Lahirnya sekolah swadaya pada tahun 1999 itu tidak serta-merta membikin anak-anak bisa sekolah meski mereka ingin. Daripada perempuan, justru banyak anak laki-laki yang dilarang untuk melakukannya. Tenaga anak laki-laki diperlukan di kebun. Mubazir kalau waktu berharga itu harus dikurangi untuk pergi ke sekolah. Begitu pikiran separuh orang tua di Kalimati.
Pada hari pertama sekaligus hari pembukaan sekolah, aku berangkat bersama Nene, Meli, Emi, dan Marimar. Nah, perempuan semua kan? Memang begitulah realitasnya. Kurasa, Ibu kita Kartini pun akan bimbang kalau menyaksikan fenomena pendidikan di dusun Kalimati. Apakah realitas tersebut patut dibanggakan oleh kaum perempuan? Atau justru membingungkan? Sebab di kala banyak perempuan kesulitan pergi ke sekolah karena dianggap tidak penting bagi perempuan untuk melakukannya, di Kalimati, kami justru disuruh pergi sekolah karena tenaga kami tidak diperlukan di ladang. Kecuali saat musim panen jali-jali, tugas kami sepanjang tahun adalah memasak di rumah. Pagi hari, kami memasak untuk sarapan dan untuk bekal ayah-ibu yang hendak pergi ke ladang. Sore hari kami memasak untuk makan malam.
Bisa dilihat bahwa ada waktu luang di antara waktu tersebut. Sebelum sekolah dibangun, biasanya kami habiskan untuk mencari sayur pakis, menanam bawang-bawangan dan apotek hidup di pekarangan sekitar rumah, berburu remis di kali untuk sup, dan paling banter memasang bubu serta memunguti durian untuk dibikin tempoyak. Setelah sekolah dibangun, kami pergi ke sekolah setelah membuat sarapan dan tetap melakukan semua yang kusebut di atas saat kami dalam perjalanan pulang.
Aku dan Emi berusia enam tahun, Nene sembilan tahun, sedangkan Meli dan Marimar baru berusia lima tahun ketika kami menjadi murid sekolah dasar pertama dari dusun Kalimati. Jarak dari rumah ke sekolah kira-kira sepuluh kilometer. Kami melewati sungai, menaiki dan menuruni tiga bukit, serta melewati tiga kampung lain. Satu kampung di antaranya memiliki reputasi buruk. Orang bilang, mereka keturunan suku rimba asli dan membenci kami-kami yang pendatang ini. Pada hari pertama itu, kami tunggang langgang dikejar gerombolan anjing milik orang-orang rimba itu. Aku dan Nene menjadi yang paling tenang. Karena anjing-anjing itu tidak mau berhenti mengejar, Nene memutuskan berkorban demi kami. Ia berhenti untuk mengambil batu, kemudian dilemparnya batu itu kepada anjing-anjing. Upaya itu berhasil membuat mereka berhenti. Aku ikut berhenti untuk melakukan hal yang sama. Sedangkan Emi, Meli dan Marimar tetap berlari sembari menjerit-njerit tak karuan. Mereka masih menangis ketika kami sampai di sekolah. Dan bahkan masih menangis saat kami hendak pulang karena membayangkan harus melewati pemukiman orang rimba itu lagi. Pada akhirnya, kami pulang dengan dikawal oleh Pak Ketip, guru agama kami yang baik hati.
Esoknya, mereka bertiga mogok sekolah. Hanya tinggal aku dan Nene yang dikejar-kejar anjing. Saat pulang, Pak Ketip menunjukkan jalan alternatif. Kami harus menyeberangi sungai dua kali, tetapi itu jauh lebih baik. Apalagi, sungai itu ditumbuhi banyak sekali pakis di pinggirannya. Pada hari ketiga, kami memutuskan berangkat lewat jalur alternatif itu. Emi, Meli dan Marimar turut serta setelah kami bujuk sedemikian rupa. Dan kami menamai jalur tersebut dengan nama ‘Jalan Pak Ketip’.
Lambat laun, sekolah mulai terisi penuh. Murid-murid berdatangan setelah mendengar testimoni langsung dari mulut anak-anak yang terlebih dahulu masuk. Testimoni paling moncer tentu saja datang dari mulutku dan Nene. Kami senantiasa mengatakan bahwa sekolah sangat menyenangkan, apalagi ada Pak Ketip yang baik hati, dermawan, lagi menyenangkan. Ia memakai jas model lawas dengan deretan kancing di bagian depan. Pakaian itu berwarna hitam dan nyaris serupa dengan pakaian liturgi dasar yang umum dipakai dalam tradisi Katolik dan Ortodoks. Kalau tidak memakai peci hitam, daripada guru agama Islam, ia justru mirip seperti seorang pendeta.
Selain Pak Ketip, ada dua orang guru lagi. Mereka adalah Pak Mustofa dan Bu Mardiah, sepasang suami istri yang menggagas pembangunan sekolah dasar itu. Berbanding terbalik dengan citra baik Pak Ketip, kedua guru ini sungguh mengerikan di mata anak-anak. Baru setelah aku beranjak dewasa, aku mengerti bahwa kengerian tersebut merupakan wujud palsu dari kedisiplinan. Artinya, mereka mendidik kami dengan disiplin yang kuat, sampai-sampai kami yang masih anak-anak salah mengira bahwa disiplin itu sama dengan penyiksaan yang mengerikan. Bagaimana tidak? Beberapa anak laki-laki yang pada akhirnya diperbolehkan sekolah oleh orang tua mereka, sering kena gesper Pak Mustofa sampai pelipis mereka berdarah-darah.
“Kalau dia melakukannya hari ini, gurumu itu sudah masuk penjara,” ucap Dharta berpendapat pada satu dari sekian puluh kali sesi mengenang masa lalu.
Memang betul. Tetapi kalau kubilang bahwa anak-anak yang berdarah pelipisnya itu adalah anak-anak yang kalau berkelahi membawa parang untuk menebas leher lawannya dan kalau marah bisa membakar sekolah sewaktu-waktu, apakah Pak Mustofa masih pantas masuk penjara? Lagipula, setelah itu, justru lebih banyak orang tua yang mau memasukkan anaknya ke sekolah. Sebab muntab saja tidak cukup untuk mendisiplinkan kenakalan macam itu. Harus ada tokoh, harus ada aksi. Dan aksi nyaris selalu menimbulkan reaksi. Keras pada mulanya, tetapi disiplin pada akhirnya.