Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #1

Episode 1 - The Beginning

Pada suatu malam pukul sebelas lewat tiga puluh Seorang pemuda berusia 29 tahun bernama Kaito Haru telah keluar dari stasiun kemudian hujan yang turun sejak sore akhirnya berhenti, menyisakan trotoar basah dan udara malam yang lebih dingin daripada biasanya. Cahaya papan toko memantul di jalan, sementara orang-orang yang baru turun dari kereta bergerak ke arah masing-masing dengan langkah cepat. Kaito berhenti sebentar di bawah kanopi stasiun dan melihat langit. Tidak ada tanda-tanda hujan akan turun lagi. Itu kabar bagus karena payungnya tertinggal di kantor dan ia baru menyadarinya ketika kereta sudah berjalan dua stasiun.

Apartemennya hanya berjarak sekitar lima belas menit dengan berjalan kaki. Kalau terburu-buru, ia bisa memangkasnya menjadi sepuluh, tetapi malam ini tidak ada alasan untuk melakukan itu. Besok Sabtu. Tidak ada alarm pagi, tidak ada kereta yang harus dikejar, dan tidak ada laporan yang perlu disentuh setidaknya sampai Senin. Di usia dua puluh sembilan tahun, akhir pekan bagi Kaito sudah tidak lagi berarti rencana perjalanan atau kegiatan khusus. Bisa bangun tanpa alarm sudah cukup untuk disebut rencana.

Ia berjalan menyusuri deretan toko yang sebagian besar sudah tutup. Sebuah restoran yakiniku masih menyisakan aroma daging panggang di udara meski kursi-kursinya sedang dibereskan. Kaito sempat melirik ke dalam, lalu meneruskan langkah. Perutnya mulai protes setelah makan malamnya hanya berupa roti isi dari mesin penjual otomatis sekitar pukul tujuh. Beberapa meter kemudian ada kedai gyudon yang masih buka, tetapi antreannya cukup panjang untuk membuatnya kehilangan minat.

Minimarket di ujung blok menjadi pilihan berikutnya. Saat pintunya terbuka, bunyi penanda terdengar dari atas.

“Selamat malam.”

Pegawai di belakang kasir mengucapkannya tanpa banyak tenaga. Kaito mengambil keranjang kecil dan menuju rak makanan. Ia sempat memegang satu kotak bento yang mendapat diskon tiga puluh persen, memeriksa tanggal konsumsi, lalu hampir memasukkannya ke keranjang sebelum matanya beralih ke rak di sebelahnya.

Mi instan.

Kaito menatap bento di tangannya sebentar, lalu mengembalikannya.

Mi instan masuk ke keranjang sebagai gantinya. Dua butir telur, sebungkus daun bawang potong, dan sebotol teh dingin menyusul setelah itu. Ia menambahkan satu bungkus keripik kentang dengan niat menyimpannya untuk besok, meski pengalaman mengatakan kemungkinan besar bungkus itu akan dibuka sebelum tidur. Di kasir, pegawai yang tadi menyapanya memindai barang satu per satu. “Perlu kantong plastik?”

“Satu saja.”

“Sendok atau sumpit?”

“Sumpit.”

Kaito sebenarnya punya beberapa pasang sumpit di apartemen, tetapi menggunakan yang sekali pakai berarti satu benda lebih sedikit untuk dicuci nanti. Selisihnya memang tidak seberapa, tetapi setelah seharian bekerja, hal kecil seperti itu terasa cukup masuk akal.

Ia membayar dengan ponsel, menerima kantong belanjaannya, lalu keluar dari minimarket. Jalanan semakin sepi. Sesekali ada mobil lewat di jalan utama, dan seorang pengendara sepeda melintas dari arah berlawanan dengan lampu kecil berkedip di bagian belakang. Kaito tidak terlalu memperhatikan apa pun. Pikirannya sudah lebih dulu sampai di rumah, terutama pada mandi air hangat dan makan malam yang tidak membutuhkan banyak usaha.

Bangunan apartemennya berada dua blok dari sana. Gedung itu bukan tempat yang bagus atau buruk, hanya cukup layak untuk seseorang yang tinggal sendiri dan tidak terlalu peduli pada pemandangan dari balkon. Saat masuk ke lobi, Kaito melihat lift sedang berada di lantai tujuh. Angkanya turun sampai lima, berhenti cukup lama, lalu naik lagi ke enam.

Kaito melihat tangga di sebelahnya dan memilih naik lewat sana.

Empat lantai masih lebih cepat daripada menunggu lift yang entah sedang dipakai siapa.

