Regresi

Magnific Studio
Chapter #18

Merawat Ladang Jali-Jali

Om Koro kembali ke Kalimati satu bulan kemudian sejak kedatangan pertamanya. Kabar yang ia bawa kali ini lebih bermacam-macam. Katanya, rumahku sudah disita kejaksaan. Rekeningku yang telah lama kosong juga tetap dibekukan. Narasi yang beredar pun makin liar, bahwa aku, berpotensi menjadi tersangka menyusul Dharta karena diduga membawa kabur uang hasil korup secara tunai. Aih, tapi aku kan ada di Kalimati. Sila sebut namaku ribuan kali, sampai mulut-mulut itu kering sendiri. Selama mereka–yang ingin aku hancur reputasinya–tidak mengirim Petrus, aku yakin hidupku akan tentram-tentram saja di Kalimati.

Bu Erwin, berdasarkan cerita Om Koro, bahkan sedang menyusun rencana untuk melimpahkan sepenuhnya kasus ini kepadaku. Mungkin ia ingin menggiring narasi: di balik suami korup, ada istri yang tidak pernah merasa cukup. Selain itu, upayanya soal menjaga hartaku tetap utuh selama proses perceraian, rupanya untuk mempersiapkan semua ini. Setelah harta Dharta habis disita, hartaku dibuat seolah disita juga oleh kejaksaan. Nanti, prediksi Om Koro, Bu Erwin akan mengupayakan pelepasan kembali tanah dan rumah atas namaku itu, lalu dialihkan atas nama salah satu dari keluarga trah Sungging.

“Persoalan tanah adalah mainan kesukaan Kakakku, Dik. Taktiknya banyak. Dalam semalam, namamu di atas sertifikat resmi bisa berganti menjadi nama orang lain.”

“Bu Erwin mafia tanah?”

Om Koro mengangguk. “Jaringannya amat gemuk. Melawan mereka sama dengan melawan negara. Berat. Mereka punya kekuatan mengubah yang ilegal menjadi legal. Nyaris sembilan puluh persen persidangan politisi korup adalah sandiwara.”

Dharta mungkin benar soal ia yang tidak mungkin bisa melawan sistem busuk yang sudah mengakar. Ia juga benar soal keluarganya yang tidak mungkin membiarkannya hancur. Tapi tetap saja, kalau ia memang tidak korup sejak dalam pikiran, perkara sistem dan keluarga tidak akan jadi soal. Pada dasarnya ia memang anak mama. Prinsip-prinsip dan orasi-orasinya selama kami menjadi aktivis nyatanya topeng belaka. Sejak awal, ia memang ingin melanggengkan dinasti politik keluarganya di desa kami. Kadang-kadang, sambil mencangkul ladang atau saat menyemai biji jali-jali, aku mengikik sendiri, geli menyadari kalau Kembang Giriwani yang idealis ini akhirnya kena racun cinta juga. Ya, meski untungnya aku cepat sadar dan tidak ragu jadi janda, ketimbang jadi istri koruptor.

“Ah, korupsinya seorang lurah paling berapa, sih...” celetuk Bu Erwin saat itu, menjelang proses perceraian kami. Sejak itu, aku juga mulai mencurigai wanita berwajah dan bersenyum malaikat ini. Apa memang begitu, ya, wajah-wajah keluarga politisi?

Sidharta, sepanjang penyelidikanku sebagai istrinya, telah menyalahgunakan kekuasaan, memalsukan dokumen, dan tentu saja menerima suap. Jangan kira aku langsung mendukungnya ketika ia memutuskan mencalonkan diri menggantikan ayahnya yang stroke menjelang pencalonan. Saat meminta izinku, ia bersumpah–padahal aku tidak meminta–akan menjadi lurah yang dibenci kolega dan melawan sistem demi kepentingan warga. Dan sumpah yang aku tidak minta itu hanya bertahan kurang dari tiga tahun saja. Singkat, klise, dan tipical. Lihat saja mereka yang ada di kursi-kursi empuk kekuasaan saat ini, banyak wajah-wajah garang era reformasi yang mewujud babi, mewujud tikus. Rakus.

 “Sistem, Sayang... kamu juga tahu seberapa kuat sistem menjegal orang-orang lurus di pemerintahan?” Dharta menggenggam kedua tanganku dua menit sebelum kata cerai kulontarkan di akhir perdebatan kami kala itu. “Ini kesalahan sistem, bukan mauku!” bentaknya. Mungkin karena ia mendeteksi keraguan dan kebencian akut pada dua bola mata istrinya.

“Aku harus kembali menjadi Kembang.”

“Maksudmu?”

“Kembang yang dulu akan membunuhku kalau ia tahu aku serumah dengan koruptor.”

Dharta menyentak kedua tanganku dengan kasar. Jelas ia tersinggung. Tapi itu berhasil mempersingkat perdebatan kami. Dua hari ia tidak pulang. Pada hari ketiga, Bu Erwin datang mewakili keluarganya. Dan aku sama sekali tidak ditemui oleh mertuaku, pun saat aku mencoba bersikap ramah dengan mengunjungi rumah mereka untuk terakhir kali, pintu rumah itu terkunci rapat. Kata Bu Erwin lebih baik demikian daripada aku malah mendapat luka yang tidak perlu. Lepas putusan cerai disahkan, Dharta datang sendiri ke rumah kami–maksudku rumahku–untuk mengambil barang-barang yang tersisa. Saat itu, kami sudah melunak. Dharta berkali-kali terpergok menatapku. Aku tahu ia masih mencintaiku, aku tahu ia terjebak sistem dan dinasti politik kecil-kecilan keluarganya, tetapi kalau ia tidak berprinsip, rumah tangga kami akan tetap hancur meski bukan masalah tersebut pemicunya.

