Tengah malam, kami sampai di rumah Kak Tin. Karena jalanan begitu gelap, ‘mata tak kasat mata’ jarang muncul untuk membawaku ke masa lalu. Aku hanya ingat soal menahan lapar tadi, selebihnya ya, selain lapar, perjalanan ini penuh dengan rasa dingin, kantuk, dan tentu saja ngeri.
Zainal dan Anjar tidak langsung pulang. Kami semua makan bersama terlebih dahulu. Keponakanku atau anak sulung Kak Tin lah yang menyiapkan makanan selama kami masih berada di perjalanan. Aneh juga, pikirku yang sudah sekian lama tidak menyaksikan anak usia sepuluh tahun memasak begini rupa. Ada ikan baung sebagai lauk utama dan sayur pucuk daun labu. Dan juga ada menu utama lain yang nyaris selalu ada di Kalimati, yakni sambal tempoyak super pedas. Kalau tidak ingat ada perut lain, sudah kusikat semua makanan di hadapanku.
“Baung ini hasil mancing sendiri dan labunya juga Alexander yang menanam,” ungkap kakak iparku bangga.
Nama lengkap anak sulung Kak Tin adalah Alexander Agung. Itu memang terkesan kontras dengan daerah pegunungan Sumatera yang dipenuhi dengan nama-nama Melayu seperti Mustofa, Ismail, dan Sulaiman. Tetapi jangan sinis dulu, sebab semuanya hanya persoalan preferensi saja. Lagipula, nama itu muncul sudah dengan pertimbangan penuh dari seluruh anggota keluarga, termasuk aku. Kami juga sepakat untuk memanggilnya Alexander alih-alih Agung, meski Agung terdengar lebih akrab di telinga. Kebetulan, ada Agung di Kalimati yang tumbuh menjadi anak berandal luar biasa. Ia suka mengusili anjing milik orang-orang Ogan dengan cara melempari mereka mercon banting. Kerjaannya marah-marah melulu alias sensi tingkat tinggi. Kalau sedang menangis, ia tidak akan berhenti sampai dipecut ibunya. Itu pecut yang sering dipakai ayahnya jaranan. Orang-orang di dusun kami menyebutnya pecut amarasuli. Agung bandel ini, perlu tiga kali dipecut baru berhenti menangis. Ah, pokoknya kami tidak mau Alexander Agung menjadi seperti Agung yang itu.
Kami ingin ia menjadi anak yang lembut hati sekaligus kuat, sekuat Alexander Agung yang oleh ibunya, Ratu Olympias, diharapkan menjadi seorang penakluk legendaris, pelindung umat manusia, dan manusia setengah dewa yang ditakdirkan menguasai dunia. Tentu saja Alexander Agung kami tidak perlu sampai menaklukkan dunia, apalagi menjadi manusia setengah dewa. Karena itu hanya mungkin terjadi ketika dunia masih dipenuhi dengan keajaiban-keajaiban. Bukan dunia yang sekarang.
Dan rasa-rasanya, harapan kami tidak meleset. Alexander Agung kami tumbuh menjadi anak berbudi baik, pemberani, lagi penyayang. Buktinya, malam ini aku dibuatnya kenyang oleh rupa-rupa makanan enak yang ia buat sendiri.
Lepas kenyang, aku mengantuk dan langsung tidur tanpa mandi terlebih dahulu. Sebab kami, orang gunung, kalau mandi harus di kali. Repot.
Rasanya aku baru saja terlelap ketika tiba-tiba telingaku mendengar suara langkah kaki mendekat. Lantai rumah panggung ini terbuat dari papan, sehingga mudah mendeteksi gerakan yang demikian. Bagian paha dan pundakku kemudian direngkuh. Spontan aku memberontak lalu bangkit. Di hadapanku, ayah berkata dengan posisi tubuh yang terjengkang, “Dingin, Wani. Jangan tidur di luar.”
“Ayah kenapa, sih!” bentakku. “Bikin kaget saja.”
Aku melihat sekeliling. Hari sudah tidak lagi gelap dan ada asap dari arah dapur. Di atas pintu masuk ruang tamu, sekaligus ruang makan, sekaligus tempat tidurku itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Saat pandanganku kembali kepada ayah, kulihat sorot matanya berbeda. Ayah kumat lagi. Ia berubah menjadi ayah yang dulu sekali–ketika ia sering membopongku masuk ke kamar karena ketiduran di sembarang tempat.
Kak Tin memberinya obat penenang yang diberikan dokter kemarin. Ayah kembali menjadi ayah yang sekarang setelah sarapan. Sungguh aneh penyakit demensia ini. Kalau bisa memilih, aku tidak ingin sampai di usia ketika demensia bisa mengambil alih pikiranku, seperti cacing-cacing parasit otak yang bisa mengubah tingkah laku manusia menjadi zombi.
“Bagaimana kabar Dharta?” tanya Kak Tin memulai obrolan.
Aku menumpuk piring-piring kotor menjadi satu, membereskan gelas menjadi satu jajar, baru kemudian menjawab, “Begitulah.”
Kakak ipar pamit pergi ke ladang. Alexander Agung sudah berangkat ke sekolah sebelum aku bangun, sedangkan anak kedua dan ketiga Kak Tin yang masih balita, terus-menerus menatapku selama sarapan berlangsung. Mungkin mereka kangen kepadaku, tetapi takut untuk mendekat. Karena aku masih lelah, biarlah dulu. Aku akan bermain bersama mereka nanti.
“Rumahnya sudah habis,” timpal ayah.
Kak Tin sudah tahu perkara itu karena aku sudah menceritakannya kemarin. Aku pun memulai cerita yang belum ia ketahui saja. Maksudku, yang belum ia ketahui dari mulutku sendiri, tetapi desas-desusnya tentu sudah ia dengar dari ayah atau dari kakak-kakakku yang lain.
“Aku dituduh tahu dan menikmati hasil korupsi Mas Dharta.”
“Kamu tidak melawan saat dipecat? Kalau didemo ya sudahlah, susah juga melawan banyak orang. Tapi–”
“Aku tidak dipecat,” ujarku memotong kalimat Kak Tin. “Maksudku, kampus memang akan menyuruhku berhenti untuk sementara, tetapi aku tidak dipecat.”
“Ayah bilang kamu dipecat,” kata Kak Tin sembari melirik ayah.