Bertemu Nene, merawat ayah demensia, mengasuh keponakan, dan merencanakan pembukaan ladang jali-jali merupakan kegiatan rutinku di Kalimati. Rumahku–atas bantuan suami Nene yang agak sedikit lebih kaya dari warga lain di dusun ini–pun sudah dipasang panel surya. Meski biaya awal yang harus kukeluarkan cukup mahal, tetapi hasilnya sebanding. Paling tidak, aku tidak perlu berurusan dengan Perusahaan Listrik Negara lagi. sangat solutif dan mengasikkan, bukan?
Nene tersenyum tipis saat aku tegaskan bahwa aku akan tinggal di Kalimati. Aku ingin merawat ayah yang memang ingin mati di tanah kelahirannya. Dan aku ingin menebus penyesalan atas kematian ibu yang tidak sempat kurawat dengan tanganku sendiri saat ia sakit.
“Ibumu tidak sakit,” sangkal Nene, “ia memilih jalan terbaik untuk pergi. Cepat dan tidak merasakan sakit,” lanjutnya.
“Darimana kau tahu ibu tidak sakit? Apalagi, ia percaya bahwa rasa sakit akibat dicabut nyawanya itu sebanding dengan ditebas menggunakan seribu pedang.”
Nene menyipitkan mata. “Begitu kah?”
“Ya itu sih menurut kepercayaannya. Artinya, sepanjang hidupnya, mungkin ia sudah mempersiapkan diri untuk merasakan tebasan seribu pedang itu. Nah, persiapan itu sendiri, menurutku, jauh lebih sakit. Bayangkan kau masih hidup, tetapi setiap hari bersiap untuk ditebas menggunakan seribu pedang.”
“Benar juga...” suara Nene lebih terdengar seperti gumaman.
Namun, dibandingkan cara ibu mengakhiri masa tuanya, kurasa apa yang dialami ayah jauh lebih menyakitkan. Kondisinya kini makin rumit. Hasil tes keseluruhan atas penyakitnya sudah aku terima. Pokoknya, demensianya tidak bisa lagi dicegah. Keluarga, terutama aku yang merawat harus menyiapkan mental. Sebab merawat orang tua dengan kondisi demikian bisa bikin stres. Untungnya–tetap masih ada untung disela-sela buntung dalam filosofi Jawa–Nene juga sedang merawat Nenek mertuanya. Kondisi ayah dan nenek mertua Nene nyaris sama. Bedanya, keluarga Nene memilih cara ekstrem, yakni mengurung yang bersangkutan di dalam kamar selama dua puluh empat jam penuh.
“Atuk suamiku itu suka menggigit anak kecil,” kata Nene. “Kalau tidak dikurung, satu desa bisa kena tulah. Suamiku bilang, Atuk masih ada susuk di bibir dan dahi. Selama susuk ber-aji itu belum hilang, Atuk tidak akan mati.”
“Mengapa tidak dihilangkan?”
“Dukunnya sudah lama mati.”
“Loh?” meski tidak percaya soal begitu-begitu, aku memilih terus menanggapi Nene, sebab asik saja mengobrol dengannya. “Kalau gitu Atuk bisa hidup abadi, tuh.”
Nene menyikutku, “Hush! Bukan begitu cara kerjanya. Susuknya tetap akan hilang, tetapi butuh waktu lama. Dulu, Nyai Ole...” Nene menatapku, “Masih ingat dukun beranak itu kan?”
Aku mengangguk, “Tentu saja.”
Nene lalu menceritakan masa-masa terakhir hidup dukun bayi itu. Tubuh Nyai Ole kering kerontan mirip mumi menjelang ajal. Itu karena susuk ditubuhnya banyak sekali. Jiwanya siap mati, tetapi raganya masih terikat aji. Atuk pun akan begitu, ia akan mati setelah raganya mengering. Bulu kudukku meremang. Membayangkan Nyai Ole serupa mumi di akhir hayatnya, sungguh mengerikan. Ia memang mati di tempat tidurnya sendiri, tetapi kengerian tetap menyelubunginya hingga akhir. Untung ia mati saat aku sudah tidak tinggal di Kalimati.
Nene sempat curiga jangan-jangan ayah memiliki susuk juga karena mengalami gejala yang sama seperti Atuk–kembali menjadi anak kecil–tapi semua saudaraku membantah keras. Pun denganku. Ah, sayang ayah sudah tidak bisa ditanya lagi sehingga ia tidak bisa mengatakan dengan mulutnya sendiri kepada warga bahwa tubuhnya clear alias bersih dari aji-aji macam itu.