“Kalau kamu mau bertahan dan percaya padaku sedikit lagi...” pun pada pertemuan itu, ia masih saja bebal. “Keluargaku tidak akan membiarkan kita hancur, sayang...”

Aku ingat tidak lagi meresponsnya kala itu. Aku hanya menghela napas. Panjang sekali. Ingin rasanya aku berteriak bahwa akulah yang menghubungi Munir, rekan jurnalis kami, lalu menyerahkan bukti-bukti kebobrokan sistem, bukti-bukti suap, dan dokumen-dokumen pemalsuan terkait penyewaan, bahkan jual beli tanah desa atas nama pribadi trah Sungging. Sampai sekarang, aku masih berandai-andai apa yang akan terjadi apabila aku mengungkapkannya saat itu. Sidharta seperti apa lagi yang akan muncul di hadapanku? Yang suka memukul? Atau yang kasar tutur katanya? Aih, bagaimana bisa cinta membutakan Kembang Giriwani sampai sedemikian gelap? Hingga Dharta bisa menyembunyikan bagaimana sesungguhnya ia, dengan begitu sempurna. Tapi sudah lah. Toh kini, ia sudah tahu bahwa aku yang menusuknya dari belakang. Pun denganku yang sudah tahu bahwa dalang pendemo salah sasaran dan aksi pembakaran rumahku adalah dia. Kami, dengan cara brutal, berhasil membuat benang merah kecocokan lagi yang mungkin sama-sama membuat kami saling tertarik. Aku dan Dharta, sama-sama suka menjadi dalang.

“Bagaimana perasaan Dik Kembang setelah tahu Dharta di balik semua ini?” tanya Om Koro menelisik.

“Terkejut tetapi tidak juga. Kami memang jodoh, maksudku saat itu. Ternyata kemiripan kami sungguh mirip,” jawabku. “Oh ya, dibandingkan soal Dharta, aku lebih penasaran dengan Kamu. Untuk apa semua ini? Untuk apa kamu jauh-jauh datang ke Kalimati, bahkan sampai dua kali.”

Pertanyaan dadakan dan jujur ini tidak membikin wajah Om Koro berubah. Mimiknya biasa saja. Jelas ia menguasai filosofi Jawa: susah ditebak, apalagi ditelisik, merupakan jenis wajah lain dari trah Sungging. Dharta bertopeng prinsip padahal sesungguhnya ia anak mama dan Bu Erwin bertopeng malaikat padahal ia manusia–sebab manusia tak perlu serupa iblis untuk menjadi iblis, sedang Om Koro ini merupakan jenis manusia bertopeng abstrak. Menurutku, manusia jenis ini bisa jauh lebih berbahaya, atau justru sebaliknya, bisa sangat baik hingga di luar nalar kemanusiaan.

“Apa yang ada di benakmu, Dik?” ia malah balik bertanya, “maka itu lah saya.”

“Ada dua kemungkinan. Kamu memang baik, atau...”

Ia memotong. “Maaf saya memotong perkataan Dik Kembang. Sebabnya saya tidak ingin Dik Kembang malah pusing memikirkan ini itu tentang saya, padahal niat saya ingin meringankan beban. Jadi biar saya jelaskan langsung, tanpa ada maksud-maksud lain, tanpa ada yang disembunyi-sembunyikan.” Ia mengambil napas. “Saya iba sejak lama dengan Dik Kembang. Kalau Adik wanita biasa dengan pemikiran biasa, tentu saya tidak iba. Wanita seperti itu akan lancar-lancar saja memasuki trah Sungging. Tetapi sejak saya dikenalkan pertama kali oleh Dharta, saya tahu kalau Dik Kembang ini wanita berprinsip. Bahkan saya tahu sejak pertama bahwa kalian pada akhirnya akan berpisah. Dan dalam perpisahan ini, adik yang akan menerima konsekuensi besarnya. Yah, meskipun saya kaget juga, bahwa Dik Kembang, bukannya menghindari konsekuensi, justru mencipta konsekuensi itu menjadi lebih besar lagi. Sesuai namamu, Dik. Kamu sungguh berani. Saya jadi tambah iba.”

“Rasa iba itu, apakah cukup untuk membawa Om sampai ke Kalimati dan melakukan ini itu untuk aku?”

“Buktinya saya melakukannya juga. Artinya itu cukup.”

Ah, seolah aku ingin jawaban lain, aku masih kekeuh bertanya. “Masa? Kalau ini terjadi pada yang lain, apa Om akan iba juga?”

“Kebetulan saya tidak pernah menemui kasus lain. Dik Kembang yang pertama. Sepupu, adik, atau saudara lain memiliki istri atau suami yang saya rasa sangat fleksible prinsipnya.”

Lihat selengkapnya