Regresi

Magnific Studio
Chapter #9

Horizon

Mobilku sedan Eropa keluaran lawas. Pabrik, suplayer suku cadang, sampai bengkel servicnya pun sudah hengkang dari Indonesia sejak lama. Kalau mau dijual cepat, harus dipereteli dulu. Banyak pemilik mobil semerek denganku butuh suku cadang bekas. Menjualnya dengan cara dipereteli akan lebih mudah karena bagian-bagiannya bisa dibeli oleh rupa-rupa orang yang membutuhkan. Sebelum insiden demo klalpot motor dua tak, aku sudah membawanya ke bengkel. Kalau-kalau ada yang membutuhkan bagian darinya, orang bengkel bisa langsung mengeksekusi mobilku. Tentu saja sembari terus kuiklankan secara daring.

Mobil itu kubeli sebagai hadiah ulang tahunku yang ketiga puluh, setelah lima tahun menjadi dosen muda. Harganya tiga puluh delapan juta. Tiga bulan sekali, mobil itu rutin mogok. Sampai tahun ini aku tak tahan lagi dan berakhirlah ia kutaruh di bengkel untuk dipreteli saja. Setidaknya. Ia tidak ikut terpanggang bersama rumahku kemarin. Keputusanku tepat. Sudah benar. Bagus.

Tujuan pertama sebelum aku membawa pergi ayah adalah bengkel tersebut. Masih ada bagian-bagian yang belum laku. Tidak masalah. Yang penting aku bisa dapat tambahan uang saku. Sebab perjalananku ini akan panjang dan melelahkan. Aku butuh tabungan sebanyak-banyaknya. Persoalan rumah yang sudah ludes, paling tidak aku masih bisa menjual tanahnya kelak, kalau situasi sudah membaik. Membaik? Semoga.

Dari bengkel, tujuanku selanjutnya adalah kampus. Ada dokumen dan barang-barang yang harus kuambil. Juga, aku mau menyerahkan surat pengunduran diri secara langsung. Bu Alice sudah menjelaskan panjang lebar bagaimana situasi di fakultas kami. Mahasiswaku yang kemarin tergabung dalam demo besar-besaran menuntut pembatalan berbagai kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, hari ini berbalik mendemo aku. Mereka menuntut tanggung jawab moral atas kasus korupsi dana desa yang menjerat mantan suamiku. Aku dapat banyak sekali pesan ancaman, makian, ungkapan kekecewaan, sampai dukungan. Semua tidak kubalas. Bagaimana cara membalas mereka satu per satu, sedang aku sendiri begini rupa keadaannya?

Sekarang aku tertahan di parkiran kampus. Supir taksi online gelisah tak menentu karena aku tidak kunjung keluar dari mobilnya. Ia baru tenang ketika kukatakan bahwa ongkos perjalanan kali itu akan kulipatkan sampai tiga kali. Kuamati sekitar area parkiran. Suasananya biasa saja, malah cenderung lebih sepi dari hari biasanya. Tapi kata Bu Alice, lebih baik aku menunggu di sini saja. Nanti akan ada orang yang datang untuk menyerahkan barang sekaligus mengambil surat pengunduran diriku. Ah, jadi begini rasanya didemo? Repot, sih, tetapi tetap, masih repot menjadi pendemo. Begini-begini, aku juga pernah menjadi kembang aktifis saat kuliah dulu.

Kaca mobil diketuk setelah setengah jam aku menunggu. Itu Pipit, staf administrasi jurusan. Ia langsung memasukan satu kardus berisi barang-barang yang sudah kupesankan untuk dimasukan ke sana. Tidak semua bisa kubawa, termasuk puluhan buku-buku di rak belakang meja kerja. Kelak, kalau situasi sudah membaik, barangkali aku bisa mendapatkan mereka kembali. Kelak? Semoga. Senyum Pipit mengembang sedikit begitu melihatku yang duduk di kursi belakang.

“Masuk dulu, Pit. Aku mau bicara,” pintaku kepadanya.

Ia menurut, lalu masuk dan duduk di sampingku. “Anda baik-baik saja, Bu?”

Aku hanya mengangguk karena malas berbasa-basi dengan mengatakan ‘ya, aku baik-baik saja’.

“Bagaimana keadaan di jurusan kita? Kacau sekali, ya?”

Pipit mengeluarkan handphonenya. Ia menunjukkan deretan foto-foto. Dari sana, aku bisa membaca banyak poster tuntutan yang ditulis menggunakan spidol oleh para mahasiswa. Aku akan sebutkan tiga diantaranya: pertama, pecat dosen koruptor! Kedua, Maling teriak maling biar tidak disangka maling! Ketiga, sepandai-pandainya Kembang Mayit menebar wewangian, bau busuknya akan menyeruak juga!

“Sudah pit,” ujarku, “sudah cukup.”

Aku kemudian mengeluarkan dua amplop dari dalam tas. Satu untuk diserahkan kepada ketua jurusan –berisi surat pengunduran diri. Satu lagi surat yang kutulis dadakan di dalam taksi online selama perjalanan dari rumah Bu Erwin menuju ke kampus tadi. “Kamu tahu Timoteus?” tanyaku pada Pipit sembari menyerahkan surat itu.

Pipit mengangkat alisnya, berusaha mengingat. Aku menimpali lagi, “Uri. Timoteus Uri. Ketua BEM yang baru dilantik,” terangku lebih jelas.

Ia baru paham. “Uri! Ya, saya tahu, Bu,” jawabnya. “Ini untuk dia?”

“Betul. Kalau bisa, kasihkan diam-diam, ya, mengingat situasi jurusan kita yang kurang kondusif.”

“Baik, Ibu. Nanti saya serahkan langsung kepada yang bersangkutan.”

Lihat selengkapnya