“Kupikir bisa dilakukan sehari saja,” gumam Kak Tin.
Rangkaian tes yang harus dijalani ayah dijabarkan dengan rinci oleh dokter spesialis saraf. Sama seperti reaksi Kak Tin, aku juga mengira bahwa pemeriksaan ini bisa selesai dalam waktu satu hari, tetapi nyatanya tidak begitu.
“Apa bisa diusahakan lebih cepat dari dua minggu?” Aku berusaha menego.
Ia menggeleng. “Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa. Hari ini, kita bisa mulai dengan tes kognitif dan memori singkat terlebih dahulu. Untuk tes darah dan MRI, Anda memang harus menunggu untuk mendapatkan hasilnya,” terangnya.
Aku dan Kak Tin saling tatap, sedangkan ayah yang duduk di antara kami akhirnya angkat bicara. “Penyakitku ini penyakit tua. Mau diobati sebanyak apa pun, tetap akan mati juga,” ujarnya santai.
“Ayah!” aku dan Kak Tin serentak membentaknya. “Jangan bicara begitu,” lanjut Kak Tin.
Kendati malas-malasan, ayah bukannya tidak mau diperiksa. Sesuai anjuran, sekarang ia akan menjalani tes kognitif dan tes memori singkat. Kami mengawasinya dengan perasaan waswas saat beberapa kali ayah terbata-bata ketika menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari dokter. Ingatannya tampak meloncat-loncat tak beraturan. Apa yang terjadi kemarin, justru diingat sebagai kejadian tiga puluh tahun yang lalu. Begitu juga sebaliknya. Ayah justru banyak mengingat memori jangka panjang daripada yang baru-baru terjadi. Bahkan, ia sudah lupa kalau rumahku kebakaran dan jidatnya kena hantam kayu kandang ayam.
Setelah pemeriksaan selesai, kami sudah dalam posisi siap untuk mendengarkan penjelasan dokter lagi. Sesuai dugaan. Ayah memang mengalami gejala demensia. Dokter juga bertanya apakah ayah melakukan tindakan agresif akhir-akhir ini? Memang, ya, ayah kemarin marah-marah tanpa sebab. Selama ia diperiksa, aku juga menelepon Kak Nir untuk menanyakan apakah ia pernah menemukan ayah yang aneh ketika tinggal bersama mereka.
“Lho, iya. Tapi bukannya wajar kalau orang tua berperilaku seperti anak kecil lagi?” tanya Kak Nir.
“Mmm...” aku agak bingung menjawabnya, “Wajar, sih, tetapi tidak wajar juga.”
“Lho, piye? Jadi apa kata dokternya? Wajar atau tidak? Itu penyakit atau karena sudah tua?”
“Mmm... penyakit karena usia tua.”
“Kalau diobati, memangnya bisa sembuh? Seperti apa sembuhnya? Jadi muda lagi?”
Agak lucu mendengar pertanyaan-pertanyaan Kak Nir, tetapi sebisa mungkin aku tidak tertawa. Rasanya kurang etis tertawa-tawa di ruang dokter. Apalagi, ayah sedang diperiksa dan begini-begini, aku sedang ditimpa banyak kemalangan. Tertawa di tengah kondisi ini hanya akan membuatku serupa manusia edan.