Sekarang adalah tahun 2026. Artinya, ayahku yang lahir pada tahun 1961 kini berusia enam puluh lima tahun. Ia sering berkata begini ketika usianya mulai melewati angka enam puluh, “Aku sedang menjalani bonus hidup.” Menjelang usia lima puluh, ayah semakin rajin beribadah dan mengaji. Mungkin dari sanalah, pemikiran soal bonus hidup itu muncul.
“Usia rata-rata manusia adalah enam puluh tahun. Itu berdasarkan usia nabi terakhir kita,” ujar ayah. “Jadi, kalau ada manusia yang usianya lebih dari enam puluh, seperti ayah dan ibumu ini, artinya mereka sedang dapat bonus dari Gusti Allah.”
Aku tidak pernah berkomentar kalau ayah, apalagi ibu sedang berbicara tentang spiritual. Sebab mereka juga tidak butuh tanggapan dan suasana malah akan berubah kacau kalau aku mencoba-coba menanggapi. Spiritual bagiku sendiri sungguh abu-abu. Di dalam hidupku, daripada memikirkannya, aku lebih sering mengabaikannya.
Namun, sekarangkah waktunya? Karena tanpa sadar aku tidak berhenti berdoa sejak tadi. Aku memohon agar ayah jangan meninggal dulu. Kalau terjadi sekarang, aku takut kesalahpahaman ini akan turut terbawa sampai surga sana. Bisa gawat kalau ayah menyampaikan kesalahpahaman ini kepada ibu yang kuyakin sudah menunggu-nunggu kedatangan ayah ke surga. Tapi, kan percuma saja kalau mereka bertemu di surga tetapi malah pusing memikirkan nasib si putri bungsu.
Ayah datang ke rumah untuk menceramahiku tentang korupsi Mas Dharta. Ia ingin tahu apakah aku terlibat dan menikmati uang korupsinya atau tidak. Aku belum menjawab dengan serius, aku hanya bilang, "Mungkin akan lebih baik kalau aku terlibat dan menikmatinya. Sayang sekali, sekarang aku malah jadi janda,” jawabku sekenanya.
Ayah mendecak. Ia lalu mandi dan masuk kamar tamu tanpa menyentuh makanan yang aku siapkan. Rencananya, aku akan menjelaskan semua perkara ini setelah sarapan. Aku bangun pukul lima pagi tadi. Begitu juga dengan ayah. Ia kembali ke kamar setelah sembahyang di ruang sembahyang. Sedang aku kembali ke ruang kerja untuk mengecek beberapa tulisan skripsi dari mahasiswa di bawah bimbinganku. Selain itu, aku juga memeriksa beberapa tulisanku sendiri dan beberapa kerjaan yang masih menumpuk. ‘Beberapa beberapa’ itu nyatanya banyak juga. Tanpa sadar, matahari terus meninggi dan aku lupa keberadaan ayah di rumah. Ya, karena begitulah aku. Seperti yang sudah kusampaikan di awal bahwa,
Kalau bicara masa sekarang, aku ini bagai hantu. Apa-apa yang ada di sekitaku rasanya kurang nyata. Kan begitu apabila kuposisikan diri menjadi hantu?
Aku menunggu kabar ayah dengan gelisah. Bu Erwin mondar-mandir menelepon sana-sini. Entah menelepon siapa, aku tidak bertanya. Hingga kemudian ada suara sepeda motor yang membuatku bangkit dari sofa. Kupikir itu Om Koro, tetapi justru wajah lain yang kulihat sesaat setelah si pengendara motor membuka helmnya. Itu Mas Dharta.
“Bagaimana keadaanmu? Ada yang terluka?” ia bertanya dengan nada seorang suami bicara kepada istrinya. Memangnya nada yang bagaimana itu? Entah bagaimana menjelaskannya. Pokoknya nada bicara semacam ini ada.
"Tidak,” jawabku singkat dengan nada seorang mantan istri kepada mantan suaminya. Yang bagaimana itu? Pokoknya ada.
Karena jawabanku rancu, Mas Dharta memilih mencari jawaban mandiri. Ia menatap tubuhku lekat-lekat, dari atas sampai bawah, baru kemudian ia duduk di sofa sembari berkata, "Syukurlah kamu baik-baik saja.”
"Tahu dari mana aku di sini?”
Ia tidak menjawab. Tapi ketika Bu Erwin bergabung dengan kami di ruang tamu, aku langsung tahu bahwa Mas Dharta adalah satu dari sekian banyak orang yang ditelepon Bu Erwin tadi. Pengacara sekaligus kerabat jauh mantan suamiku ini adalah pengacara yang mengurusi perceraian kami. Berkatnya, perceraian ini berjalan dengan baik, kata orang. Kami tidak banyak bertengkar atau memperebutkan gono-gini, apalagi anak, karena kami tidak punya. Hartaku ada, tetapi harta Mas Dharta tidak ada. Kata Bu Erwin tiga bulan lalu, saat kami bersiap menandatangani surat perceraian,
"Lebih baik begini Dik Kembang. Jadi istri pejabat memang susah-susah gampang. Kalau kamu dapat bagian dari harta Mas Dharta, takutnya kalau masmu ini kenapa-kenapa karena kasus ini, hartamu yang lain malah ikut diperkarakan," terang Bu Erwin.
Aku setuju, kendati sekarang, hartaku tetap ludes dalam artian harfiah.
"Seharusnya kamu mendengarkan aku sejak awal. Pindah saja dan jual rumah itu segera. Tapi... tetap itu semua salahku. Maafkan aku," ujar Mas Dharta.
"Kalau ayahku sampai mati..." ucapku lirih tanpa niat bicara soal ini pada awalnya. Sementara itu, mata Mas Dharta nanar menunggu kalimat lanjutan dariku. Mulutku sudah bersiap melanjutkan saat suara motor terdengar memasuki halaman rumah Bu Erwin. Tentu aku memilih bangkit untuk menuju pintu. Kali ini benar, Om Koro.
"Bagaimana ayahku, Om?"
Langkahnya besar-besar menuju kepadaku, lalu beginilah jawabnya:
"Baik, Dik Kembang. Pak Sugiri lari ke kandang ayam dan sembunyi di sana. Beliau hanya mengalami lecet dahi karena terantuk atap kandang. Sekarang ada di puskesmas. Mari, saya antar ke sana."
Tubuhku kembali hilang tenaga. Rupanya, rasa lega juga bisa menghilangkan tenaga seperti rasa duka, ya? Baiklah, karena ayah baik-baik saja. Tentu aku bisa melanjutkan kegiatan mengorek kenangan masa lalu sembari aku menuju puskesmas. Mari.
***