Regresi

Magnific Studio
Chapter #16

Gadis-Gadis Kalimati

Aneh. Dibandingkan ingatan bagaimana aku menjalani hari-hari di sekolah menengah pertama, aku lebih ingat soal apa yang aku pelajari selama itu dan bagaimana perjalananku ke sekolah. Karena lebih banyak ilmu–sebut saja begitu meski terdengar klise–tersebar di jalanan yang aku lewati setiap hari selama tiga tahun itu. Aku, kecuali ketika masa panen kopi dan jali-jali datang bersamaan, nyaris tidak pernah absen masuk kelas. Sebetulnya agak geli juga kalau cerita soal kerajinan dan ketekunanku ini harus kuceritakan sendiri. Tapi sayangnya, memang hanya aku yang bisa melakukannya karena aku satu-satunya saksi mata kredibel dalam hidupku, kan?

Di jalan yang amat panjang menuju sekolah, pun saat pulang sekolah, tak terhitung berapa banyak hal yang aku renungkan, bayangkan, dan simulasikan di dalam benak. Jarang sebetulnya bagi anak remaja melakukan hal semacam itu, tapi begitu banyak waktu yang aku miliki hingga aku sampai pada titik semua hal terasa harus dibahas atau didialogkan dengan diri sendiri. Nene. Tentang bagaimana karibku hidup, merupakan persoalan paling sering yang muncul di kepalaku. Selama aku menjalani kehidupan sekolah, ia sudah menjalani kehidupan yang sebenar-benarnya sebagai seorang perempuan. Bayi tidak pernah tidak keluar dari rahimnya setiap tahun. Dengar-dengar dari ibu, Nene sering terlihat di pasar kabupaten.

“Pancen cantik ya tetap cantik,” komentar Ibu.

Ajaib memang. Kecantikan yang melekati Nene seolah tak mau lepas meski yang dilekati sudah beranak sejak usia belasan tahun. Seolah kecantikan itu sendiri merasa rendah diri di haribaan seorang wanita bernama Nene. Ia tidak lagi tinggal di Kalimati setelah menikah. Baru setelah suaminya jatuh dari pohon jengkol, Nene memboyong keluarganya kembali ke Kalimati, seolah dusun ini memang tempat segala kemalangan, kesedihan, dan miseri bisa menghilang.

Posisi kedua yang paling banyak kurenungkan ialah tentang keluargaku sendiri. Ayah-Ibu mulai ‘bangkit lagi’. Sementara itu, Kak Tin yang pemberani sempat terpuruk saat baru tiba dari pelariannya meninggalkan Jakarta. Aku lupa berapa lama tepatnya keterpurukan merantai kakak keduaku itu. Yang aku ingat dengan jelas adalah bagaimana sorot mata Kak Tin saat itu memancarkan ketakutan yang mustahil keluar dari mata seorang anak yang mencintai dini hari pukul tiga-nya hutan belantara. Kusebut ia memiliki penyakit takut karena kalau aku, Kak Nir, dan Kak Nur yang takut, itu sudah biasa, bukan merupakan penyakit. Tapi bagi Kak Tin, jelas ketakutan merupakan sebuah penyakit. Kabar baiknya, penyakit tersebut bisa disembuhkan secara total. Entah kapan tepatnya, tahu-tahu, Kak Tin sudah sembuh. Ia sudah mau keluar rumah untuk mencari pakis dan mencari kerang remis di kali, sudah mau mencabuti pucuk-pucuk rumput Jepang di halaman kami yang mulai meninggi dan yang paling penting, dan ia sudah berani menceritakan apa yang sebenarnya ia alami di Jakarta. Kekerasan.

Lihat selengkapnya