Biaya kabur, eh, maksudku biaya perjalanan pulang ke Kalimati ini mahal juga. Biasanya aku membeli tiket jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, itu saja masih terasa mahal, jadi apa yang kuharapkan dari perjalanan mendadak ini? Lucunya, perasaan ini muncul sesaat sebelum pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Dengan biaya semahal itu, rasanya rugi ketika perjalanan hanya memakan satu setengah jam saja. Belum lagi kalau aku perbandingkan dengan biaya perjalanan ke Singapura, Malaysia, bahkan ke Thailand sekalipun, biaya perjalanan antar kota ini sungguh membuatku geleng-geleng. Tapi kalau perjalanannya lama, rasanya tambah rugi juga, karena aku naik pesawat supaya cepat sampai. Ah! Memang repot, ya. Bagaimana kalau sampai tidak mampu lagi kubeli tiket-tiket itu? Kalau naik bus, perjalanan akan memakan waktu berhari-hari! Dan banyak orang tidak bisa memilih selain terpaksa menempuh berhari-hari itu karena mereka memang tidak pernah mampu untuk membeli tiket pesawat di dalam hidupnya. Ah! Repot!
“Kalau repot, kita bisa naik ojek saja,” usul Ayah saat aku mencoba menelepon Kak Tin. Kakak keduaku yang pemberani itu menjadi satu-satunya kakakku yang menetap di Kalimati. Aku sepenuhnya memahami keputusannya, sebab aku paham betul arti cerita-ceritanya tentang betapa ia menyukai ketenangan dinihari pukul tiga di Kalimati.
Sesaat setelah aku mendapatkan tiket pesawat tadi, aku langsung menghubungi Kak Tin kalau aku dan ayah akan berkunjung ke Kalimati. Ia terkejut, tetapi hanya sebentar, lalu terkejut lagi ketika kukatakan soal kemungkinan ayah terkena dimensia. Kami pun setuju untuk memeriksakan ayah ke rumah sakit dulu sebelum menuju Kalimati nanti.
“Kakakmu pasti sedang repot makannya tidak menjawab telepon,“ ucap ayah lagi. Ia nampak gelisah.
“Sinyal di sana kan jelek. Jangan buru-buru bilang repot. Sabar...” responsku agak ketus. Sepertinya aku mulai mudah kesal karena lelah. Dan mungkin juga karena sempat memikirkan biaya perjalanan mahal tadi. Kulirik wajah ayah, ia tampak lelah juga. Dengan cepat rasa sesalku berubah menjadi sesal.
“Ayah mau makan apa? Atau mau Kembang belikan minuman rasa-rasa?”
Ia menggeleng. Sekelebat, aku melihat ayah seperti ayah yang di puskesmas kemarin. Ayah yang berubah menjadi anak kecil. Duh, kalau ia kambuh sekarang, bisa gawat. Kuhubungi lagi Kak Tin, berulang kali hingga ia akhirnya menjawab, “Kak? Sudah sampai mana?” tanyaku tanpa basa-basi lagi.
“Aku sudah melihat kalian, tunggu,” jawabnya singkat lalu panggilan itu terputus.
Aku celingak-celinguk sebentar sampai kulihat sosok Kak Tin berjalan cepat menuju tempatku berdiri. Tiga tahun kami tidak bertemu. Kali terakhir pertemuan kami adalah di hari pernikahanku. Ia, kakak ipar dan kedua anak lelakinya datang ke pernikahanku di Yogyakarta. Tiga bulan sebelum itu, kami bertemu di pemakaman ibu.
“Ini saja barang-barangnya? Tidak ada koper?” ia lalu menatap ayah, “Ayah bagaimana? Baik-baik saja?”