Kobaran api yang kian membesar mencipta kelebatan kematian di mataku. Bagaimana jika aku tidak keluar dari rumah untuk memberi imbauan tadi? Alih-alih mati lalu dikenang sebagai Kembang desa, aku pasti sudah jadi ‘Kembang hangus’ di dalam rumahku sendiri.
Jip Om Koro berhenti di sebuah rumah bercat putih dan berpagar semen setinggi setengah meter. Pagar semen itu masih dipenuhi lumut, padahal kemarau sudah melanda sejak sebulan lalu. Hawa panas lekas menyengat kulit begitu aku keluar dari jip. Lagi, aku membayangkan seberapa panas kulit manusia yang terpanggang dalam rumah yang berkobar?
“Sudah, jangan disesali, Dik Kembang. Yang penting nyawa Adik selamat. Mari, masuk,” ucap Om Koro.
“Tapi ini rumah siapa, Om?” tanyaku.
Aku sudah mendapatkan jawaban sebelum Om Koro menjawab. Rupanya, ia membawaku ke rumah Bu Erwin, seorang pengacara tersohor, yang juga masih berkerabat dengan Dharta, mantan suamiku. Tentu aku ragu untuk masuk sampai Bu Erwin menggandeng lenganku. Sejak dulu, wanita ini memang ramah, meski aku selalu merasa ganjil dengan senyumnya yang menurutku terlalu lebar, atau dilebar-lebarkan?
“Kembang baik-baik saja?”
“Tidak,” jawabku jujur. Ia menghentikan senyuman lebarnya, lalu menggantinya dengan senyum kecut. Atau...dikecut-kecutkan?
"Saya mengerti,” ucapnya sembari mengangguk-angguk berlebihan, “saya paham, sangat paham. Mari, masuk dulu. Tenangkan dirimu dulu.”
Om Koro dan tiga rekannya langsung pamit begitu aku memasuki rumah Bu Erwin. Ia bilang harus kembali ke lokasi untuk membantu menangani situasi. Berbarengan dengan itu, suara sirene mobil pemadam mulai terdengar, disusul dengan suara ambulans. Dadaku berdegup tak beraturan. Mengapa ada ambulans segala? Kalau pemadam jelas akan memadamkan rumahku, tapi ambulans? Siapa yang...
“Ayah!” Aku bukan lagi memekik, tetapi menjerit. “Ayah!”
Semua orang menatapku. Kemudian, aku tidak bisa lagi berseru karena mendadak hilang tenaga. Ayah ada di rumahku sejak semalam. Bagaimana aku bisa melupakan keberadaannya? Padahal setiap waktu, kemarin, bahkan tadi, aku sangat merindukannya. Bagaimana bisa aku setega ini membiarkan ayah terpanggang di rumahku sendiri?
***