Integritas pemenuhan janji Om Koro ternyata di luar ekspektasiku. Sayangnya, itu membuat aku kewalahan dan semakin penasaran. Apa sebetulnya yang ia incar? Aku? Aih, muncul lagi penyakit kembang suweg pada diriku. Penyakit di mana aku merasa cantik, merasa dipilih dan merasa diprioritaskan, tetapi nyatanya bacin juga.
Kalimat pertama yang aku lontarkan begitu melihatnya pun mendadak aneh.“Untung kamu tidak kena begal, Om!”
Seharusnya aku bertanya soal kabar, soal perjalanannya oke atau tidak, atau setidak-tidaknya ucapkan terima kasih karena ia sudah jauh-jauh datang ke Kalimati. Eh, aku malah berusaha melucu alih-alih mengeluarkan kalimat-kalimat itu. Karena gugup? Atau ilfil? Entahlah, pokoknya sikapku jadi aneh, tidak jelas dan menggelikan.
Sesuai janjinya, Om Koro tiba di Kalimati tiga hari setelah aku sampai. Ia membawakan barang-barang berhargaku yang masih tersisa dari amukan massa, termasuk buku-buku, yang sebagian sampul dan pinggirannya sudah geripis dicicip api. Selain itu, ia juga membawa buah kelengkeng satu keranjang, satu kardus biskuit kelapa, tiga lusin minuman rasa-rasa bersoda, dua kilo anggur hijau, dan empat buah naga berkulit kuning berdaging putih.
“Oleh-oleh,” katanya. “Dik Kembang kan suka buah-buahan,” lanjutnya tanpa ditanya siapa-siapa.
Baru tiga hari kami tidak bertatap muka, tetapi gelagatnya serta semua oleh-oleh yang ia bawa menyiratkan sebaliknya. Orang bisa berpikir bahwa pertemuan terakhir kami terjadi tiga tahun lalu. Kalau ia sudah begini, maka repot untukku. Apa yang kira-kira ia inginkan sebagai balasannya? Aku jadi menebak-nebak ala Kembang Suweg lagi.
Setelah segala basa-basi dan ramah tamah selesai, aku memilih mengajaknya ke rumah kedondong agar kami bisa bicara dengan lebih fokus. Ayah terus-menerus menyahut dan menyela pembicaraan kami. Sebetulnya tidak masalah, kadang-kadang aku butuh pendapatnya juga, tetapi lama-lama, bicara Ayah meracau. Mungkin agak kambuh karena stres mendengar berita-berita terbaru dari Om Koro. Belum lagi keponakan-keponakanku yang tiap lima menit bertanya,
“Boleh makan ini tidak, Bi? Makan itu? Minum ini sambil makan itu, apa boleh? Apa bisa keracunan? Kalau yang ini? Yang itu?” Sementara mata mereka terus menatap kaleng minuman rasa-rasa bersoda, biskuit kelapa dan rupa-rupa buah.
Intinya, hanya Kak Tin dan iparku yang peka, bahwa aku dan Om Koro butuh ruang untuk bicara serius. Dan di sinilah kami sekarang, duduk di halaman rumah kedondong yang rumputnya sudah kupangkasi kemarin. Jalan setapak sudah tidak membelukar. Papan yang bolong, yang reyot dan yang lapuk dimakan rayap sudah diganti oleh Kakak Ipar dan Ayah. Kolongnya sudah diisi dengan kayu bakar, dapurnya juga sudah dilengkapi dengan perkakas hasil pinjam dari dapur Kak Tin. Rumah kedondong sudah siap huni, kalau tidak ada halangan, besok aku dan Ayah mulai tidur di sini.
Sebelum kami duduk di hamparan rumput jepang ini, aku mengajaknya berkeliling dan melihat bagian dalam rumah. Suasana, entah mengapa, berubah kikuk dan menggelikan sesaat setelah kami duduk. Awalnya berjejer, tetapi spontan, aku menghadap langsung kepadanya. Kupikir posisi berhadapan lebih luwes kalau kami hendak berdiskusi. Sedang berjejer, rasanya seperti sedang.... ah, sudahlah.
“Sampai mana tadi obrolan kita, Om?” tanyaku memilih langsung membahas topik utama.
Om Koro menghela napas, diam sebentar, baru menjawab, “Soal siapa yang menjadi provokator pembakaran rumahmu.”
Dalam setiap aksi massa, keberadaan provokator pasti ada. Aku sama sekali tidak terkejut karena aku sendiri sering dicap demikian saat menjadi aktivis. Maksudku, aku adalah provokator yang bertugas membikin teman-teman yang lemah hasrat protesnya menjadi berkobar-kobar. Peran provokator dalam kasusku sebagai aktivis dan peran si provokator dalam kasusku sebagai objek demo kemarin memang sama-sama melibatkan api, tetapi jelas berbeda secara harfiah. Apiku mengobarkan semangat perlawanan, sedang api provokator kemarin mengobarkan api yang sungguh-sungguh api. Api yang api saja, yang biasa membikin mateng rupa-rupa makanan.
“Kupikir, sejak awal memang ada yang ingin rumahku jadi abu.”
“Bukan rumahmu, tetapi kamu,” ujar Om Koro.
Nah. Aku terkejut, tetapi tidak juga. Bagaimana menjelaskannya, ya? Pokoknya terkejutku ini adalah terkejut yang biasa saja. “Menurut Om, siapa?”
“Sedang aku cari tahu,” jawabnya. “Keputusanmu sudah tepat kembali ke sini untuk sementara. Di sana tidak aman.”
Aku ingin menyangkal kata ‘sementara’. Tapi karena ragu dan merasa tidak perlu, aku urung melakukannya. Sebab menjelaskan persoalan aku mau tinggal di mana dan mau menjadi seperti apa, terasa amat personal. Dan Om Koro berada di ring luar personalku.