Regresi

Magnific Studio
Chapter #13

Kita Mulai dari Nol

Kulihat Ayah sudah selesai mandi ketika aku sampai di sungai. Tidak ada orang lain di sana. Kalau menurut standar orang gunung, mandiku ini kesiangan. Orang-orang akan meramaikan sungai lagi nanti, kira-kira pukul empat sore. Pukul dua belas siang, mungkin akan ada satu-dua orang yang datang untuk sekadar mendinginkan tubuh alias mandi kilat di tengah aktivitas meladang. Tetapi pukul sembilan begini, sungai sedang sepi-sepinya.

Ayah mengelus kepala kedua cucunya secara bergantian. “Mau menjaga Bibi mandi, ya?”

Mereka mengangguk.

Ayah pulang lebih dulu setelah berkata kepadaku agar berhati-hati karena arus sedang deras. Wajahnya tampak lesu. Tidurnya mungkin tidak nyenyak malam tadi. Atau tumpang-tindih dan timbul-tenggelamnya ingatan di kepalanya sungguh menguras tenaga? Fisiknya masih sehat, tetapi jiwanya seolah sudah terlampau lelah.

“Ayo, Bibi! Tidak dingin, kok!” Kudengar King dan Kaisar mengikik senang. Pandanganku beralih dari punggung Ayah yang sedang berjalan pergi, kepada kaki keponakan-keponakanku yang setengahnya sudah masuk ke sungai.

Nyes. Dingin menjalari tubuhku sampai ubun-ubun ketika aku menceburkan diri. Secepat kilat, mata tak kasat mata datang akibat rasa yang begitu familier ini. Pikiranku dibawanya kepada rasa yang sama, tetapi masa dan lokasinya berbeda. Itu... adalah rasa dingin yang berasal dari air mbelik tempat kami biasa mandi di Bengkulu, puluhan tahun lalu.

***

Tubuhku penuh tahi. Kak Tin bilang itu lumpur, tetapi tetap saja, meski sudah berubah menjadi lumpur, ada banyak kandungan tahinya, termasuk tahiku sendiri. Kejadiannya sore hari. Aku tercebur ke dalam kolam lele yang sedang ku-ee-i karena terus-terusan rewel tidak mau ditinggal buang hajat sendiri. Kak Tin meraih rambutku yang untungnya masih bisa digapai dari permukaan. Setelah berhasil menarikku kembali ke darat, diseretnya aku menuju mbelik yang tidak jauh dari kolam lele milik Pak Marzuki. Diguyurnya aku dengan berember-ember air bersih. Napasku kegelapan. Setelahnya, aku menangis kencang.

“Pakai sabun sendiri!” bentak Kak Tin.

Aku tidak mau. Tangisku malah semakin menjadi. Mulai kupanggil-panggil nama Ibu, sesekali nama Ayah juga. “Mereka tidak akan pulang, tahu! Kalau kau tidak mau mandi dan pakai sabun sendiri, aku...” Kak Tin meletakkan satu kakinya ke dalam mbelik, “akan masuk dan menenggelamkan diri!” ancamnya.

Tangisku berhenti seketika. Kuambil sabun dan mulai mengolesi tubuh dengan sabun batang yang juga digunakan untuk mencuci baju, mencuci piring, dan mencuci sandal itu. Napasku tersengal-sengal menahan tangis sampai prosesi bersabun selesai. Kak Tin kemudian mengguyurku lagi, berkali-kali. Barulah setelah itu, ia mau menyentuhku. Ia handuki tubuh dan rambutku. Ia mencuci bajuku sementara aku berdiri dengan memakai handuk saja di pinggiran mbelik. Nada suaranya sudah rendah ketika ia berkata,

Lihat selengkapnya