sekolah dengan dua ruang kelas, berdinding papan dan berdiri di tengah kebun kopi baru dibangun pada tahun 1999, ketika aku memasuki usia sekolah dasar. Saat itu, ketiga kakakku sudah ‘dibuang’ semua dari Kalimati. Ah, aku ingat ada kisah pilu tentang buang-membuang anak itu. Kisahnya bermula dari kunjungan ayah ke Jepun untuk menengok Kak Nur pada tahun 1996. Kebun kopi berjalan dengan baik, harganya lebih bagus dari karet, kata Ayah. Oleh sebab itu, ia memiliki tabungan lebih dan diputuskanlah untuk menengok Kak Nur di Jepun. Namun, saat ia berada di terminal bus untuk kembali ke Sumatera, Kak Nur tiba-tiba muncul. Ia bertelanjang kaki, napasnya terengah-engah, dan hidungnya mimisan. Jarak dari Jepun ke terminal bus adalah lima kilometer! Jelas dia kena mimisan. Kak Nur begitu ingin ikut ayah hingga mampu berlari berkilo-kilo meter seperti sedang kesurupan. Ayah tidak mengerti pada awalnya, tetapi saat air mata Kak Nur membanjir tanpa sepatah kata pun, ayah langsung paham.