Begitu sampai di depan unitnya, ia sempat salah mengambil kunci sebelum menemukan yang benar. Pintu akhirnya terbuka dan Kaito masuk sambil membawa kantong belanjaan di satu tangan.

“Aku pulang.”

Tidak ada jawaban.

Tentu saja tidak ada.

Ia tinggal sendiri sejak beberapa tahun terakhir, tetapi kebiasaan mengucapkan kalimat itu tidak pernah benar-benar hilang. Kaito juga tidak merasa perlu menghilangkannya.

Ia menaruh belanjaan di meja dapur, melepas sepatu, lalu menggantung jas kerjanya. Dasi sempat dilempar ke sofa sebelum ia mengambilnya kembali dan ikut menggantungkannya. Kalau dibiarkan di sana malam ini, kemungkinan besar dasi itu akan tetap berada di tempat yang sama sampai Senin pagi.

Ponselnya bergetar tepat ketika Kaito hendak masuk ke kamar mandi.

Pesan dari grup kantor.

Ia membuka notifikasi dan membaca baris pertama tentang revisi dokumen yang perlu diperiksa hari Senin. Kaito langsung menutupnya dan meletakkan ponselnya ke atas meja lalu membawa pakaian ganti ke kamar mandi. Air hangat membantu menghilangkan rasa lengket setelah perjalanan pulang, meski lima belas menit kemudian ia keluar dengan rambut yang masih setengah basah karena tidak sabar mengeringkannya sampai benar-benar kering. Ia mengenakan kaus abu-abu dan celana rumah, lalu menyalakan pendingin ruangan sebelum kembali ke dapur.

Kantong belanjaannya masih berada di tempat semula. Kaito mengeluarkan mi instan, telur, dan daun bawang, sedangkan teh dingin langsung masuk ke kulkas. Keripik kentang ia taruh di atas meja dengan niat menyimpannya untuk besok.

Niat itu belum tentu bertahan sampai tengah malam.

Kaito mengisi panci kecil dengan air lalu menyalakan kompor. Selama menunggu mendidih, ia mengambil mangkuk dan menyiapkan bumbu. Tidak ada yang istimewa dari makan malamnya. Ia bahkan memilih mi instan karena tidak ingin memikirkan masakan apa yang harus dibuat setelah hampir seharian berada di kantor.

Ketika air mulai mendidih, telur masuk lebih dulu. Mi menyusul beberapa saat kemudian. Kaito menunggu sampai teksturnya sesuai selera, menuangkan sedikit air rebusan ke mangkuk untuk melarutkan bumbu, kemudian memindahkan sisanya bersama telur. Daun bawang menjadi tambahan terakhir.

Ia melihat hasilnya sebentar.

“Lumayan.”

Mangkuk dibawa ke meja rendah di depan televisi. Kaito mengambil teh dari kulkas, duduk, lalu menyalakan televisi sambil membuka sumpit sekali pakai yang didapatnya dari minimarket.

Beberapa saluran dilewati sebelum ia berhenti pada acara tentang renovasi rumah tua. Ia tidak memiliki ketertarikan khusus pada bangunan, tetapi acara semacam itu cukup mudah diikuti tanpa harus benar-benar memperhatikan.

Kaito mengambil suapan pertama dan langsung menyesal karena masih terlalu panas. Ia berhenti mengunyah beberapa detik, lalu melanjutkan dengan lebih hati-hati.

Telurnya matang sesuai keinginan. Kuningnya masih lembut ketika dibelah dengan sumpit.

Setidaknya ada satu hal malam ini yang berjalan tepat.

Ponselnya bergetar lagi dari atas meja. Kaito melirik layar dan melihat notifikasi aplikasi belanja yang memberitahukan potongan harga untuk barang yang pernah dimasukkannya ke keranjang.

Bantal leher.

Ia bahkan tidak ingat kapan tertarik membelinya.

Kaito menghapus notifikasi itu dan kembali makan.

Acara renovasi berlanjut ke bagian ketika para pekerja membongkar salah satu dinding rumah. Kayu penyangga di dalamnya sudah lapuk dan harus diganti seluruhnya. Pemilik rumah tampak cukup terkejut melihat kondisinya.

Kaito mengangkat mangkuk sedikit agar lebih mudah mengambil mi yang tersisa. Ia tidak begitu mengerti kenapa orang itu kaget. Rumahnya sudah berdiri lebih dari enam puluh tahun. Kalau semua bagian di dalam dinding masih sempurna, justru itu yang aneh.

Lihat selengkapnya