Ladang jali-jali kami bersemi indah di Kalimati. Begitu juga dengan ladang pergerakan yang sedang kurawat di Dunturi. Kalau di Kalimati aku dibantu Nene, maka di Dunturi, ada Om Koro, Timoteus serta ratusan kawan mahasiswanya, kawan-kawan Eaglewatch, dan Munir si jurnalis yang membantuku tanpa diminta. Semua bergerak dengan tujuan sama, yakni panen raya. Kadang-kadang, Nene yang cerdas itu bertanya begini kepadaku:
“Sebetulnya apa sih yang sedang kamu lakukan selain merawat ayahmu, mencari pakis, berburu remis di kali, dan meladang jali-jali, Wani? Mengapa kamu sering dikunjungi tamu yang bentuknya aneh-aneh?”
“Aneh bagaimana?”
Nene mengangkat bahunya sambil berkata, “Entahlah, tamu-tamumu itu terlihat aneh di mataku.”
***
Om Koro datang lagi seminggu sebelum panen. Itu kedatangan kelimanya. Berita yang ia bawa masih macam-macam, hanya saja aku sudah kebal dan sama sekali tidak terkejut. Berita bagus yang ia bawa ialah soal diterimanya tuntutan koalisi masyarakat sipil desa Dunturi untuk menuntut pencopotan seluruh jabatan yang diemban oleh trah Sungging di pemerintahan. Tidak hanya itu, mereka juga melaporkan semua oknum yang terlibat dalam kasus korupsi bersama Dharta, bahkan jauh sebelum ia berkuasa sebagai lurah. Artinya, kakek buyutnya yang sudah jadi tanah pun ikut kena tuntut. Dan itu mesti dilakukan, kataku pada Om Koro waktu itu. Sebab efeknya bisa luar biasa bagi masyarakat, karena orang Jawa terbiasa menghapus dosa-dosa orang mati meski yang mati sedang terlibat kasus-kasus seperti pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, apalagi kasus korupsi yang dianggap ‘tidak lebih berat dari kasus pembunuhan’. Dengan menyeret nama-nama yang sudah mati itu, kami akan mengajari masyarakat bahwa kematian tidak menjadi soal karena warisan busuk mereka semasa hidup akan tetap hidup kalau tidak segera dimatikan di pengadilan orang hidup. Warisan busuk itu bahkan akan terus mengakar sampai anak-cucu kalau dibiarkan.
“Saya bahkan tidak pernah berani untuk berpikir demikian, Bu, menyeret nama-nama mereka ke peradilan orang hidup padahal mereka sudah mati,” ungkap Timoteus Uri pada suatu hari dalam kunjungannya ke Kalimati bersama jurnalis Munir.
***
Mula-mula, koran lokal tempat Munir bekerja memuat semua bukti-bukti korupsi trah Sungging yang aku kumpulkan selama ini, lalu mengaitkannya dengan sistem yang sesungguhnya juga terjadi di seluruh Indonesia. Sistem yang sering dikambinghitamkan oleh orang-orang berwatak korup untuk menjalankan aksinya. Lalu, berita itu dinaikkan sampai tingkat kota. Buzzer disewa oleh Om Koro untuk memupuk algoritma pemberitaan di media sosial, hingga berita terus naik menjadi nasional. Saat itulah, gugatan dilayangkan. Tim Eaglewatch bersama Om Koro mendesak penyidikan atas semua aset dan dokumen keluarga Sungging yang sedang maupun pernah berkuasa.
Sementara itu, warga sipil di tingkat RT mulai terpancing saat pemberitaan tentang mega korupsi dana kas desa, praktik mafia tanah, dan praktik-praktik suap yang terjadi selama puluhan tahun di desa mereka terus bergulir di layar gawai. Mahasiswa bersama Timoteus menyebar selebaran di jalanan, menempelnya di dinding-dinding rumah warga, hingga sudut-sudut pasar. Selebaran itu semula berisi ajakan untuk menelisik lebih serius mengenai perkara yang sedang menjerat pemerintahan daerah mereka, lalu puncaknya, saat masyarakat sudah mulai peka dan percaya, selebaran akan diisi dengan ajakan protes langsung ke jalan agar kasus mega korupsi tersebut segera ditangani dan diusut tuntas.
Aku, Kembang Giriwani, bagai jenderal perang yang mengatur strategi dari tanah pengasingan, terus merawat kedua ladang dengan gigih demi memutus penyakit siklik regresi sang kepala yang terus menjerat keluargaku khususnya, dan keluarga-keluarga lain pada umumnya. Entah apa yang akan terjadi padaku di depan, yang jelas, pertarungan ini tidak boleh berhenti sebab aku harus maju lagi ke tingkat yang lebih tinggi, tingkat di mana aku–si buntut–bisa berhadapan langsung dengan kepala yang paling kepala.
***
“Kar! Kar! Kartik! Bawa akuuu!” seru Ayah saban hari menjelang panen raya.
***
“Pengadilan menolak gugatan kepada mereka yang sudah mati, Dik. Tapi Adik tenang saja, gugatan kepada yang hidup terus berjalan,” kata Om Koro dari balik telepon.
“Besok hari putusannya, ya?” tanyaku.
“Betul. Adik bisa melihatnya di televisi, eh, maaf, bukan di televisi karena mereka semua menolak meliput sidang fenomenal ini.”