Regresi

Magnific Studio
Chapter #19

Hancur-Hancuran!

Saat aku kembali dari mengantar Om Koro, Ayah masih terlelap. Tidurnya jadi lebih lama dari orang normal, tetapi kalau sudah terbangun, akan susah baginya untuk tidur lagi. Oleh sebab itu, aku berusaha sepelan mungkin saat melakukan aktivitas agar Ayah tidak bangun. Kalau Ayah sampai terbangun, aku pun dipastikan tidak akan bisa tidur sampai pagi.

Aku memeriksa pesan-pesan yang masuk ke pos-el ataupun ponsel. Menjelang malam, sinyal provider menjadi lebih lancar. Entah apa sebabnya. Menyoal internet di Kalimati, kehadiran teknologi tersebut baru bisa dinikmati orang-orang setahun terakhir setelah perusahaan provider terbesar di Indonesia membangun satu towernya di dusun sebelah. Dusun yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari Kalimati.

Aku menutup semua gawai setelah memastikan semua pesan sudah kutanggapi. Membalas pesan atau menanggapi diskusi grup adalah caraku memupuk benih-benih yang sudah kusemai di Dunturi. Aku tidak boleh abai agar tidak gagal panen nanti. Sebab pada regresi ketiga keluargaku pasca aku lahir ini, aku harus memotong siklusnya. Harus.

Ah, padahal tadi aku sudah mengantuk, tetapi ingatan soal regresi itu membuat pikiranku centang-perenang tak keruan. Kubiarkan benakku pasrah dibawa oleh mata tak kasat mata ke tahun 2008, saat regresi kedua menyeret kembali keluargaku ke dalam lubang kemunduran ekonomi.

***

“Harga kopi hancur-hancuran!” seru Ibu. “Sekarang kita diminta menanam kakao! Apa sebenarnya yang dimau orang-orang di atas sana? Membla-memble saja kerjanya. Setiap sepuluh tahun kita disuruh ganti kebun, gemblung!”

Keluhan Ibu ini terjadi menjelang aku menjadi siswi menengah atas. Gawat. Rencanaku untuk keluar lebih jauh dari Kalimati bisa gagal kalau begini. Paling tidak, aku ingin sekolah di ibu kota provinsi. Artinya di kota Palembang. Atau paling muluk, bisa sekolah di Jawa. Jepang pun tak masalah, asal tidak dekat-dekat dengan Kalimati. Aku ingin sekali melihat dunia fantastis yang kata Bu Mardiah hanya ada di luar Kalimati.

“Memangnya kenapa kalau kopi murah? Kalau harus menanam kakao?” tanyaku mula-mula.

“Kok tanya mengapa. Ya kita ikut hancur-hancuran! Kerja siang malam sampai melengkung hampir patah punggungku dan punggung ayahmu, tapi tidak pernah punya tabungan. Ludes melulu!” Ibu tambah bersungut. Kulirik Ayah. Ia beringsut hendak meninggalkan rumah. Mungkin telinganya mulai pekak mendengar keluhan Ibu yang akhir-akhir ini dilakukan saban hari.

Aku hendak menanggapi, tapi Ibu kembali bicara. “Setiap panen hanya cukup untuk menyambung hidup sampai panen berikutnya. Itu kalau musimnya bagus, kalau tidak, kamu sendiri sudah sering mengalaminya.”

“Mengalami apa?”

Ibu melotot. “Ya itu tadi! Hancur-hancuran!”

Ayah sudah tidak ada di tempatnya. Ia berhasil kabur. Sedang aku, pokoknya tidak mau gagal keluar dari Kalimati. “Bagaimana dengan sekolahku?” langsung kulontarkan pertanyaan inti saja.

“Kau sudah bosan sekolah?” Ibu masih melotot dan malah balik bertanya dengan nada mengancam.

Aku lekas menggeleng. “Aku mau sekolah yang lebih bagus, yang jauh dari Kalimati.”

Lihat selengkapnya